SUARA INDONESIA, CILACAP - Cara unik dilakukan SMP Pius Cilacap memperingati Hari Kartini 2026. Perwakilan siswa kelas 7 dan 8 tampil penuh percaya diri mengikuti lomba fashion show dan pidato dengan kostum berbahan limbah.
Selain unik, kostum adat nusantara dengan bahan limbah yang dikenakkan peserta saat tampil ini pun berhasil menarik perhatian seperti adat jawa, bugis dan lainnya.
Adapun kostum tersebut telah didaur ulang mulai karung bekas hingga botol plastik hasil kreasi dari peserta.
Kegiatan yang digelar Selasa (21/4/2026) di halaman sekolah ini, disambut riuh siswa dan guru yang menyaksikan.
"Lomba ini merupakan salah satu program kerja OSIS, dan sengaja dilaksanakan pada Hari Kartini," ujar Ketua OSIS SMP Pius Cilacap, Cinta Christy Hitipeuw.
Adapun lomba tersebut dipersiapkan oleh panitia sejak dua minggu lalu, mulai dari koordinasi, kemudian persiapan hadiah hingga teknis pelaksanaan.
"Antusiasnya per kelas luar biasa, mereka sampai merelakan waktunya membuat baju yang akan dikenakkan menggunakan sampah daur ulang," ungkap Cinta.
"Dan yang saya lihat tadi, selain plastik, pakai karung bekas sama botol plastik juga. Kebanyakan pakai plastik bekas," imbuhnya.
Diharapkan melalui kegiatan tersebut, selain menumbuhkan kepedulian siswa terhadap lingkungan, juga melestarikan budaya.
Kegiatan yang digagas oleh pengurus OSIS ini mendapat apresiasi dan dukungan dari Kepala SMP Pius Cilacap, Sr. Maria Sinclair PBHK.
"Saya sebagai pendamping mereka, kepala sekolah disini mendukung mereka karena memang niatnya baik, dan anak-anak OSIS ini sangat kreatif, luar biasa," ujarnya.
Menurut Sr. Maria, kegiatan yang digelar oleh pengurus OSIS ini, mencerminkan semangat RA Kartini yang mendorong untuk terus belajar kreatif, berani, maju dan berkembang.
"Jadi mereka tidak lagi dituntut oleh bapak ibu guru, kalau selama ini guru menuntut anak-anak harus begini, begitu, sekarang mereka belajar untuk menerbitkan terang masing-masing seperti yang dilakukan mereka pada hari ini," jelasnya.
"Dan terbukti kreatifitas serta bakat mereka mulai muncul. Selain itu, menjaga tradisi budaya. Dengan begini mereka belajar oh ternyata di Indonesia banyak budaya," pungkas Sr. Maria. (*)
» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA
| Pewarta | : Satria Galih Saputra |
| Editor | : Mahrus Sholih |
Komentar & Reaksi