SUARA INDONESIA

Soroti Digitalisasi dalam Dunia Pendidikan, Prof. Kurjum Minta Siswa Batasi Penggunaan

Jefri Hadi - 07 June 2026 | 20:06 - Dibaca 88 kali
Pendidikan Soroti Digitalisasi dalam Dunia Pendidikan, Prof. Kurjum Minta Siswa Batasi Penggunaan
Prof. Dr. H Mohammad Kurjum, MAg. (Foto: istimewa/suaraindonesia.co.id)

SUARA INDONESIA, SURABAYA -Perkembangan teknologi digital telah mengubah wajah pendidikan secara signifikan. Di satu sisi, teknologi membuka akses pengetahuan yang semakin luas dan cepat. Namun, di sisi lain, kemudahan tersebut juga menghadirkan tantangan baru bagi pembentukan karakter dan adab peserta didik.

Guru Besar sekaligus Kandidat Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya, Prof. Dr. H Mohammad Kurjum, MAg menilai perubahan paling nyata terlihat pada pola perhatian generasi muda saat ini.

"Perhatian siswa menjadi lebih pendek dan terfragmentasi. Mereka terbiasa melakukan scrolling, sehingga kesabaran untuk membaca teks panjang atau mengikuti diskusi selama 30 menit mulai menurun," ujar Kurjum, Minggu (6/7/2026).

Meski demikian, ia mengakui bahwa teknologi juga membawa dampak positif. Menurutnya, siswa kini lebih cepat menemukan sumber informasi, lebih terbiasa berkolaborasi melalui dokumen daring, dan memiliki kemandirian belajar yang lebih baik.

"Namun, motivasi eksternal meningkat, sementara motivasi intrinsik dan adab dalam bertanya sering kali menurun karena mereka terbiasa memperoleh jawaban instan dari kecerdasan buatan," katanya.

Dalam menjaga keseimbangan antara kemajuan teknologi dan nilai moral dalam pendidikan Islam, Kurjum menegaskan bahwa tanggung jawab tersebut berada pada seluruh elemen pendidikan. Akan tetapi, terdapat tiga pihak yang memegang peran utama.

"Guru dan dosen harus tetap menjadi murabbi yang menyeleksi informasi, memberikan konteks nilai, sekaligus menjadi teladan," sebutnya.

Lebih dari itu, Kurjum menuturkan bahwa lembaga pendidikan dan orang tua bertugas menetapkan kebijakan, kurikulum, serta batas penggunaan teknologi. "Adapun mahasiswa dan siswa harus belajar melakukan tabayyun serta memiliki tanggung jawab digital," tuturnya.

Ia mengingatkan bahwa tanpa peran guru yang kuat, teknologi justru akan membentuk sistem nilai peserta didik. "Saat guru kehilangan perannya, teknologi akan membentuk nilai, bukan sebaliknya," ujarnya.

Sebaliknya, kegagalan kerap terjadi pada lembaga yang hanya berfokus pada digitalisasi tanpa memperkuat kapasitas pendidik. "Teknologi akhirnya hanya menjadi pengganti papan tulis. Nilai dan etika tidak pernah dibahas. Akibatnya, siswa mahir menggunakan AI, tetapi bingung ketika ditanya mengenai etika penggunaannya," kata Kurjum.

Di tengah dominasi kecerdasan buatan dan media sosial, Kurjum menegaskan bahwa guru tetap memiliki posisi yang tidak tergantikan.

"AI tidak dapat menggantikan keteladanan adab, dialog nilai, dan pendampingan personal. AI mampu memberikan jawaban, tetapi tidak mampu membaca kondisi hati serta niat seorang murid," katanya.

Menurut Kurjum, salah satu tantangan besar saat ini adalah kecenderungan generasi muda yang lebih mempercayai algoritma internet dibanding guru, dosen, maupun ulama. 

"Algoritma menawarkan jawaban cepat, validasi sosial melalui like, serta konten yang sesuai dengan selera pengguna. Sementara itu, guru dan ulama sering dianggap lambat dan terlalu normatif," ucapnya.

"Padahal, persoalannya bukan pada ilmu yang mereka miliki, melainkan pada cara penyampaian yang belum cukup dialogis dan belum menyentuh realitas digital generasi muda," lanjutnya.

Mengenai masa depan pendidikan Islam dalam 10 hingga 20 tahun mendatang, Kurjum melihat dua kemungkinan yang sangat berbeda.

"Jika salah arah, pendidikan akan menjadi transaksional. AI berperan sebagai guru, sedangkan manusia hanya menjadi pengawas teknis. Dalam kondisi itu, adab dan ruh pendidikan akan hilang," ujarnya.

"Kuncinya adalah apakah kita mendidik manusia yang mampu mengendalikan AI atau justru manusia yang dikendalikan AI. Pendidikan Islam memiliki modal besar melalui maqashid syariah untuk menjadi penyeimbang dalam era teknologi yang terus berkembang," kata Prof. Mohammad Kurjum. (*)

» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA

Pewarta : Jefri Hadi
Editor : Alfiana Putri

Share:

Komentar & Reaksi

Berita Terbaru Lainnya

Featured SIN TV