SUARA INDONESIA, MALANG - Kecamatan Bululawang kini tengah bersiap mempertegas posisinya sebagai "Gerbang Wisata" Kabupaten Malang.
Memiliki letak geografis yang strategis sebagai penghubung utama antara Kota Malang menuju destinasi wisata pesisir selatan dan wilayah timur, Bululawang berkomitmen untuk tidak lagi sekadar menjadi jalur perlintasan.
Camat Bululawang, Hanindyo Daryawan Putrantyo, menegaskan visi transformatifnya untuk menjadikan wilayah ini sebagai "Teras Depan" yang mampu memikat wisatawan agar mau berhenti dan singgah.
"Harapan kami, Bululawang tidak boleh hanya menjadi jalur perlintasan. Kita harus bertransformasi menjadi 'Teras Depan' yang mampu membuat wisatawan singgah. Caranya dengan memperkuat UMKM lokal dan mengoptimalkan aset sejarah seperti Talang Air peninggalan Belanda menjadi ikon wisata yang berkarakter," ujar Hanindyo kepada Suara Indonesia, Jumat (24/4/2026).
Kekuatan Sejarah dan Industri
Potensi wisata sejarah memang menjadi magnet tersendiri bagi Bululawang. Salah satu yang paling menonjol adalah Wisata Talang Bululawang, sebuah jembatan air peninggalan kolonial Belanda yang kini disulap menjadi destinasi edukasi dan rekreasi murah meriah dengan pemandangan asri serta spot foto instagramable.
Selain itu, identitas Bululawang tidak bisa dilepaskan dari sejarah industri gula nasional.
Pabrik Gula (PG) Krebet yang didirikan pemerintah Hindia Belanda pada 1906 merupakan saksi bisu perkembangan ekonomi di wilayah ini.
Sempat dimiliki oleh Oei Tiong Ham Concern (OTHC), konglomerasi pertama di Indonesia, pabrik ini diambil alih pemerintah pada 1961 dan berkembang pesat hingga memiliki dua unit operasional, yakni PG Krebet Baru I dan II.
Spirit Kota Santri dan Filosofi 'Budi Luhur Lahir Wangi'
Bululawang juga dikenal luas sebagai Kota Santri. Jejak religiusitas ini berakar dari Pondok Pesantren An-Nur yang didirikan oleh KH. Anwar Nur sekitar tahun 1941-1942. Berawal dari langgar bambu sederhana, kini An-Nur telah berkembang menjadi institusi pendidikan besar dengan cabang An-Nur 1, 2, dan 3 yang tersebar di wilayah setempat. Semangat religius ini pun sejalan dengan filosofi lokal 'Budi Luhur Lahir Wangi'.
Hanindyo berharap pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkarakter kuat (Budi Luhur) harus berjalan beriringan dengan kemajuan industri.
"Kami ingin kemajuan industri dan pusat ekonomi, seperti pabrik gula, harus berdampak langsung pada kesejahteraan warga. Sehingga perkembangan pembangunan benar-benar 'harum' dan dirasakan manfaatnya oleh semua (Lahir Wangi)," tambahnya.
Harapan Ruang Terbuka Hijau
Menyongsong pertumbuhan wilayah yang kian pesat, Pemerintah Kecamatan Bululawang juga menyuarakan pentingnya fasilitas publik yang memadai. Harapannya, perhatian dari pemerintah pusat maupun pihak swasta dapat terwujud dalam bentuk penyediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan Taman Kota.
"Warga Bululawang butuh 'paru-paru kota' dan ruang interaksi yang sehat. Kami berharap terwujud sarana pusat aktivitas masyarakat agar anak-anak memiliki tempat bermain yang aman, nyaman, dan edukatif," pungkas Hanindyo.
Dengan perpaduan kekuatan sejarah, religiusitas, dan visi modern, Bululawang optimis dapat menyambut masa depan sebagai ikon baru pariwisata yang membanggakan bagi Kabupaten Malang.(*)
» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA
| Pewarta | : Aditya Mahatva Yodha |
| Editor | : Bahrullah |
Komentar & Reaksi