SUARA INDONESIA, MALANG - Maraknya pemberitaan mengenai oknum yang melakukan pelecehan terhadap santri akhir-akhir ini memicu keprihatinan publik.
Kasus-kasus tersebut dinilai telah mencoreng nama baik pondok pesantren yang selama ini menjadi pilar moral bangsa.
Menanggapi fenomena tersebut, Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Ulum 2 Putukrejo, Gondanglegi, Kabupaten Malang, KH. Hamim Kholili, memberikan sikap dan klarifikasi tegas.
Ia meminta masyarakat objektif dan mampu memisahkan antara tindakan kriminal individu dengan institusi pendidikan Islam.
Gus Hamim, sapaan akrabnya ini mengingatkan kembali akar sejarah panjang pesantren, khususnya di wilayah Gondanglegi. Menurutnya, pesantren salaf di daerah tersebut sudah eksis dan berkontribusi jauh sebelum Indonesia merdeka.
"Pesantren salaf sejak dulu fokus menanamkan sikap akhlakul karimah kepada para santri. Jadi apa yang terjadi akhir-akhir ini, yang jelas itu murni ulah oknum," ujarnya, Jumat (5/6/2026).
"Kalau pondok pesantren pada dasarnya tetap mendidik dan mencetak generasi Islam yang baik," lanjut tokoh yang juga menjabat sebagai Ketua PCNU Malang ini.
Ia menambahkan bahwa sistem nilai di dalam pesantren tidak pernah mengajarkan hal-hal yang melenceng. "Kalau ada yang melenceng, ini yang salah oknumnya, bukan pesantrennya," Gus Hamim.
Sebagai bentuk komitmen nyata dalam memproteksi para santri dari segala bentuk ancaman, Pondok Pesantren Raudlatul Ulum 2 telah menerapkan sistem keamanan modern.
Gus Hamim menjelaskan lingkungan pesantren yang dipimpinnya kini sudah memperketat pengawasan dengan memasang kamera CCTV di berbagai titik strategis.
Langkah preventif ini diambil bukan tanpa alasan. Penerapan teknologi pengawasan digital ini sengaja diberlakukan demi menjamin keamanan dan kenyamanan berlapis bagi para santri selama menuntut ilmu.
Melalui langkah ini, pihak pesantren sekaligus PCNU Kabupaten Malang berharap kepercayaan masyarakat terhadap dunia pesantren tetap terjaga, sekaligus menutup ruang gerak bagi para oknum yang ingin merusak citra suci lembaga pendidikan Islam. (*)
» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA
| Pewarta | : Aditya Mahatva Yodha |
| Editor | : Alfiana Putri |
Komentar & Reaksi