SUARA INDONESIA, SURABAYA - Di sebuah ruang kerja sederhana di kampus Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, tumpukan buku tebal berderet rapi di rak kayu. Aroma kertas lama berpadu dengan kesunyian sore, seakan menjadi saksi perjalanan panjang seorang akademisi yang konsisten mengkaji kepemimpinan Islam.
Dari balik meja kerjanya, Mohammad Kurjum, pria kelahiran Jember, 25 September 1969, menyambut dengan senyum teduh.
Sebagai guru besar UINSA, Kurjum dikenal bukan hanya sebagai pengajar Ilmu Metodologi Pembelajaran PAI (pendidikan agama islam), tetapi juga pemikir yang gemar menghubungkan nilai-nilai Islam dengan tantangan sosial kontemporer.
Baginya, kepemimpinan bukan sekadar persoalan politik dan kekuasaan, melainkan misi moral dan spiritual yang menuntut keharmonisan antara pemimpin dan umat.
Pedoman atau acuan yang digunakan untuk mengajar dan mendidik siswa dalam pelajaran Pendidikan Agama Islam, dan tidak hanya terbatas sebagai pengajar metode saja, melainkan mencakup juga pengembangan kurikulum, strategi pengajaran, dan berbagai teknik atau pendekatan yang efektif untuk menyampaikan materi PAI agar siswa dapat memahami dan mengamalkan ajaran Islam serta menjadikannya pandangan hidup.
“Keharmonisan kepemimpinan lahir dari sifat adil, amanah, bertanggung jawab, serta berorientasi pada kemaslahatan umat. Semua itu berakar dari ajaran Al-Qur’an dan Sunnah, yang menempatkan pemimpin sebagai hamba Allah sekaligus pelayan masyarakat, atau khadimul ummah,” tutur Kurjum, suaranya tenang namun penuh keyakinan.
Jalan Panjang Pemikiran
Sejak muda, Kurjum akrab dengan diskusi-diskusi keislaman di pesantren dan forum akademik. Dari situlah ia membangun pandangan bahwa pemimpin sejati dalam Islam adalah khalifah, wakil Allah di bumi, yang memikul amanah besar untuk mengatur masyarakat sesuai prinsip keadilan.
Dalam bahasa Al-Qur’an, mereka juga disebut ulil amri, otoritas yang keberadaannya ditujukan demi kemaslahatan bersama. Namun, bagi Kurjum, istilah yang paling membekas adalah khadimul ummah pelayan umat.
Ia menegaskan, pemimpin tidak boleh menempatkan dirinya di menara gading. “Pemimpin harus hadir, dekat dengan rakyatnya, melayani dengan tulus, bukan dilayani,” ujarnya.
Dari ruang akademik yang hening itu, Kurjum merinci prinsip-prinsip yang membangun keharmonisan kepemimpinan. Ada enam hal yang ia anggap fundamental: keadilan, amanah, tanggung jawab, kemaslahatan umum, ketakwaan, dan kasih sayang.
Keadilan menuntut pemimpin berlaku tanpa keberpihakan, sementara amanah adalah bukti integritas moral. Tanggung jawab mengikat setiap keputusan pemimpin bukan hanya di hadapan masyarakat, melainkan juga di hadapan Allah.
Ketakwaan meneguhkan pijakan spiritual, sedangkan kemaslahatan umum memastikan semua kebijakan berpihak pada kesejahteraan bersama. Kasih sayang melengkapi semuanya, karena bagi Kurjum, kepemimpinan Islam tak bisa dilepaskan dari semangat rahmatan lil ‘alamin.
Di luar ruang akademik, gagasan Kurjum terasa kian relevan ketika dikaitkan dengan situasi kepemimpinan di Indonesia. Ia menyoroti bagaimana krisis kepercayaan terhadap elite politik, kasus korupsi, hingga kesenjangan sosial telah menimbulkan jarak antara rakyat dan pemimpinnya.
“Indonesia membutuhkan pemimpin yang hadir sebagai perekat persatuan dan pelayan masyarakat, bukan sekadar penguasa. Harmonisasi kepemimpinan menjadi kunci agar bangsa ini mampu menghadapi tantangan global sekaligus merawat nilai-nilai kebangsaan,” ucapnya menegaskan.
Harmoni yang Menyentuh Kemanusiaan
Pandangan Kurjum tidak berhenti pada teori. Dalam setiap kuliahnya, ia kerap menekankan bahwa pemimpin yang harmonis harus mampu memberdayakan masyarakat. Pendidikan dan pembinaan moral menjadi instrumen penting agar umat tidak sekadar mengikuti, tetapi juga tumbuh bersama pemimpinnya.
Di matanya, kepemimpinan adalah proses mendidik. “Seorang pemimpin yang harmonis bukan hanya mengatur, tetapi juga mendidik, memberdayakan, dan melayani umat dengan kasih sayang,” kata Kurjum.
Di kampus UINSA, gagasan itu tercermin dalam sikap kesehariannya. Mahasiswa mengenal Kurjum sebagai dosen yang ramah, mudah diajak berdiskusi, dan tak segan membuka pintu ruangannya untuk siapa pun yang ingin belajar.
Dari ruang akademik di Surabaya itulah, ia terus menebar gagasan tentang kepemimpinan yang harmonis. Sebuah gagasan yang tak hanya penting bagi umat Islam, tetapi juga bagi bangsa yang tengah mencari teladan pemimpin yang amanah, adil, dan penuh kasih. (*)
» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA
| Pewarta | : Jefri Hadi |
| Editor | : Mahrus Sholih |
Komentar & Reaksi