SUARA INDONESIA

Komunitas Pecinta Satwa Surabaya Dorong Sterilisasi Gratis, Tekan Populasi Hewan Terlantar 

Jefri Hadi - 30 April 2026 | 15:04 - Dibaca 307 kali
Budaya Komunitas Pecinta Satwa Surabaya Dorong Sterilisasi Gratis, Tekan Populasi Hewan Terlantar 
Momentum meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya tanggung jawab memelihara hewan. (Foto: Yulian/suaraindonesia.co.id)

 

 SUARA INDONESIA, SURABAYA — Founder (pendiri) Komunitas PAW The Gank, Lulu Soegito, bersama Founder Griya Satwa Surabaya, Djati Purnamawati, menggelar kegiatan edukasi sekaligus aksi sosial bagi hewan terlantar di Surabaya, Kamis (30/4/2026).

Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang perayaan, tetapi juga momentum meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya tanggung jawab memelihara hewan.

Lulu Soegito, yang akrab disapa Ce Lulu, menceritakan awal mula kegiatan tersebut berangkat dari proses penyelamatan (rescue) seekor anjing jalanan. 

“Anjing ini kami temukan di jalan bersama rekan saya. Awalnya kami kira hanya sakit, ternyata setelah diperiksa di klinik hewan, diketahui sedang hamil,” ujar Lulu.

Ia menjelaskan, setelah proses penyelamatan, anjing tersebut langsung mendapatkan perawatan medis intensif.

“Kami bawa ke klinik, diperiksa, dan akhirnya diputuskan untuk tindakan operasi karena kondisinya. Dari situ lahirlah enam anak anjing,” katanya.

Menurut Lulu, anjing tersebut merupakan jenis campuran. “Ini anjing mix, campuran antara ras dan anjing kampung. Karena ditemukan di jalan, kami tidak mengetahui asal-usul induk maupun pejantan,” jelasnya.

Momentum kelahiran anak anjing tersebut kemudian menjadi alasan diadakannya kegiatan perayaan sederhana yang dikemas dalam bentuk edukasi publik. 

“Kami diminta mengisi acara komunitas, kebetulan bertepatan dengan ulang tahun anjing rescue ini yang genap satu tahun. Jadi sekalian kami buat kegiatan yang bermanfaat,” ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut, Lulu juga menggagas program sterilisasi gratis bagi hewan terlantar. 

“Sebagai bentuk kepedulian, saya memberikan donasi sterilisasi gratis untuk 50 ekor anjing dan kucing. Ini sebagai hadiah sekaligus ajakan bagi sesama pecinta hewan untuk lebih peduli,” kata Lulu.

Sementara itu, Djati Purnamawati menjelaskan bahwa shelter yang dikelolanya berfungsi sebagai rumah singgah sementara bagi hewan yang membutuhkan pertolongan. 

“Shelter itu seperti tempat singgah. Hewan yang sakit kami rawat terlebih dahulu, setelah sehat baru kami upayakan untuk diadopsi,” ujarnya.

Djati menuturkan, dirinya telah berkecimpung dalam kegiatan penyelamatan hewan sejak puluhan tahun lalu. 

“Saya sudah sekitar 40 tahun melakukan ini, sejak usia 20 tahun. Bukan sekadar hobi, tapi lebih karena rasa kasihan ketika melihat hewan terlantar di jalan,” ungkapnya.

Ia mengakui, jumlah hewan terlantar di Surabaya masih cukup tinggi. Namun, kepedulian masyarakat juga mulai tumbuh.

“Banyak komunitas maupun individu yang membantu, meskipun tidak memiliki shelter. Mereka tetap memberi makan hewan di jalan sesuai kemampuan masing-masing,” katanya.

Selain edukasi dan sterilisasi, kegiatan tersebut juga diisi dengan berbagai aktivitas interaktif. 

“Kami mengadakan permainan dan menjual perlengkapan hewan. Hasil penjualannya akan disumbangkan untuk kebutuhan shelter,” jelas Lulu.

Djati menambahkan, pihaknya juga kerap mengadakan kegiatan berbagi pakan gratis di beberapa titik di Surabaya. 

“Kami bersama komunitas sering membagikan pakan gratis untuk kucing jalanan, salah satunya di kawasan Wonorejo. Ini bentuk kolaborasi agar semakin banyak yang peduli,” ujarnya.

Meski demikian, Djati menegaskan bahwa shelter bukan solusi utama untuk menampung seluruh hewan terlantar.

“Shelter kami bersifat mandiri, dengan keterbatasan biaya dan lahan. Jadi kami tidak bisa menerima semua laporan atau menampung semua hewan,” tegasnya.

Ia lebih menekankan pentingnya edukasi kepada masyarakat.

“Kalau menemukan hewan terlantar, kami bisa bantu dari sisi edukasi atau pakan. 

Tapi untuk penampungan, harus disesuaikan dengan kapasitas kami,” katanya.

Program sterilisasi yang diinisiasi Lulu juga menjadi bagian dari solusi jangka panjang. “Tujuannya agar populasi hewan terlantar bisa ditekan. Selain itu, kami juga terus mendorong program adopsi,” kata Djati.

Di akhir kegiatan, kedua narasumber menyampaikan pesan moral kepada masyarakat terkait tanggung jawab memelihara hewan. 

Lulu menegaskan, pemilik hewan harus memiliki komitmen jangka panjang. “Kalau memelihara hewan, jangan sampai dibuang ketika bosan atau saat hewan sakit,” ujarnya.

Djati pun menambahkan, tindakan membuang hewan ke jalan hanya akan memperburuk kondisi. 

“Banyak kasus hewan dibuang begitu saja, terutama anjing kampung. Ini yang harus dihentikan,” katanya.

Ia mengajak masyarakat untuk lebih peduli dan bertanggung jawab. “Kalau sudah memelihara, rawat dengan baik sampai akhir hayatnya. Itu bentuk komitmen kita terhadap makhluk hidup,” ujar Djati.

Sementara itu, satu diantara peserta kontes anjing yang hadir, Yulia, turut memberikan tanggapannya terkait kegiatan tersebut. Ia menilai peran komunitas sangat penting dalam membantu hewan yang terlantar.

“Bu Lulu dikenal aktif menolong anjing-anjing yang dibuang, bahkan yang dalam kondisi sakit atau terluka. Banyak kasus hewan yang ditelantarkan, seperti dikurung tanpa perawatan atau dibuang begitu saja,” ujar Yulia.

Ia juga mengaku telah lama mengenal Lulu Soegito dan Djati Purnamawati serta melihat langsung konsistensi mereka dalam kegiatan penyelamatan. 

“Komunitas ini tidak bekerja sendiri, ada banyak relawan yang ikut membantu proses rescue di lapangan,” katanya.

Yulia menyoroti kondisi hewan terlantar di Surabaya yang dinilainya semakin meningkat dalam beberapa waktu terakhir.

“Belakangan ini jumlah hewan yang dibuang atau diterlantarkan semakin banyak dibandingkan sebelumnya,” ujarnya.

Menurutnya, hewan-hewan tersebut sering ditemukan di lokasi yang tidak layak.

“Banyak ditemukan di tempat pembuangan sampah, di bawah jembatan, bahkan ada yang berkeliaran di jalan raya atau kawasan yang tidak jelas pemiliknya,” katanya.

Ia menilai kondisi tersebut menunjukkan masih rendahnya kesadaran sebagian masyarakat terhadap tanggung jawab memelihara hewan. 

“Masih sering kita temui hewan yang dilepas begitu saja tanpa perawatan,” ujarnya.

Yulia pun mengimbau masyarakat untuk lebih peduli dan bertanggung jawab.

“Sebagai sesama makhluk hidup, kita harus memiliki kepedulian. Kalau memelihara hewan, harus dirawat dengan baik dan tidak ditelantarkan,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga hewan peliharaan agar tidak berkeliaran tanpa pengawasan. “Jangan sampai hewan peliharaan keluar rumah dan akhirnya tersesat atau menjadi terlantar,” ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut, Yulia turut mengikuti kontes anjing bersama hewan peliharaannya. “Hari ini saya ikut kontes dengan anjing saya yang bernama Cynthia,” katanya.

Di akhir kegiatan, Lulu dan Djati kembali menegaskan pentingnya komitmen dalam memelihara hewan. “Jangan membuang hewan ketika sudah bosan atau saat sakit,” ujar Lulu.

Djati menambahkan, kepedulian masyarakat menjadi kunci utama dalam menekan jumlah hewan terlantar. “Kalau sudah memelihara, rawat sampai akhir hayatnya. Itu bentuk tanggung jawab kita,” katanya.

Melalui kolaborasi antara komunitas dan partisipasi masyarakat, mereka berharap kesadaran terhadap kesejahteraan hewan di Surabaya terus meningkat dan terjamin.

 

 

 

 

» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA

Pewarta : Jefri Hadi
Editor : Alfiana Putri

Share:

Komentar & Reaksi

Berita Terbaru Lainnya

Featured SIN TV