SUARA INDONESIA

Musim Kemarau, Harga Padi di Jombang Melonjak Signifikan 

Gono Dwi Santoso - 12 September 2023 | 16:09 - Dibaca 1.25k kali
News Musim Kemarau, Harga Padi di Jombang Melonjak Signifikan 
Mesin Combine saat panen padi di Kecamatan Megaluh Kabupaten Jombang Jawa Timur, Selasa (12/09/2023).( Foto: Gono Dwi Santoso/Suaraindonesia.co.id).

JOMBANG, Suaraindonesia.co.id - Memasuki musim kemarau, petani padi di Desa Pacarpeluk, Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang merasa senang karena harga panen bisa mencapai Rp 7 juta per banon seratusnya.

Hal itu jelas lebih tinggi jika dibandingkan dengan musim panen sebelumnya.

Ditemui di areal persawahan, Supardi (47), petani di Desa Pacarpeluk mengatakan, harga gabah ditingkat petani kini mencapai Rp 6.900 sampai Rp 7.000 per kilogram (kg).

"Harganya cenderung naik jika dibandingkan musim panen lalu. Kalau panen lalu waktu musim hujan kisaran Rp 5.500 per kg ditingkat petani, sekarang bisa mencapai Rp 7 ribu," ujarnya, Selasa (12/9/2023).

Ia merasa senang atas kenaikan harga ini meski tak mengetahui faktor kenaikan harga gabah karena apa. Namun yang jelas, harga tersebut mengikuti pasaran saat ini.

"Mungkin karena tidak semua daerah bisa panen padi. Karena kebanyakan kesulitan irigasi jadi banyak yang beralih tanam jagung dan tembakau," bebernya.

Supardi juga menjelaskan, musim kemarau ini memang tak membuat petani di wilayah Megaluh, khususnya Desa Pacarpeluk kesulitan air.

"Untuk pasokan air irigasi berasal dari saluran induk Mrican dan tetap melimpah sepanjang tahun. Maka dari itu, petani disini tidak kesulitan air dan justru sangat terbantu," tuturnya.

Dengan naiknya harga gabah ditingkat petani, omzet yang didapat petani juga ikut naik untuk per banon 100 alias 1.400 meter persegi, petani mendapat gabah kering sekitar 1,1 ton.

Jika dikalikan dengan harga gabah senilai Rp 7.000 per kg, maka per 1.400 meter perseginya petani bisa meraup omzet hingga Rp 7,5 juta - 7,7 juta.

“Namun itu belum dikurangi modal tanam sekitar Rp 2 juta dan juga ongkos panen dan UU. Untuk petani di wilayah setempat, sebagian besar banyak yang beralih menggunakan mesin panen modern. Selain lebih cepat dan efisien," pungkas Supardi. (gn/amb)

» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA

Pewarta : Gono Dwi Santoso
Editor : Yuni Amalia

Share:

Komentar & Reaksi

Berita Terbaru Lainnya

Featured SIN TV