SUARA INDONESIA

Menyusuri Jejak Roda di Jalur Malang Selatan: Dari Deru Mesin Uap MSM hingga Era Mikrolet

Aditya Mahatva Yodha - 24 April 2026 | 09:04 - Dibaca 284 kali
Budaya Menyusuri Jejak Roda di Jalur Malang Selatan: Dari Deru Mesin Uap MSM hingga Era Mikrolet
Trem uap di depan Pabrik Gula Krebet Bululawang Kabupaten Malang pada masa lalu. (Foto: Istimewa)

SUARA INDONESIA, MALANG - Hari ini, Jumat (24/4/2026) aspal di jalur Malang Selatan mungkin telah mulus dan dipadati kendaraan pribadi yang modern. Namun, bagi mereka yang bersedia menoleh ke belakang, jalanan ini menyimpan memori tentang deru mesin uap dan kendaraan roda tiga yang pernah menjadi urat nadi ekonomi Jawa Timur.

Jurnalis Suara Indonesia mencoba merangkai kembali kepingan sejarah transportasi Malang Selatan yang bermula jauh sebelum Indonesia mengenal kata merdeka.

Era Emas Kereta Trem (1897-1940-an)

Sejarah mencatat bahwa pada akhir abad ke-19, Malang Selatan adalah pionir transportasi massal. Bukan bus atau angkot, melainkan trem uap milik perusahaan swasta Belanda, Malang Stoomtram Maatschappij (MSM).

Data sejarah menunjukkan jalur pertama yang menghubungkan Malang Kotalama ke Bululawang resmi dibuka pada 14 November 1897.

Ekspansi besar-besaran dilakukan hingga mencapai Gondanglegi, Talok, dan berakhir di Dampit pada awal 1899. Tak berhenti di situ, pada tahun 1900, jalur cabang Gondanglegi-Kepanjen mulai beroperasi.

Kehadiran rel-rel ini bukan tanpa alasan. Malang Selatan saat itu adalah "ladang emas" perkebunan tebu. Trem-trem ini menjadi pahlawan bagi pabrik gula seperti PG Krebet dan PG Gondanglegi, mengangkut berton-ton hasil bumi menuju pelabuhan Surabaya.

Munculnya 'Demmo' dan Kejayaan Bemo

Memasuki dekade 1930-an, dominasi kereta mulai mendapat tantangan dari moda transportasi yang lebih fleksibel. Munculah Demmo, kendaraan unik hasil modifikasi sepeda motor bekas dengan bodi kotak kayu. Demmo menjadi favorit warga karena kecepatannya jauh melampaui dokar atau kereta kuda.

Pasca-kemerdekaan, tepatnya pada dekade 1960-an, wajah jalanan Malang Selatan berubah total dengan hadirnya Bemo (Daihatsu Midget). Kendaraan roda tiga asal Jepang ini dengan cepat merebut hati warga. Dengan ukuran yang mungil, Bemo mampu masuk ke gang-gang sempit dan menjangkau pelosok desa yang tak tersentuh rel MSM.

Terminal Sawahan: Titik Kumpul Memori

Bagi generasi 60-an dan 70-an, Terminal Sawahan di selatan Kota Malang adalah jantung pergerakan. Di sinilah ribuan warga memulai perjalanan mereka menuju wilayah kabupaten. Dari titik inilah bus-bus antarkota dan angkutan lawas berangkat, membawa cerita tentang pedagang pasar yang tangguh hingga kerinduan keluarga yang saling berkunjung.

Transformasi Menuju Modernitas

Kejayaan Bemo sebagai "raja jalanan" akhirnya mulai meredup seiring kebutuhan kapasitas angkut yang lebih besar. Pada tahun 1997, sistem transportasi mengalami perombakan besar dengan peresmian mikrolet atau angkutan kota (angkot) modern yang kita kenal sekarang dengan kode trayek khusus.

Kini, meski sebagian besar rel MSM telah tertimbun aspal atau hilang saat masa pendudukan Jepang, identitas Malang Selatan sebagai wilayah yang dibangun di atas roda transportasi publik tetap abadi.

Di Hari Angkutan Umum Nasional 2026 ini, kilas balik ini menjadi pengingat bahwa kemajuan hari ini adalah warisan dari suara peluit kereta uap dan guncangan Bemo yang pernah membelah keheningan lereng selatan. (*)

 

» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA

Pewarta : Aditya Mahatva Yodha
Editor : Alfiana Putri

Share:

Komentar & Reaksi

Berita Terbaru Lainnya

Featured SIN TV