SUARA INDONESIA

Hardiknas 2026: Unesa Dorong Transformasi Pendidikan Berbasis Teknologi

Dona Pramudya - 02 May 2026 | 13:05 - Dibaca 212 kali
Pendidikan Hardiknas 2026: Unesa Dorong Transformasi Pendidikan Berbasis Teknologi
Gebyar Bulan Pendidikan 2026 yang digelar Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Unesa, Sabtu (2/5/2026). (Foto: Dona Pramudya/Suara Indonesia)

SUARA INDONESIA, SURABAYA — Perubahan cara belajar tak lagi bisa ditawar. Universitas Negeri Surabaya (Unesa) secara terbuka mengakui bahwa model pendidikan konvensional mulai ditinggalkan, seiring tekanan perkembangan teknologi dan kebutuhan sosial yang terus berubah.

Pernyataan itu mengemuka dalam Gebyar Bulan Pendidikan 2026 yang digelar Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Unesa, Sabtu (2/5/2026). Momentum ini tidak sekadar perayaan, tetapi menjadi penegasan bahwa dunia pendidikan sedang berada di titik perubahan.

Wakil Rektor II Unesa, Bachtiar Syaiful Bachri, menyebut sistem belajar berbasis ruang kelas bukan lagi satu-satunya pendekatan.

“Belajar sekarang tidak harus di dalam kelas. Metode dan medianya sudah berubah. Bisa di mana saja, kapan saja,” ujarnya.

Menurutnya, perubahan ini menuntut kampus untuk tidak lagi mempertahankan pola lama. Jika tidak beradaptasi, institusi pendidikan berisiko tertinggal dari kebutuhan zaman.

Ia menegaskan, transformasi pendidikan juga harus menjawab tuntutan keadilan akses. Tidak hanya bagi mahasiswa umum, tetapi juga kelompok berkebutuhan khusus yang selama ini belum sepenuhnya terakomodasi.

“Semua warga negara punya hak yang sama untuk belajar. Tidak boleh ada yang tertinggal,” tegasnya.

Namun, realitas di lapangan belum sepenuhnya mendukung. Akses pendidikan di daerah terpencil masih menghadapi kendala klasik, mulai dari jarak hingga biaya.

Untuk menjawab itu, Unesa mengandalkan program Study Mobility. Mahasiswa diterjunkan langsung ke masyarakat melalui skema magang dan pengabdian di berbagai daerah.

“Kendala pasti ada, terutama biaya dan geografis. Tapi ini tidak bisa jadi alasan untuk berhenti,” kata Bachtiar.

Di sisi lain, Dekan FIP Unesa Mochamad Nursalim menegaskan bahwa perubahan tidak hanya terjadi pada metode belajar, tetapi juga pada kompetensi yang harus dimiliki lulusan.

Ia menyebut, kecerdasan buatan (AI) dan digitalisasi kini sudah menjadi bagian dari kurikulum.

“Kalau tidak menguasai teknologi, lulusan akan kalah bersaing,” ujarnya.

Nursalim juga mengklaim, lulusan FIP Unesa telah memenuhi indikator kinerja utama perguruan tinggi, termasuk tingkat serapan kerja dan standar penghasilan minimal setara UMR.

Gebyar Bulan Pendidikan 2026 turut diisi dengan pameran inovasi mahasiswa, bazar UMKM, hingga peluncuran buku nilai budaya dan kebangsaan.

Namun di balik rangkaian kegiatan tersebut, pesan yang lebih kuat justru muncul: dunia pendidikan sedang dipaksa berubah, dan kampus tidak punya banyak waktu untuk beradaptasi.
 

» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA

Pewarta : Dona Pramudya
Editor : Alfiana Putri

Share:

Komentar & Reaksi

Berita Terbaru Lainnya

Featured SIN TV