SUARA INDONESIA

Siswa di Surabaya Tampilkan Identitas Indonesia Lewat Gelaran Live Art Thalassie 2026

Jefri Hadi - 04 June 2026 | 20:06 - Dibaca 176 kali
News Siswa di Surabaya Tampilkan Identitas Indonesia Lewat Gelaran Live Art Thalassie 2026
Gelaran Live Art Thalassie 2026 karya siswa Rever Academy tampilkan 10 Future Artist Professional Make-up Artistry dan Professional Hair Design. (Foto: Yulian/suaraindonesia.co.id)

SUARA INDONESIA, SURABAYA - Karya art futuristik dan penuh makna dari tangan para seniman muda, ombak laut tidak lagi sekadar gelombang air yang berkejaran di bibir pantai. 

Ombak menjelma menjadi sanggul artistik yang menyimpan cerita tentang ketenangan, kekuatan, dan perjalanan hidup. Begitu pula mahkota imajinatif yang teranyam dari helai rambut, hadir sebagai simbol kebebasan berekspresi dan keberanian menjadi diri sendiri.

Narasi-narasi itulah yang hidup dalam gelaran Live Art Thalassie 2026, ajang unjuk karya siswa Rever Academy yang menghadirkan 10 Future Artist dalam kategori Professional Make-up Artistry dan Professional Hair Design, Kamis (4/6/2026).

“Ini adalah ajang unjuk karya. Kami memberikan kebebasan kepada setiap peserta untuk memilih konsep yang ingin mereka tonjolkan sesuai karakter dan kreativitas masing-masing,” ujar Art Director Rever Academy, Marina Adia.

Ia mengatakan bahwa setiap karya yang ditampilkan lahir dari proses pencarian identitas dan kebebasan berekspresi para siswa.

Karna itu, di tengah dominasi tren kecantikan global yang banyak dipengaruhi budaya Korea Selatan dan Barat, ia meyakinkan para siswi calon seniman ini justru melepas kebebasan memilih menengok kembali akar budaya dan kekayaan alam Indonesia sebagai sumber inspirasi utama. 

"Mereka tidak sekadar merias wajah atau menata rambut, tetapi menerjemahkan cerita, emosi, dan identitas Nusantara ke dalam karya visual yang memiliki karakter kuat," ungkap Marina.

Marina melanjutkan, diantara kebebasan itulah yang melahirkan beragam interpretasi artistik. Ada yang terinspirasi dari lautan, ada yang mengangkat filosofi kebangkitan diri, hingga menggambarkan transformasi kehidupan melalui bentuk-bentuk artistik yang tidak biasa.

Salah satu karya yang menarik perhatian adalah “Whisper of the Ocean” karya Margaretha Johanna. 

Melalui permainan bentuk dan tekstur rambut, ia menghadirkan gambaran laut yang tenang sekaligus menyimpan misteri. 

Karya tersebut seolah mengajak penonton mengingat kembali hubungan panjang masyarakat Indonesia dengan laut yang selama berabad-abad menjadi sumber kehidupan.

Inspirasi serupa juga tampak pada sejumlah karya hair design lainnya yang menempatkan alam sebagai sumber gagasan utama. 

Dalam konteks budaya Indonesia, alam bukan sekadar objek visual, melainkan ruang tempat manusia belajar tentang keseimbangan, keteguhan, dan harmoni.

Selanjutnya, nuansa inspirtif milik Sri Wahyuni menghadirkan “Celestial Woven Crown”, sebuah karya hair art berbentuk mahkota imajinatif yang merepresentasikan kekuatan perempuan dan kebebasan dalam mengekspresikan diri. 

Bentuknya yang unik mengingatkan pada kerajinan tradisional Nusantara yang selama ini dikenal kaya akan detail dan filosofi.

Di sisi lain, karya “Rising From The Ashes” milik Thesalonica Rajagukguk membawa pesan tentang keberanian bangkit setelah kegagalan. 

Melalui tatanan rambut avant-garde yang dramatis, ia menggambarkan perjalanan seseorang menemukan kembali kekuatan dalam dirinya.

Bagi Marina, setiap karya memiliki cerita yang berbeda karena dibangun dari pengalaman, pemikiran, dan interpretasi masing-masing peserta.

“Kalau semua orang mengikuti tren yang sama, hasilnya akan seragam. Padahal setiap orang harus memiliki ciri khas agar bisa bertahan dan berkembang dalam industri kreatif,” katanya.

Pendekatan tersebut menjadi ciri khas pembelajaran di Rever Academy. Para siswa tidak hanya dilatih menguasai teknik tata rias dan tata rambut, tetapi juga diajak memahami bagaimana sebuah karya dapat menyampaikan pesan dan identitas.

Hal serupa terlihat pada kategori Professional Make-up Artistry bertema Beauty Bridal. Melalui konsep “Modern Gorgeous Bride”, Evangeline Santoso menghadirkan kecantikan pengantin modern yang tetap menonjolkan kesan alami. 

Sementara Genevieve Elleonora Yohans melalui “Sparkling Glam” menampilkan interpretasi tentang kemewahan dan rasa percaya diri perempuan masa kini.

Adapun Irma Maulana Wulandari dalam “Glimpse of Silver Dust” memadukan nuansa magis dan karakter kuat melalui dominasi warna perak dan detail kristal.

Perbedaan karya lain juga ditujukkan Ledy Sesilia Limber menghadirkan “The Sculpted Bride” dengan penekanan pada struktur wajah yang tegas, sedangkan Novita Maulana mengangkat konsep “The Golden Ratio Glow” yang menonjolkan keseimbangan proporsi wajah dan pancaran kecantikan yang elegan.

Menurut Marina, seluruh karya tersebut menunjukkan bahwa dunia kecantikan tidak semata-mata berbicara tentang keterampilan teknis, tetapi juga kemampuan membaca budaya, memahami emosi, dan mengolah inspirasi menjadi karya yang memiliki makna.

“Indonesia memiliki begitu banyak budaya yang bisa diangkat. Kami ingin siswa menjadi inspirator dan trendsetter, bukan hanya mengikuti tren yang sedang populer,” ujarnya.

Semangat itu pula yang ingin terus ditanamkan kepada para siswa, sebut Marina. Apalagi saat ini arus globalisasi yang membuat berbagai tren bergerak begitu cepat, Rever Academy berupaya melahirkan generasi kreator yang mampu berdiri dengan identitasnya sendiri.

Marina mengungkapkan, karya artistik sejumlah alumni telah berkarier di industri kecantikan internasional, bahkan ada yang berhasil membuka salon di Sydney, Australia.

"Karya-karya siswa juga pernah mendapat perhatian komunitas kecantikan dunia dan tampil dalam majalah ternama Estetica Italia," jelasnya.

Terwujudnya pencapaian itu, kata Marina bukan sekadar soal prestasi. Justru lahirnya keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa budaya Indonesia memiliki ruang yang luas untuk diterjemahkan ke dalam karya kreatif yang relevan, modern, dan mampu bersaing di panggung global.

Menurutnya, dari ombak yang mengajarkan ketenangan hingga mahkota imajinatif yang melambangkan kebebasan, para Future Artist Rever Academy menunjukkan bahwa identitas Indonesia tidak pernah kehabisan cerita untuk dihidupkan kembali. 

"Melalui tangan-tangan kreatif generasi muda, warisan budaya itu menemukan bentuk baru yang segar, sekaligus membuka jalan menuju panggung dunia," tutup Marina. (*)

» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA

Pewarta : Jefri Hadi
Editor : Alfiana Putri

Share:

Komentar & Reaksi

Berita Terbaru Lainnya

Featured SIN TV