SUARA INDONESIA, SURABAYA – Bank Indonesia (BI) membidik penyelenggaraan Java Coffee, Flavors and Festival (JCFF) 2026 mampu melampaui capaian tahun sebelumnya, baik dari sisi jumlah pengunjung maupun nilai transaksi bisnis.
Target tersebut dipasang setelah gelaran festival kopi di Surabaya berhasil mencatat 54 transaksi business matching senilai sekitar Rp 67 miliar, sekaligus mempertegas potensi kopi dan UMKM Jawa Timur sebagai penggerak ekonomi dan ekspor nasional.
Deputi Gubernur Bank Indonesia Filianingsih Hendarta mengatakan pengembangan kopi nasional kini tidak lagi berfokus pada peningkatan produksi semata, tetapi diarahkan pada penciptaan nilai tambah melalui hilirisasi, diversifikasi produk, serta penguatan rantai pasok.
Strategi tersebut dinilai penting untuk memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian ekonomi global.
"Fokus kami adalah mengembangkan kopi nasional dan membangun ekosistem yang mampu memberikan nilai tambah ekonomi bagi UMKM. Melalui kolaborasi yang kuat, cita rasa lokal harus mampu menembus pasar global," ujar Filianingsih, Surabaya, Minggu (19/7/2026) malam.
Menurutnya, Jawa Timur memiliki posisi strategis sebagai salah satu sentra kopi dan kakao nasional. Produksi kopi provinsi ini mencapai sekitar 220 ribu hingga 250 ribu ton, sementara produksi rempah mencapai sekitar 542 ribu ton pada 2024.
Potensi tersebut perlu diperkuat melalui peningkatan kualitas bahan baku, hilirisasi produk, akses pembiayaan, hingga perluasan pasar ekspor agar mampu meningkatkan daya saing di pasar internasional.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur Ibrahim menegaskan, JCFF yang memasuki penyelenggaraan tahun kelima bukan sekadar ajang promosi produk, melainkan wadah mempertemukan petani, UMKM, pemerintah, akademisi, industri perbankan, dan pelaku usaha dalam membangun ekosistem ekonomi yang berkelanjutan.
"Keberhasilan kopi tidak lahir secara instan. Dibutuhkan proses panjang dan kolaborasi semua pihak. Festival ini menjadi bukti bahwa sinergi mampu memperkuat UMKM sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah," kata Ibrahim.
Selain menghasilkan transaksi business matching sekitar Rp67 miliar, BI juga mencatat komitmen pembiayaan bagi pelaku UMKM yang ditargetkan Rp20 miliar berhasil terlampaui.
Selama festival berlangsung, sekitar 3.000 transaksi ritel tercipta dengan omzet mendekati Rp1 miliar, didukung promosi digital melalui para kreator konten yang memperluas jangkauan pemasaran produk lokal.
Capaian tersebut menjadi indikator bahwa strategi penguatan ekosistem kopi berbasis kolaborasi mulai memberikan dampak nyata terhadap peningkatan daya saing UMKM Jawa Timur.
Bank Indonesia optimistis hilirisasi, akses pembiayaan, dan perluasan pasar ekspor akan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi baru, sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pemain utama dalam perdagangan kopi dunia. (*)
» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA
| Pewarta | : Dona Pramudya |
| Editor | : Alfiana Putri |
Komentar & Reaksi