SUARA INDONESIA

Dinkes Jember Temukan 700 ODHIV Selama 2025, Populasi Tertinggi Masih LSL

Fathur Rozi - 01 March 2026 | 18:03 - Dibaca 838 kali
Kesehatan Dinkes Jember Temukan 700 ODHIV Selama 2025, Populasi Tertinggi Masih LSL
Kantor Dinkes Jember. (Foto: Fathur Rozi/Suara Indonesia)

SUARA INDONESIA, JEMBER - Jumlah Orang Dengan HIV (ODHIV) yang berhasil terdata Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Jember di 2025 mencapai 700 penyandang. Jumlah itu, menurun dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 800 orang.

Populasinya beragam, mulai dari ibu hamil, Lelaki Seks dengan Lelaki (LSL) hingga pengguna NAPZA suntik (narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya dengan cara suntik) atau penasun. 

Selain itu, Wanita Pekerja Seksual (WPS) atau yang sebelumnya kerap disebut Pekerja Seks Komersial (PSK) beberapa juga terdata sebagai ODHIV. Namun, terbanyak masih diisi oleh LSL, sama seperti tahun 2024.

“Ada ibu hamil, berarti dalam keluarga. Bisa juga yang belum berkeluarga, dari populasi LSL, penasun, pengguna narkoba. Untuk kelompok terbanyak dari populasi LSL,”ungkap Kepala Bidang Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Dinkes Jember, dr. Rita Wahyuningsih, beberapa hari lalu.

Mengingat jumlah temuan ODHIV yang masih terbilang tinggi, Dinkes Jember melakukan beberapa langkah pencegahan penularan, seperti promotif (edukasi kesehatan) preventif (pencegahan), kuratif (penyembuhan) dan rehabilitatif (pemulihan).

“Penguatan edukasi kepada kelompok rentan, seperti anak-anak sekolah. Mengingat saat ini pergaulan bebas, yang dalam tanda petik tidak bisa terkontrol,” jelasnya.

Langkah promotif sendiri, kata dia, lebih banyak ditujukan pada kelompok usia remaja, sebab lebih beresiko dan rentan. Sementara, upaya preventif yakni berupa deteksi dini dilakukan secara general, namun dominan pada kelompok beresiko.

“Salah satunya adalah ibu hamil, yang sudah jelas yakni WPS, LSL, dan Penasun,” terangnya.

Sementara, khusus ibu hamil, maka perlu mengonsumsi obat antivirus agar virus HIV tidak menular ke janin. Sebab, jika tidak mengkonsumsinya, kategori virus akan tinggi, dan akan menularkan saat proses persalinan.

“Penularannya melalui darah, sama cairan seksual. Tapi selama dia konsumsi obat terus, virus di dalam tubuhnya itu kadarnya akan rendah dan tidak akan menularkan ke bayinya saat proses persalinan,” pungkasnya. (*)

» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA

Pewarta : Fathur Rozi
Editor : Mahrus Sholih

Share:

Komentar & Reaksi

Berita Terbaru Lainnya

Featured SIN TV