SUARA INDONESIA, SURABAYA — Di antara potongan kain yang semula dianggap tak lagi berguna, tangan-tangan kecil itu bekerja dengan penuh ketekunan.
Mereka memotong, melipat, lalu merangkai serpihan kaos bekas menjadi tas belanja yang bisa digunakan kembali. Sesekali terdengar tawa, diselingi raut serius saat mereka memastikan setiap simpul terikat rapi.
Di ruang itu, limbah bukan lagi sekadar sisa, ia berubah menjadi karya, sekaligus pelajaran tentang bagaimana mencintai bumi dimulai dari hal paling sederhana.
Momen tersebut berlangsung di Mercure Surabaya Grand Mirama (MSGM) yang berkolaborasi dengan Tunas Hijau dalam menyelenggarakan workshop daur ulang tekstil untuk memperingati Hari Bumi Sedunia.
Kegiatan ini diikuti sekitar 100 pelajar tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) se-Kota Surabaya, yang berkumpul di Hongkong Room untuk belajar mengolah limbah menjadi sesuatu yang bernilai.
"Bagi sebagian peserta, ini menjadi pengalaman pertama mereka bersentuhan langsung dengan konsep pengelolaan sampah berbasis kreativitas," tuturnya, Kamis (23/4/2026).
"Mereka diajak memahami bahwa barang bekas tidak selalu berakhir sebagai limbah, melainkan masih memiliki potensi untuk dimanfaatkan kembali,"
Melalui pendekatan yang edukatif dan interaktif, para siswa tidak hanya mendengar penjelasan, tetapi juga mempraktikkan langsung proses daur ulang.
Dalam workshop tersebut, kaos bekas disulap menjadi tas belanja ramah lingkungan yang dapat digunakan dalam aktivitas sehari-hari.
Sementara itu, ulasnya menambahkan sisa potongan kain yang biasanya terbuang dimanfaatkan menjadi gantungan kunci dengan berbagai bentuk dan warna.
Prosesnya sederhana, sehingga mudah diikuti oleh anak-anak, sekaligus memberi peluang untuk diterapkan kembali di rumah maupun di lingkungan sekolah.
“Melalui peringatan Hari Bumi Sedunia ini, kami ingin menghadirkan kegiatan yang tidak hanya seremonial, tetapi juga memberikan edukasi yang aplikatif bagi seluruh peserta,” ujar Sugito Adhi.
Ia menegaskan, kebiasaan mendaur ulang atau menggunakan kembali barang merupakan langkah sederhana yang dapat dilakukan siapa saja untuk mengurangi limbah.
“Kami berharap pengalaman ini dapat menginspirasi anak-anak untuk lebih peduli terhadap lingkungan dan mulai menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
Sepanjang kegiatan, suasana dipenuhi antusiasme. Para peserta aktif mengikuti setiap tahapan, mulai dari memotong kain hingga menyelesaikan produk daur ulang mereka.
Dari itu, terangnya tidak sedikit yang menunjukkan kreativitas tinggi dengan menghasilkan tas dan gantungan kunci berdesain unik. Dari tangan-tangan kecil itu, lahir karya yang tidak hanya fungsional, tetapi juga sarat makna.
Sementara itu, Presiden Tunas Hijau, Zamroni, menilai pendekatan edukasi seperti ini penting untuk menanamkan kesadaran lingkungan sejak dini.
“Kami percaya edukasi lingkungan harus dimulai dari anak-anak dengan pendekatan yang menyenangkan dan mudah dipahami. Workshop ini membuktikan bahwa proses belajar bisa dilakukan secara kreatif, sekaligus memberikan solusi nyata terhadap permasalahan limbah,” ujarnya.
Ia berharap kegiatan ini menjadi langkah awal bagi anak-anak untuk lebih mencintai bumi dan berperan sebagai agen perubahan di lingkungan masing-masing.
Menurutnya, kesadaran lingkungan tidak cukup hanya diajarkan, tetapi perlu dialami secara langsung agar meninggalkan kesan yang mendalam.
Kegiatan workshop ini, lanjutnya juga menjadi sarana pengenalan konsep reduce, reuse, recycle (3R) secara praktis.
"Anak-anak tidak hanya memahami makna dari ketiga prinsip tersebut, tetapi juga melihat dan merasakan bagaimana penerapannya dalam kehidupan sehari-hari," tuturnya.
Olehnya, pembekalan edukasi dari sebuah kaos bekas, mereka belajar bahwa mengurangi limbah bisa dimulai dari kebiasaan kecil yang konsisten.
Tak hanya itu, tambahnya sebagai bagian dari jaringan hotel global yang berkomitmen terhadap keberlanjutan, Mercure Surabaya Grand Mirama secara konsisten menghadirkan berbagai program ramah lingkungan.
Upaya tersebut, sebutnya mencakup pengelolaan energi dan air, pengurangan limbah plastik, hingga kegiatan sosial berbasis lingkungan seperti workshop ini.
Melalui kolaborasi bersama Tunas Hijau, hotel ini tidak hanya berperan sebagai penyedia layanan akomodasi, tetapi juga sebagai ruang edukasi dan penggerak kesadaran lingkungan di tengah masyarakat.
"Kegiatan ini menjadi bukti bahwa sektor perhotelan dapat berkontribusi aktif dalam upaya pelestarian lingkungan," tuturnya.
Lebih jauh, pengalaman yang dibawa pulang para peserta diharapkan tidak berhenti di ruang workshop.
Dari rumah ke sekolah, hingga lingkungan sekitar, nilai-nilai yang mereka pelajari berpotensi menyebar dan tumbuh menjadi kebiasaan baru.
Sebab pada akhirnya, menjaga bumi bukanlah tugas besar yang harus dilakukan sekaligus, melainkan rangkaian langkah kecil yang dilakukan secara bersama-sama.
Dari potongan kain yang dihidupkan kembali, anak-anak itu belajar satu hal penting: bahwa perubahan selalu punya titik awal. Dan sering kali, titik awal itu lahir dari hal sederhana dari apa yang ada di tangan mereka sendiri.
» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA
| Pewarta | : Jefri Hadi |
| Editor | : Alfiana Putri |
Komentar & Reaksi