SUARA INDONESIA, BANYUWANGI – Tiga nelayan asal Kecamatan Blimbingsari, Banyuwangi, berhasil diselamatkan TNI Angkatan Laut setelah semalaman terombang-ambing di perairan Selat Bali. Perahu yang mereka tumpangi terbalik akibat gelombang tinggi disertai angin kencang, Rabu (21/1/2026).
Ketiga nelayan tersebut masing-masing Slamet Hariyadi (42), warga Desa Blimbingsari, Samsuri (71) asal Desa Patoman, serta Ikhyak (61) yang juga berasal dari Desa Blimbingsari. Mereka diketahui berangkat melaut sejak Selasa (20/1/2026) malam, namun tak kunjung kembali hingga pagi hari.
Komandan Pos TNI AL (Danposal) Blimbingsari, Lettu Laut (P) Hermanto, menjelaskan bahwa laporan pertama diterima dari warga saat petugas pos tengah melakukan kesiapsiagaan bencana karena cuaca ekstrem melanda Banyuwangi sejak dini hari.
“Warga melapor ada nelayan yang belum kembali dari laut. Kami langsung bergerak melakukan pencarian,” ujar Hermanto.
TNI AL bersama masyarakat kemudian mengerahkan tiga perahu dengan tugas berbeda, mulai dari penyisiran lokasi, penjajakan medan, hingga evakuasi. Tak berselang lama, ketiga nelayan berhasil ditemukan dalam kondisi memprihatinkan.
Di lokasi kejadian, petugas mendapati dua perahu nelayan dalam posisi terbalik. Satu perahu ditumpangi Ikhyak dan Samsuri, sementara perahu lainnya dinaiki Slamet. Ikhyak dan Samsuri bertahan hidup dengan berpegangan pada bagian kitir perahu, meski tubuh mereka sudah tampak lemas diguncang ombak.
“Saat ditemukan, Pak Samsuri nyaris terlepas dari pegangan. Untung sempat diikat oleh Pak Ikhyak,” jelas Hermanto.
Sebelumnya, ketiga nelayan sempat berupaya meminta pertolongan kepada kapal tanker yang melintas, namun tidak mendapat respons. Petugas TNI AL akhirnya mengevakuasi para nelayan beserta perahu mereka ke daratan.
Kedatangan ketiganya disambut isak tangis keluarga dan warga yang sejak pagi menunggu dengan cemas. Suasana haru pecah saat para nelayan tiba dalam keadaan selamat.
Hermanto berharap peristiwa ini menjadi pelajaran penting bagi nelayan agar lebih memperhatikan keselamatan saat melaut. Ia menegaskan bahwa penggunaan life jacket merupakan prosedur wajib yang kerap diabaikan.
“Kami menyediakan life jacket gratis di posal. Ini demi keselamatan, bukan untuk merepotkan,” tegasnya.
Selain itu, ia juga mengimbau nelayan untuk menunda aktivitas melaut sementara waktu, mengingat potensi cuaca buruk masih tinggi. Berdasarkan prakiraan BMKG Maritim, perairan Selat Bali selatan masih didominasi hujan sedang dengan tinggi gelombang mencapai 2,5 hingga 4 meter dan kecepatan angin 10–15 knot. (*)
» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA
| Pewarta | : Muhammad Nurul Yaqin |
| Editor | : Mahrus Sholih |
Komentar & Reaksi