SUARA INDONESIA

Dari Meja Kopi ke Studio: Obrolan Aris Idol dan IHP tentang Single “Palsu” 

Jefri Hadi - 15 April 2026 | 03:04 - Dibaca 334 kali
Budaya Dari Meja Kopi ke Studio: Obrolan Aris Idol dan IHP tentang Single “Palsu” 
Vokalis Aris Idol (kaus gelap) gandeng IHP (Irvan Hits Production) saat di Kota Surabaya. Mereka segera rilis single berjudul 'Palsu' . (Foto: Yulian/Suaraindonesia.co.id)

SUARA INDONESIA, SURABAYA - Sore itu, suasana kafe di sudut kota Surabaya terasa hangat. Aroma kopi yang baru diseduh berpadu dengan obrolan ringan, mengalir santai tanpa sekat, Rabu (15/4/2026).

Di meja sederhana, Aris Idol duduk bersama Irvan, produser dari Irvan Hits Production (IHP), membicarakan satu hal yang kini jadi fokus mereka: single terbaru berjudul “Palsu”.

Bukan di studio rekaman megah, melainkan di antara tegukan kopi dan lalu-lalang pengunjung, ide-ide justru terasa lebih cair.

Aris memilih menikmati prosesnya tanpa terburu-buru, seperti cara ia menyesap kopi pelan, tapi penuh rasa.

“Kalau bikin karya itu nggak bisa dipaksakan cepat. Sama seperti ngopi, harus dinikmati prosesnya,” ujar Aris sambil tersenyum.

Di tengah obrolan santai itu, Aris bercerita soal strategi perilisan lagu “Palsu” yang ia garap bersama IHP. Alih-alih langsung merilis penuh, ia memilih langkah bertahap membangun rasa penasaran publik dari potongan-potongan kecil.

Dari kafe itu pula, ia membayangkan bagaimana lagu tersebut pertama kali diperkenalkan. Bukan lewat gebrakan besar, melainkan melalui momen intim: live akustik, siaran radio, hingga sesi santai di YouTube.

“Pelan-pelan saja. Kita kenalkan sedikit demi sedikit, biar orang penasaran,” katanya.

Irvan yang duduk di sampingnya mengangguk. Bagi produser di balik IHP itu, pendekatan ini bukan sekadar strategi, tapi bagian dari cara merawat karya agar tetap punya nilai.

“Kami memang sepakat tidak terburu-buru. Yang penting kualitasnya terasa, bukan hanya cepat rilis,” ujar Irvan.

Percakapan mereka sesekali terhenti oleh pelayan yang datang mengantarkan pesanan. 

Suasana kafe yang akrab justru memperkuat diskusi yang mengalir tanpa tekanan. Di titik itu, Surabaya bukan hanya kota persinggahan, tapi ruang kreatif yang memberi energi baru.

Aris mengaku, kunjungannya ke Surabaya kali ini memang untuk merampungkan proses produksi. Namun, ia tidak ingin kehilangan momen menikmati kota, termasuk budaya ngopi yang kental dengan nuansa santai.

“Di sini enak, suasananya dapat. Jadi sekalian kerja, sekalian menikmati,” ujarnya yang juga vokalis band ST-12 sekarang.

Dalam obrolan yang semakin hangat, Aris juga menyinggung proses kreatifnya memilih lagu.

Ia mengaku banyak menerima kiriman materi dari berbagai pencipta lagu, namun hanya sedikit yang benar-benar ia rasa cocok.

“Biasanya saya pakai feeling. Kalau lagu itu ‘kena’, pasti langsung terasa,” katanya.

Irvan menambahkan, lagu “Palsu” menjadi salah satu karya yang sejak awal terasa berbeda. Ada karakter kuat yang diyakini bisa diterima oleh pasar musik Indonesia.

“Lagu ini punya warna sendiri. Makanya kami optimistis bisa sampai ke pendengar,” ujarnya.

Menjelang malam, obrolan mulai mereda. Cangkir kopi yang tadi penuh kini tinggal ampas, namun ide yang tercipta justru semakin matang. 

Dari sudut kecil di Surabaya, langkah besar untuk “Palsu” sedang disusun pelan, tapi pasti.

Bagi Aris, perjalanan musik bukan sekadar soal rilis dan popularitas. Lebih dari itu, ia ingin setiap karya punya cerita, seperti sore itu: sederhana, hangat, dan penuh makna.

“Mudah-mudahan ‘Palsu’ bisa diterima. Yang penting kita sudah kasih yang terbaik,” ucapnya. (*)

» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA

Pewarta : Jefri Hadi
Editor : Mahrus Sholih

Share:

Komentar & Reaksi

Berita Terbaru Lainnya

Featured SIN TV