SUARA INDONESIA

Respons Curhatan PGRI, PWI Bangkalan Sarankan Laporkan Oknum Ngaku Wartawan

Moh.Ridwan - 28 March 2024 | 19:03 - Dibaca 761 kali
News Respons Curhatan PGRI, PWI Bangkalan Sarankan Laporkan Oknum Ngaku Wartawan
Ilustrasi peran dan fungsi pers Indonesia. (Foto: Istimewa)

SUARA INDONESIA, BANGKALAN - Keresahan yang dirasakan Pengurus Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Bangkalan, memantik reaksi Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bangkalan, Jawa Timur, Mahmud Ismail. 

Curhatan yang disampaikan pengurus PGRI Bangkalan tentang keberadaan oknum wartawan sekaligus mengaku LSM yang meresahkan, seharusnya juga dilaporkan ke aparat penegak hukum. Sebab, tindakan pemerasan dan intimidasi merupakan bagian dari kriminal.

“Profesi kami wartawan, jelas bukan kriminal. Jika ada yang seperti itu, laporkan ke polisi. Tentu itu ulah oknum. Kami juga siap membantu,” sarannya, Kamis (28/3/2024).

Mahmud Ismail menyampaikan, tindakan oknum wartawan yang mengatasnamakan profesi untuk mencari keuntungan tentu tidak dibenarkan. Apalagi, jika ada tindakan pemerasan. Pejabat publik di Bangkalan tentu sudah bisa menilai dan mengetahui, mana yang benar-benar wartawan dan yang hanya menggunakan nama wartawan. 

Menurutnya, pemkab Bangkalan perlu memperketat dan tegas soal pendidikan literasi pegawainya. Supaya jika didatangi oknum yang hanya mengaku wartawan, bisa tegas menolak. Ada aturan tentang profesi kewartawanan, mulai dari kompetensi wartawan dan media terverifikasi kominfo ataupun dewan pers.

Sebelumnya, Sekjen PGRI Bangkalan Suraji mengaku resah atas teror dan pemerasan oknum mengaku LSM dan wartawan. Sebab, mereka mendatangi sekolah-sekolah. Apalagi, oknum wartawan ke sekolah menulis berita tanpa konfirmasi, sehingga pemberitaan cenderung negatif.

Tak hanya itu, oknum yang mengaku wartawan dan LSM itu juga kadang datang ke sekolah menjual kaos, kalender, atau majalah. Jika tidak dibeli, pihak sekolah diancam akan diberitakan negatif. Bahkan, harga kaosnya sekitar Rp150 ribu. Itu tidak hanya sekali datang, melainkan sudah berulang.

Kondisi tersebut dapat mengganggu kondusivitas lingkungan pendidikan di sekolah. Para guru merasa dirugikan lantaran tidak fokus dalam aktivitas pembelajaran.

“Kalau datang baik-baik kami tidak masalah, tetapi kalau selalu mengintimidasi, kami juga tidak nyaman,” keluh Suraji. (*)

» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA

Pewarta : Moh.Ridwan
Editor : Mahrus Sholih

Share:

Komentar & Reaksi

Berita Terbaru Lainnya

Featured SIN TV