SUARA INDONESIA

Musim 2025: Kuota 11 Pemain Asing Dinilai Berat bagi Klub Bermodal Terbatas

Arya Rahmansyah - 13 July 2025 | 17:07 - Dibaca 706 kali
Olahraga Musim 2025: Kuota 11 Pemain Asing Dinilai Berat bagi Klub Bermodal Terbatas
Sejumlah pemain asing akan menambah kekuatan klub di Liga 1 musim depan, namun pemerhati olahraga menilai hal ini bisa jadi beban bagi klub kecil, Makassar, Minggu (13/7/2025). (Foto: Istimewa).

SUARA INDONESIA, MAKASSAR- Penambahan kuota pemain asing dalam kompetisi Liga 1 musim 2025/2026 menjadi sorotan publik sepak bola nasional. Di bawah pengelolaan baru oleh I-League, setiap klub kini diperbolehkan mendaftarkan hingga 11 pemain asing, dengan maksimal 8 pemain dapat diturunkan secara bersamaan dalam pertandingan.

Meski kebijakan ini diharapkan dapat meningkatkan daya saing dan kualitas kompetisi, tidak sedikit yang menilai bahwa langkah tersebut justru menjadi beban baru bagi klub-klub dengan dana terbatas.

Rifani Ford, pemerhati olahraga Makassar menyampaikan pandangannya terhadap kebijakan ini. Menurutnya, keputusan menaikkan kuota pemain asing perlu dikaji secara komprehensif, mengingat kondisi keuangan sebagian besar klub Liga 1 belum sepenuhnya stabil.

“Kalau klub tidak siap secara finansial, penambahan kuota ini justru bisa jadi tekanan berat. Tidak semua klub mampu mendatangkan pemain asing dengan kualitas tinggi, apalagi membayar gaji dan fasilitas sesuai standar internasional,” ujar Rifani saat dimintai tanggapan, Minggu (13/7/2025).

Ia menambahkan, dominasi pemain asing dalam jumlah besar berisiko menggeser peran pemain lokal dan membuat kompetisi kehilangan arah pembinaan. Padahal, liga domestik juga memiliki tanggung jawab mencetak pemain untuk kepentingan jangka panjang, termasuk tim nasional.

“Kompetisi seharusnya juga jadi ruang tumbuh bagi talenta lokal. Kalau ruang itu makin sempit, yang dirugikan bukan hanya klub kecil, tapi juga sistem sepak bola nasional secara menyeluruh,” tambahnya.

Dari sisi keseimbangan kompetitif, Rifani menyoroti potensi melebar-nya jurang antara klub besar dan klub kecil. Klub dengan dana besar tentu akan memanfaatkan penuh kuota pemain asing, sementara klub dengan anggaran terbatas bisa tertinggal jauh dalam hal kualitas tim.

“Kalau tidak ada regulasi penyeimbang atau sistem pembatasan gaji, kita hanya akan melihat dominasi segelintir klub yang kuat modal. Itu bukan kompetisi yang sehat,” ujarnya.

Sebelumnya, I-League juga mengumumkan perubahan nama kompetisi menjadi BRI Super League untuk Liga 1 dan Pegadaian Championship untuk Liga 2. Liga 3 tetap mempertahankan nama Liga Nusantara sebagai liga semi-profesional.

Transformasi ini diharapkan menjadi momentum pembaruan sepak bola nasional. Namun, tanpa pengawasan ketat dan kebijakan inklusif yang berpihak pada keberlangsungan seluruh klub, keputusan strategis seperti penambahan kuota pemain asing bisa menjadi bumerang dalam jangka panjang

"Ini ibarat menjatuhkan harga diri demi harapan meraih kemenangan," pungkas Rifani. (*)

» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA

Pewarta : Arya Rahmansyah
Editor : Mahrus Sholih

Share:

Komentar & Reaksi

Berita Terbaru Lainnya

Featured SIN TV