SUARA INDONESIA

Sugito Adhi: Memulihkan Memori Hotel, Menata Ulang Kepemimpinan di Dua Kota

Jefri Hadi - 19 April 2026 | 03:04 - Dibaca 243 kali
Ekbis Sugito Adhi: Memulihkan Memori Hotel, Menata Ulang Kepemimpinan di Dua Kota
Sugito Adhi, dalam jabatan Cluster General Manager Hotel Grand Mercure Malang Mirama & Mercure Surabaya Grand Mirama. (Foto: Humas Hotel GMMM untuk Suaraindonesia.co.id)

SUARA INDONESIA, SURABAYA - Perjalanan kembali ke dua kota, Malang dan Surabaya bagi Sugito Adhi bukan sekadar rotasi jabatan. Ada dimensi emosional dan profesional yang berkelindan, terutama setelah tiga tahun meninggalkan keduanya, (Minggu 19/4/2026)

Kini, sebagai Cluster General Manager di dua properti berbeda, ia menghadapi tantangan yang tak lagi sama seperti dulu.

“Malang dan Surabaya ini bisa dibilang amanah baru, atau mungkin juga seperti kembali lagi. Tapi kembali setelah tiga tahun itu tidak sama,” ujar Sugito Adhi, dalam jabatan Cluster General Manager Hotel Grand Mercure Malang Mirama  (GMMM) & Mercure Surabaya Grand Mirama MSGM).

Menurutnya, perubahan yang terjadi selama tiga tahun terakhir menghadirkan tantangan baru. Ia harus beradaptasi dengan kondisi hotel yang berbeda dari sebelumnya, termasuk situasi renovasi besar yang tengah berlangsung.

“Saya meninggalkan ini selama tiga tahun, dan saat kembali kondisinya sudah tidak sama dengan yang dulu. Banyak perubahan yang menjadi tantangan bagi saya dan tim, bagaimana mengembalikan hotel ini menjadi lebih baik lagi dalam kondisi sekarang yang jauh lebih menantang,” katanya.

Saat itu, kata Sugito, hampir separuh bangunan hotel masih dalam tahap renovasi. Kondisi tersebut membuat proses pemulihan tidak berjalan mudah.

“Waktu itu hotel dalam kondisi renovasi, hampir setengah dari gedung. Jadi memang tidak mudah. Saya harus kembali ke Malang dan Surabaya, berbaur dengan tim yang ada, dan mengajak mereka berjalan bersama,” ujarnya.

Upaya tersebut perlahan menunjukkan hasil. Hingga kini, proses renovasi telah mencapai sekitar 95 persen. Namun, tantangan berikutnya bukan hanya soal fisik bangunan, melainkan membangun kembali kesan dan memori yang pernah melekat di benak publik.

“Sekarang bagaimana membuat bukan image baru, tapi mengembalikan bagaimana hotel ini dulu pernah dikenang. Mulai dari awal lagi, sebagai hotel yang punya kesan kuat di Surabaya hingga perjalanan panjangnya sampai sekarang,” kata dia.

Mengelola dua hotel sekaligus di dua kota berbeda menjadi fase tersendiri dalam perjalanan kariernya. Sugito mengakui, pada awalnya hal tersebut bukan perkara mudah.

“Memang tidak mudah pada awalnya harus memimpin dua hotel sekaligus. Saya harus mencari rumus yang paling efisien,” ujarnya.

Ia menyebut, tantangan tersebut tidak hanya terkait lokasi, tetapi juga perbedaan karakter masing-masing hotel, mulai dari brand, jenis layanan, hingga usia bangunan.

“Dua hotel ini berbeda lokasi, berbeda brand, berbeda jenis layanan. Walaupun terlihat mirip, tetap saja ada perbedaan, termasuk dari sisi umur bangunan,” katanya.

Untuk menyiasati kompleksitas itu, Sugito menerapkan pendekatan manajerial yang terintegrasi. Ia menyusun kebijakan yang seragam agar kedua hotel dapat berjalan dalam satu arah yang sama.

“Saya buat kebijakan yang sama, seolah-olah dua hotel ini satu. Jadi tidak membingungkan. Secara operasional tetap berjalan masing-masing, tapi secara manajerial itu satu lini,” ujarnya.

Ia juga mengandalkan peran tim dan para asistennya untuk memastikan koordinasi berjalan efektif.

“Saya siapkan asisten-asisten untuk membantu agar dua hotel ini bisa berjalan bersama. Dengan begitu, saya lebih mudah memberikan direction sesuai dengan visi yang sudah ditetapkan,” kata Sugito.

Ketertarikannya pada dunia hospitality ternyata sudah tumbuh sejak masa sekolah menengah atas. Tanpa disadari, minat tersebut kemudian berkembang menjadi panggilan hidup.

“Sejak SMA saya sudah tertarik di dunia pariwisata. Saya ambil jurusan bahasa dan sastra waktu itu,” ujarnya.

Ketertarikan itu membawanya melanjutkan pendidikan di bidang hospitality di Bali. Dari sana, perjalanan kariernya di industri perhotelan mulai terbentuk.

“Dari situ saya mulai memahami dunia hospitality, hingga akhirnya mendapatkan pekerjaan dan terus berkembang sampai sekarang,” tutur Sugito. (*)

» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA

Pewarta : Jefri Hadi
Editor : Mahrus Sholih

Share:

Komentar & Reaksi

Berita Terbaru Lainnya

Featured SIN TV