SUARA INDONESIA, SURABAYA - Tidak semua perjalanan dimulai dengan rencana besar. Beberapa justru berangkat dari rasa ingin tahu dan berakhir menjadi kesadaran. Itu yang dialami Uung Victoria Finky.
Sebagai founder Moell, ia terbiasa berbicara tentang perawatan anak, formula produk, hingga kebutuhan kulit bayi. Tapi semua itu terasa berbeda ketika ia benar-benar melihat bagaimana anak-anak tumbuh di tempat yang jauh dari jangkauan layanan dasar.
Pulau Mamburit, Kepulauan Kangean, Sumenep, menjadi salah satu titik yang mengubah cara pandangnya.
Perjalanan ke sana bukan hal mudah. Sekitar 15 jam harus ditempuh dari Surabaya. Dari darat, laut, hingga perahu kecil yang bergantung pada cuaca. Namun justru di situlah cerita dimulai.
“Perjalanan panjang itu seperti pengingat, bahwa bagi sebagian orang, akses bukan hal yang sederhana,” kata Uung.
Sesampainya di pulau, ia tidak menemukan fasilitas kesehatan yang memadai seperti di kota. Yang ada hanyalah Pos Kesehatan Desa yang dibangun secara swadaya oleh warga. Sederhana, dengan fasilitas terbatas, namun menjadi satu-satunya harapan bagi masyarakat.
Di sisi lain, para ibu tetap menjalankan peran mereka dengan cara yang mereka tahu. Pengetahuan turun-temurun menjadi pegangan utama. Mulai dari penggunaan bedak tabur, hingga cara menangani masalah kulit anak.
Bukan karena tidak ingin berubah, tetapi karena informasi dan akses memang tidak selalu tersedia.
“Di situ saya mulai memahami, ini bukan soal pilihan. Ini soal keterbatasan,” ujarnya.
Pengalaman tersebut kemudian melahirkan program Moell On Mission. Namun bagi Uung, program ini bukan sekadar kegiatan sosial.
Lebih dari itu, ini adalah cara untuk mendekat—untuk benar-benar melihat dan mendengar.
Selama di Mamburit, tim melakukan pemeriksaan kesehatan, edukasi dasar, hingga membantu memperbaiki fasilitas Poskesdes. Tapi yang paling membekas bukan hanya aktivitasnya, melainkan interaksi dengan masyarakat.
Ada cerita tentang ibu yang harus menunda pemeriksaan anak karena perjalanan terlalu jauh. Ada pula anak-anak yang terbiasa bermain di bawah terik matahari tanpa perlindungan memadai.
Dan di balik semua itu, ada hal lain yang tidak ia duga. Kebersamaan.
“Yang saya lihat justru kekuatan mereka. Mereka saling membantu, saling menjaga. Itu sesuatu yang jarang kita rasakan di kota,” kata Uung.
Pengalaman ini membuatnya melihat bisnis dari sudut pandang yang berbeda. Bahwa produk bukanlah satu-satunya jawaban. Ada aspek lain yang tidak kalah penting: akses, edukasi, dan kehadiran nyata.
Bagi Uung Victoria Finky, perjalanan ke Mamburit bukan akhir dari sebuah program. Melainkan awal dari cara pandang baru.
Bahwa di luar hiruk pikuk kota, ada banyak cerita yang belum terdengar. Untuk memahaminya, tidak cukup hanya melihat dari jauh.
Harus datang.
Harus menyapa.
Dan yang paling penting, harus mau mendengar.
» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA
| Pewarta | : Dona Pramudya |
| Editor | : Alfiana Putri |
Komentar & Reaksi