SUARA INDONESIA

Tak Kunjung Terselesaikan, Puluhan Tahun Limbah Cair Dibuang ke Aliran Sungai Sat Magetan

Prabasonta - 08 May 2024 | 10:05 - Dibaca 1.05k kali
News Tak Kunjung Terselesaikan, Puluhan Tahun Limbah Cair Dibuang ke Aliran Sungai Sat Magetan
Hitam pekat, berbusa dan berbau. Beginilah dampak pembuangan limbah cair penggilingan penyamakan kulit di aliran Sungai Sat Desa Mojopurno, Kecamatan Ngariboyo, Kabupaten Magetan. (Foto: Yoni Setyo R/Suara Indonesia)

SUARA INDONESIA, MAGETAN - Puluhan tahun masalah limbah cair dari perajin penyamakan kulit di Desa Mojopurno, Kecamatan Ngariboyo, Kabupaten Magetan, tak kunjung terselesaikan. Setiap hari, warga disuguhkan bau menyengat serta warna air sungai hitam pekat dan berbusa di aliran Sunga Sat, desa setempat.

Warga yang bermukim di sepanjang aliran Sungai Sat ini, sudah berpuluh-puluh kali komplain pada pihak desa maupun instansi terkait, akibat dampak pembuangan limbah cair dari gilingan para perajin penyamakan kulit di desa tersebut.

Sebab, limbah cair dari gilingan kulit dibuang langsung ke aliran sungai, sehingga bau menyengat sudah terendus dari radius 20 meter.

Apalagi di saat musim kemarau. Selain bau menyengat, air keruh berwarna hitam pekat serta berbusa dan nyamuk menyerah ke rumah-rumah warga. Dampak dari limbah cair pembuangan gilingan kulit sapi dan kambing dari sekitar 20 perajin penyamakan kulit yang dibuang langsung ke aliran Sungai Sat, juga berakibat buruk pada ekosistem air tawar.

Pantauan Suara Indonesia di lapangan, tak ada ekosistem air tawar, khususnya ikan yang terlihat di sejumlah titik yang berada di sepanjang aliran Sungai Sat tersebut.

"Kami sebenarnya sudah berulang kali mengeluh terkait limbah cair gilingan kulit dari para perajin kulit di desa ini, karena mereka membuang langsung ke aliran sungai, sehingga warna air sungai menjadi hitam pekat serta berbusa dan baunya cukup menyengat," kata Purwanto, Ketua RW 02, Dukuh Tugu, Desa Mojopurno.

Pembuangan limbah cair penggilingan perajin kulit tersebut, sebenarnya sudah berlangsung 25 tahun lebih. Namun hingga kini, belum ada solusi maupun penyelesaian dari pihak terkait. Sehingga warga mengeluh dengan kejadian tersebut.

"Saya sangat terganggu dengan bau menyengat limbah ini. Dan kejadian seperti ini, sudah berlangsung puluhan tahun. Setiap di rumah maupun saat pergi ke sawah, saya dan warga selalu mencium bau menyengat," tutur Lasmi, salah satu warga setempat.

Warga berharap, pihak pemerintah desa maupun instansi terkait, mencarikan solusi agar para perajin kulit tidak membuang limbah cair hasil penggilingan ke aliran sungai secara langsung. Selain itu, untuk mengatasi persoalan tersebut, baik perajin maupun pihak desa agar membuat penampungan yang dijadikan satu tempat, sehingga persoalan tersebut tidak berlarut-larut.

Apalagi para perajin atau pengusaha penyamakan kulit sapi dan kambing di daerah ini, rata-rata ekonominya menengah ke atas, sehingga menurut warga, ketika ada usulan pembuatan bak penampungan limbah cair, tidak memberatkan bagi mereka. (*)

Reporter: Yoni Setyo R

» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA

Pewarta : Prabasonta
Editor : Mahrus Sholih

Share:

Komentar & Reaksi

Berita Terbaru Lainnya

Featured SIN TV