SUARA INDONESIA

Kemenko PM dan BPJS Ketenagakerjaan Perkuat Literasi Jamsostek Melalui Ekosistem Pendidikan

M.Ganefudin - 15 August 2025 | 16:08 - Dibaca 609 kali
Advertorial Kemenko PM dan BPJS Ketenagakerjaan Perkuat Literasi Jamsostek Melalui Ekosistem Pendidikan
Grand Launching Penguatan Ekosistem Jaminan Sosial Melalui Pendidikan di Unair Surabaya, Kamis (14/8/2025). (Foto: dok. Suara Indonesia)

SUARA INDONESIA, SURABAYA - Pemerintah perkuat literasi jaminan sosial bagi masyarakat sejak usia dini. Pada Grand Launching Penguatan Ekosistem Jaminan Sosial Melalui Pendidikan di Universitas Airlangga Surabaya, Kamis (14/8/2025), ditekankan pentingnya literasi jaminan sosial dalam mewujudkan kesejahteraan pekerja Indonesia yang menyeluruh dan berkelanjutan.

Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar menyatakan, literasi jaminan sosial yang luas dan merata penting, agar tidak ada masyarakat Indonesia yang tertinggal dan tidak mendapatkan perlindungan.

“Sistem Jaminan Sosial Nasional kita semakin bagus, sehingga kita memiliki pondasi yang kuat untuk meneruskan Sistem Jaminan Sosial lebih produktif," ujar Menko Muhaimin.

"Kita berharap perguruan tinggi, universitas, akademisi, ilmuwan menjadi bagian ekosistem yang memperkuat perkembangan Jaminan Sosial Nasional," lanjutnya.

Hadir dalam acara itu Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan Pramudya Iriawan Buntoro, Direktur Utama BPJS Kesehatan Ali Ghufron Mukti, DJSN, Kementerian, Lembaga terkait, dan rektor dari beberapa Universitas.

Disebutkan, penguatan literasi Jaminan Sosial ini sejalan dengan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 36 Tahun 2023 yang mengatur tentang Peta Jalan Jaminan Sosial Tahun 2023–2024. 

Perpres tersebut memberikan pedoman strategis dalam beberapa aspek penting, seperti perencanaan, pelaksanaan, monitoring, evaluasi, dan pengendalian penyelenggaraan Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN).

Regulasi ini menjadi landasan dalam pelaksanaan program-program edukasi dan literasi jaminan sosial melalui pengembangan modul pendidikan.

Selaras dengan itu, Pramudya menyampaikan, Jaminan sosial didasari dengan prinsip gotong royong. Yang mampu membantu dan yang tidak mampu akan dibantu.

"Kami dalam konteks Perlindungan Jaminan Sosial, baik BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan, akan melibatkan seluruh pihak, karena kedepannya kita akan menghadapi aging population," kata Pramudya.

“Literasi Jaminan Sosial sangat penting bagi masyarakat Indonesia sejak usia dini. Dengan edukasi yang telah diberikan sejak di bangku sekolah dasar diharapkan bisa menjadi bekal saat mereka memasuki dunia kerja, sehingga mereka tahu akan pentingnya Jaminan Sosial Ketenagakerjaan,” terang Pramudya.

Sejak 2024 hingga saat ini tercatat sosialisasi Modul Muatan Jaminan Sosial sudah dilakukan di 11 Wilayah di tingkat SMA, SMK, MA/Sederajat dengan total sebanyak 233 sekolah.

Pramudya menekankan pentingnya literasi sebagai langkah awal pembentukan budaya sadar jaminan sosial ketenagakerjaan di masyarakat Indonesia.

Hal itu sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo yang mengusung misi peningkatan lapangan kerja berkualitas dan perkuatan pembangunan SDM melalui implementasi program Jaminan Sosial Ketenagakerjaan.

Menurutnya, program ini sebagai jaring pengaman kesejahteraan dan menahan terjadinya kemiskinan baru, sebagai pondasi kuat ekonomi dan produktifitas menuju Indonesia Emas 2045.

“Kami berterima kasih atas dukungan dan komitmen dari Kemenko PM, DJSN, BPJS Kesehatan, serta Kementerian dan Lembaga lainnya atas peningkatan literasi muatan Jaminan Sosial bagi seluruh masyarakat," ucapnya.

"Penguatan pemahaman mulai dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi ini diharapkan menjadi langkah awal pembentukan budaya sadar jaminan sosial khususnya perlindungan atas risiko kerja, sehingga masyarakat dapat Kerja Keras dan Bebas Cemas," tuturnya.

Sementara Kepala Kantor Wilayah BPJS Ketenagakerjaan Jawa Timur, Hadi Purnomo menambahkan, literasi jaminan sosial sejak dini ini sangat penting, sehingga menjadi pemahaman akan pentingnya perlindungan jaminan sosial bagi setiap pekerja baik formal maupun informal.

"Literasi jaminan sosial sejak usia dini untuk membangun kesadaran dan budaya akan pentingnya perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan. Dengan demikian diharapkan bahwa setiap aktivitas yang memiliki risiko, misalnya olahraga apalagi kerja, diperlukan perlindungan jaminan sosial," kata Hadi. (Gan)

» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA

Pewarta : M.Ganefudin
Editor : Satria Galih Saputra

Share:

Komentar & Reaksi

Berita Terbaru Lainnya

Featured SIN TV