SUARA INDONESIA, JEMBER - Rektor UIN KHAS Jember, Prof. Hepni, menyampaikan peringatan keras soal arah hidup umat Islam dalam khutbah Iduladha 1446 H di Polres Jember, Jumat (6/6). Di hadapan jajaran kepolisian dan jemaah, ia menegaskan bahwa kemewahan dunia modern kerap membuat umat kehilangan kompas spiritual.
“Pertanyaannya sederhana, tapi menentukan: ke mana kita akan pergi?” ujar Hepni mengutip firman Allah dalam QS. At-Takwir: Fa ayna tadzhabun? (Maka ke mana kamu akan pergi?).
Ia menjelaskan, peringatan Iduladha bukan sekadar ritual tahunan atau seremoni kurban, melainkan momentum untuk mengevaluasi orientasi hidup. “Kisah Nabi Ibrahim, Siti Hajar, dan Ismail bukan dongeng keimanan. Itu peta hidup yang menunjukkan ke mana seharusnya kita melangkah,” katanya.
Dalam khutbahnya, Hepni menyoroti ujian ekstrem yang menimpa keluarga Nabi Ibrahim AS. Hijrah ke padang tandus, kehabisan bekal, hingga perintah penyembelihan anak sendiri. “Tapi mereka tidak kehilangan arah. Karena mereka tahu, hidup bukan soal selamat dari ujian, melainkan tunduk kepada yang memberi ujian,” ucapnya.
Ia menekankan bahwa banyak umat Islam hari ini justru disesatkan oleh ambisi dan pencapaian semu. “Kedudukan, kekuasaan, dan harta telah mengalihkan kita dari pertanyaan utama: apakah semua ini menuju rida Allah atau sekadar pencapaian duniawi?” tanyanya kepada jemaah.
Menurut Hepni, kehilangan arah spiritual adalah ancaman serius di tengah gemerlap zaman. “Kita sibuk berlari, tapi tak tahu ke mana. Tanpa keyakinan, hidup hanya mengejar bayangan. Tanpa ketundukan, kesuksesan jadi ilusi,” lanjutnya.
Ia juga mengajak umat untuk kembali pada keteladanan keluarga Ibrahim yang menempatkan kehendak Allah di atas logika manusia. “Inilah saatnya kita berhenti sejenak, bertanya dengan jujur: ke mana kita benar-benar ingin pergi?” imbuhnya.
Khutbah ditutup dengan seruan untuk membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya arah hidup yang terukur secara spiritual. “Dari kisah Ibrahim, semestinya lahir generasi pemancar zamzam baru. Mereka yang tidak hanya hidup, tapi menghidupkan,” pungkasnya. (*)
» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA
| Pewarta | : Fathur Rozi |
| Editor | : Mahrus Sholih |
Komentar & Reaksi