SUARA INDONESIA, MANDAILING NATAL - Ratusan tamu undangan memadati kediaman Ketua Lembaga Adat dan Budaya Ranah Nata (LABRN), Ali Anapiah, di Desa Sasaran, Kecamatan Natal, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), untuk menghadiri pesta pernikahan putrinya pada Sabtu (6/6/2026).
Pernikahan tersebut berlangsung meriah dan penuh khidmat dengan balutan adat Natal yang masih dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat setempat.
Sejumlah tokoh adat, tokoh masyarakat, unsur pemerintahan, kerabat, serta keluarga besar kedua mempelai tampak hadir memberikan doa restu.
Sejak pagi hari, rangkaian prosesi adat telah dilaksanakan sesuai tradisi yang berlaku di Ranah Nata. Kehadiran para ninik mamak dan pemangku adat menambah kekhidmatan acara yang menjadi simbol kuatnya pelestarian budaya di tengah perkembangan zaman ini.
Salah satu prosesi yang menarik perhatian para tamu adalah pertunjukan Bapancak atau Basilek, yakni seni bela diri tradisional khas masyarakat Natal yang disuguhkan saat rombongan pengantin pria memasuki rumah mempelai perempuan.
Dalam pertunjukan tersebut, dua pendekar adat memperagakan gerakan silat yang lincah dan penuh makna filosofis di hadapan kedua mempelai serta para undangan.
Tradisi Bapancak atau Basilek tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga melambangkan penghormatan, keberanian, serta doa keselamatan bagi kedua mempelai yang akan memulai kehidupan rumah tangga.
Suasana semakin semarak ketika para tamu berkerumun menyaksikan atraksi silat tradisional yang diiringi tabuhan alat musik khas daerah.
Prosesi tersebut mendapat sambutan hangat dari masyarakat yang hadir dan menjadi salah satu bagian penting dalam rangkaian adat pernikahan masyarakat Natal.
Ketua LABRN, Ali Anapiah, mengungkapkan rasa syukur atas terselenggaranya pernikahan anaknya dengan lancar dan penuh kebahagiaan.
"Alhamdulillah, kami sekeluarga mengucapkan terima kasih kepada seluruh tamu undangan yang telah hadir dan memberikan doa restu kepada kedua mempelai. Semoga mereka menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah," ujarnya.
Menurutnya, pernikahan bukan hanya menyatukan dua insan dalam ikatan suci, tetapi juga menjadi momentum mempererat tali silaturahmi antar keluarga dan masyarakat sekaligus mempertahankan warisan adat dan budaya yang telah diwariskan oleh para leluhur.
Dalam prosesi tersebut, para tokoh adat turut menyampaikan petuah kepada kedua mempelai agar senantiasa menjaga keharmonisan rumah tangga, menjunjung tinggi nilai agama, serta tetap menghormati adat istiadat yang berlaku di tengah masyarakat.
Suasana resepsi berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan. Para tamu undangan tampak antusias mengikuti seluruh rangkaian acara hingga selesai.
Tradisi Bapancak atau Basilek yang ditampilkan dalam acara tersebut menjadi bukti bahwa nilai-nilai adat masih hidup dan tetap dijaga oleh masyarakat Ranah Nata hingga saat ini. (*)
» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA
| Pewarta | : Rudi Erianto |
| Editor | : Alfiana Putri |
Komentar & Reaksi