SUARA INDONESIA, TEGAL - Di sebuah sudut desa di Desa Jatilaba, hidup seorang pria bernama Muhammad Sayuti. Usianya 42 tahun. Dunia yang ia lihat sejak kecil tak lagi terang, kedua matanya kehilangan fungsi sejak ia berusia tiga tahun, setelah demam tinggi merenggut penglihatannya.
Namun, gelap tak pernah benar-benar menguasai hidupnya.
Bagi Sayuti, takdir bukan alasan untuk berhenti melangkah. Di tengah keterbatasan, ia justru menemukan cara untuk tetap berdiri, bahkan menghidupi keluarganya. Dengan tangan yang peka dan keyakinan yang kuat, ia menekuni profesi yang tak biasa: memperbaiki barang elektronik.
Perjalanan itu tidak dimulai dari pendidikan atau pelatihan khusus. Sayuti bahkan tak pernah merasakan bangku sekolah. Ia sempat diliputi kebingungan, bagaimana caranya mencari nafkah tanpa keahlian?
Jawabannya datang dari keberanian.
Suatu hari, ia nekat membongkar kipas angin milik saudaranya yang sudah lama rusak. Tanpa panduan, tanpa alat lengkap, hanya bermodal rasa ingin tahu. Beberapa kali sengatan listrik menyapa tangannya. Tapi ia tak mundur. Hingga akhirnya, kipas yang mati itu kembali berputar.
Dari situlah semuanya berubah.
Satu kipas angin menjadi awal. Sayuti mulai dipercaya memperbaiki barang-barang lain milik tetangga: mesin cuci, kulkas, dispenser, hingga setrika. Satu per satu berhasil ia tangani. Kepercayaan diri pun tumbuh, seiring kepercayaan orang-orang di sekitarnya.
Kini, ia menjalani hari-harinya sebagai tukang reparasi keliling. Bersama sang istri, ia menyusuri kampung demi kampung dengan sepeda motor. Jika tak ada panggilan, ia yang mendatangi pelanggan, menawarkan jasanya dari rumah ke rumah.
“Alhamdulillah, hampir setiap hari ada saja yang bisa saya kerjakan,” tuturnya pelan, Senin (6/4/2026).
Penghasilannya memang tak menentu. Untuk satu barang, ia hanya mematok ongkos jasa sekitar Rp20 hingga Rp30 ribu, belum termasuk biaya suku cadang. Kadang ramai, kadang sepi. Tapi baginya, itu bukan persoalan utama.
Yang penting, ia tetap bisa bekerja. Tetap bisa bersyukur.
Ada satu hal yang membuat kisah Sayuti semakin tak biasa. Saat memperbaiki perangkat elektronik, ia tak menggunakan alat tespen seperti kebanyakan teknisi. Ia mengandalkan sentuhan langsung.
Tangannya menjadi “alat ukur”.
“Kalau nyetrum, berarti itu kabel positif. Kalau tidak, berarti negatif,” ujarnya ringan, seolah sengatan listrik adalah hal yang lumrah.
Bagi sebagian orang, itu mungkin terdengar mustahil. Tapi bagi Sayuti, itulah cara ia berdialog dengan dunia yang tak bisa ia lihat. Melalui rasa, melalui keberanian, dan melalui ketekunan yang tak pernah padam. (*)
» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA
| Pewarta | : Wiwit Kuncoro |
| Editor | : Mahrus Sholih |
Komentar & Reaksi