SUARA INDONESIA

Estafet Tubuh Menari Satukan 20 Seniman dan 35 Komunitas Tari

Dona Pramudya - 29 April 2026 | 13:04 - Dibaca 234 kali
Budaya Estafet Tubuh Menari Satukan 20 Seniman dan 35 Komunitas Tari
Sawung Dance School (Foto: Dona Pramudya/Suara Indonesia)

SUARA INDONESIA, SURABAYA — Selama 15 jam tanpa jeda, tubuh-tubuh penari terus bergerak dalam satu alur yang tidak terputus. Inilah yang terjadi dalam perhelatan “Estafet Tubuh Menari” yang digelar UKM Tari Universitas Negeri Surabaya (UNESA) untuk memperingati World Dance Day 2026, pada 27 April 2026.

Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 07.00 hingga 22.00 WIB ini menjadi program utama perayaan Hari Tari Sedunia di lingkungan kampus sekaligus menghadirkan format pertunjukan yang berbeda dari biasanya: estafet gerak antar penari dalam satu rangkaian berkelanjutan.

Konsep estafet diangkat sebagai metafora tubuh yang saling terhubung. Setiap penari tidak tampil sebagai individu yang terpisah, melainkan menjadi bagian dari aliran energi, memori, dan pengalaman yang berpindah dari satu tubuh ke tubuh lainnya.

Lebih dari 20 seniman tari tampil secara solo, namun terikat dalam satu kesinambungan artistik. Pergantian penari berlangsung tanpa jeda, menciptakan pertunjukan yang terus mengalir sepanjang hari.

Sejumlah nama turut meramaikan panggung, di antaranya Hari Ghulur sebagai seniman tari kontemporer internasional, Batara Sawerigadi yang dikenal melalui ajang Indonesia Mencari Bakat, I Nengah Mariasa sebagai penari sekaligus dosen seni tari Bali, Dimas Bagus atau Dimas Bapang yang dikenal sebagai maestro Tari Topeng Bapang, serta Sekar Alit yang juga bertindak sebagai direktur artistik.

Tak hanya melibatkan individu, kegiatan ini juga diikuti lebih dari 35 sanggar dan komunitas tari dari berbagai wilayah di Jawa Timur. Partisipasi tersebut menjadikan acara ini sebagai ruang temu lintas generasi, sekaligus memperkuat jejaring pelaku seni tari di tingkat regional.

Direktur artistik kegiatan, Sekar Alit, menegaskan bahwa konsep yang dihadirkan tidak hanya berfokus pada pertunjukan, tetapi juga pengalaman kolektif antar penari.

“Estafet Tubuh Menari adalah upaya untuk merayakan tubuh sebagai ruang perjumpaan. Energi, memori, dan semangat menari tidak berhenti di satu individu, tetapi terus diwariskan antar tubuh,” ujarnya.

Menurutnya, pendekatan ini sekaligus menjadi cara untuk memperluas pemahaman publik terhadap seni tari sebagai praktik yang hidup dan dinamis.

Melalui perhelatan ini, UKM Tari UNESA menargetkan penguatan ekosistem seni tari di Jawa Timur, termasuk membuka ruang dialog antar seniman serta mendorong kolaborasi lintas komunitas.

Perayaan World Dance Day 2026 ini tidak hanya menghadirkan tontonan, tetapi juga menegaskan bahwa seni tari mampu menjadi medium kolektif yang menyatukan beragam ekspresi dalam satu panggung yang berkelanjutan.

» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA

Pewarta : Dona Pramudya
Editor : Alfiana Putri

Share:

Komentar & Reaksi

Berita Terbaru Lainnya

Featured SIN TV