SUARA INDONESIA

Kelangkaan LPG Lumpuhkan UMKM Kuliner di Labuan Bajo

Florianus Edi - 07 May 2026 | 09:05 - Dibaca 253 kali
Ekbis Kelangkaan LPG Lumpuhkan UMKM Kuliner di Labuan Bajo
Foto : Ilustrasi

 

SUARA INDONESIA, MANGGARAI BARAT– Kelangkaan Liquefied Petroleum Gas (LPG) dalam dua pekan terakhir melumpuhkan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kuliner di Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTT. Harga melonjak tajam dan sejumlah usaha terpaksa menghentikan produksi.

Adrianus Taur, pemilik Saritoga Komodo, mengatakan keluhan ini mewakili pelaku UMKM yang tergabung dalam Komunitas Akunitas Manggarai Barat. 

"Ini keluhan kami pelaku UMKM di Komunitas Akunitas Manggarai Barat," ujarnya melalui pesan WhatsApp, Kamis (7/5/2026).

Ade Irma, pemilik Dapur Dite, menyebut LPG mendadak hilang dari pasaran. “Distributor dan kios kosong semua. Ini destinasi wisata, tapi gas, BBM, dan minyak tanah langka dan mahal. Wisatawan membludak, gas kosong. Ironis,” kata Ade.

Dampak langsung dirasakan pelaku usaha. Agus Pukan dari Kopi Tuk menghentikan produksi. “Tinggal satu tabung di motor untuk kafe keliling. Di rumah pakai kayu bakar,” ujarnya. Andi Basse Pattarani dari Abes Kuliner juga menutup usaha sementara karena pasokan gas terhenti.

Beban Operasional Naik Drastis
  
Dion, pemilik warung seafood di Kampung Ujung, mengaku biaya gas naik signifikan. “Biasanya sebulan 4 tabung Rp1.080.000. Sekarang Rp1.600.000. Naik Rp520 ribu. Kami tidak bisa langsung menaikkan harga menu karena khawatir pelanggan lari,” tuturnya.

Di tingkat pengecer, harga LPG 3 kg menembus Rp45.000 per tabung. Akibatnya, banyak UMKM mengurangi jam operasional hingga merumahkan pekerja harian.

Sistem Distribusi Belum Kuat Hadapi Lonjakan
 
Maria Srikandi Mayangsari, pemilik Komodo Gift, menilai sistem distribusi belum mampu mengimbangi lonjakan kebutuhan. Menurutnya, penyebab kelangkaan antara lain stok tertahan di jalur distribusi, panic buying, dan dugaan permainan harga saat stok terbatas.

"Labuan Bajo bukan kota kecil lagi. Kebutuhan hotel, restoran, kapal wisata, dan UMKM naik pesat. Tapi pasokan belum kuat menghadapi lonjakan,” jelasnya.

Ia mendorong distribusi tepat sasaran, pengawasan harga di lapangan, penambahan pasokan sementara, pendataan UMKM pengguna gas, serta operasi pasar rutin saat krisis dengan prioritas sektor kuliner dan pariwisata.

Desakan ke Pertamina dan Pemda Manggarai Barat
 
Dahlan dari Eluk Coffee menegaskan UMKM adalah penopang wisata, namun justru tercekik biaya energi. Dampak lain yang muncul adalah dilema menaikkan harga jual dan pengurangan tenaga kerja harian.

Para pelaku usaha mendesak Pertamina dan Pemda Manggarai Barat segera bertindak. Tuntutan mereka meliputi investigasi lonjakan harga di tingkat agen dan pengecer, operasi pasar gas 12 kg khusus UMKM terdaftar, serta penetapan harga batas atas sementara selama musim ramai wisata.

Kelangkaan juga merembet ke BBM dan minyak goreng. Asro dari Asro Tenun mengaku bingung harus mengadu ke mana. “Kami seperti anak kehilangan induk,” ujarnya. Hasrinda dari Kuliner Kampung Ujung menyoroti pedagang yang menaikkan harga tidak wajar.

Kondisi ini menjadi perhatian serius karena Labuan Bajo berstatus destinasi pariwisata super prioritas nasional. Jika tidak segera ditangani, UMKM kuliner sebagai tulang punggung ekonomi lokal dikhawatirkan melemah.

 


 

» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA

Pewarta : Florianus Edi
Editor : Alfiana Putri

Share:

Komentar & Reaksi

Berita Terbaru Lainnya

Featured SIN TV