SUARA INDONESIA

Jejak Amanah ke Baitullah: Kisah Dona dan Doni Melanjutkan Langkah Orang Tua

Anggun Fitria - 20 June 2026 | 22:06 - Dibaca 175 kali
News Jejak Amanah ke Baitullah: Kisah Dona dan Doni Melanjutkan Langkah Orang Tua
Dua bersaudara Dona dan Doni saat berangkat ke tanah suci. (Foto: Kemenhaj Sumbar).

SUARA INDONESIA, PADANG - Lebaran tahun lalu menjadi hari raya terakhir yang dirasakan lengkap oleh Dona Putra (32) dan kakaknya, Doni, bersama ayah dan ibu mereka. Belum genap luka duka kepergian sang ayah mengering, keluarga kembali diuji dua bulan kemudian dengan wafatnya ibu tercinta.

Dalam sekejap, dua sosok yang menjadi tempat pulang dan panutan itu tiada. Namun, di tengah kesedihan mendalam, tersimpan satu harapan besar yang belum sempat terwujud yaitu dua porsi haji yang telah didaftarkan kedua orang tua mereka sejak tahun 2013.

Takdir berkata lain, sebelum giliran berangkat tiba, mereka telah dipanggil lebih dahulu. Melalui proses pelimpahan hak yang diatur ketentuan, amanah berharga itu pun beralih ke pundak Dona dan Doni.

“Awalnya perasaan itu campur aduk. Ada rasa sedih karena kami berangkat menggantikan orang tua yang sudah tiada. Tapi kami mantapkan hati dan niat. Kami yakini, apa yang kami kerjakan ini semoga menjadi kelanjutan amal kebaikan dan doa bagi almarhum ayah dan ibu,” kenang Dona, usai tiba bersama Kloter 14 Embarkasi Padang di Bandara Internasional Minangkabau, Sabtu (20/6/2026).

Perjalanan mengemban amanah itu sama sekali tidak mudah, tantangan terbesar datang dari sisi pembiayaan, saat proses pelimpahan dimulai, keduanya belum memiliki gambaran jelas dari mana dana pelunasan akan diperoleh, bahkan sempat terbersit pikiran bahwa mungkin hanya satu orang saja yang bisa berangkat mengingat keterbatasan biaya.

Namun, pertolongan datang dari jalan yang tak disangka. Doni memilih meneruskan pengelolaan kebun jeruk dan sawah peninggalan orang tua di Kecamatan Bukit Barisan, Kabupaten Limapuluh Kota.

Menjelang waktu pelunasan tiba, panen tiba dengan berkah yang melimpah yang awalnya diperkirakan hanya menghasilkan sekitar 500 kilogram, hasilnya justru dua hingga tiga kali lipat lebih banyak dari perkiraan.

“Bagi kami, ini bukan sekadar hasil bertani. Ini rezeki yang Allah kirimkan untuk melancarkan niat kami. Dari hasil kebun itulah kami mampu melunasi biaya, dan akhirnya kami berdua bisa berangkat bersama, bukan seorang saja,” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.

Lain halnya dengan Doni, lain lagi ceritanya dengan Dona, ia pun harus melepaskan sesuatu yang berharga demi amanah ini. Dona memutuskan berhenti dari pekerjaannya sebagai karyawan sebuah perusahaan aplikasi di Dharmasraya.

Mengingat durasi ibadah haji yang memakan waktu berbulan-bulan, izin cuti panjang tidak memungkinkan diperoleh. Baginya, kesempatan seperti ini tidak akan datang dua kali.

“Mengemban amanah orang tua jauh lebih berharga daripada pekerjaan apa pun. Saya rela melepaskannya demi bisa melanjutkan langkah yang sempat terhenti itu,” imbuhnya.

Kini, setelah selesai menjalankan ibadah dan kembali ke tanah air, perasaan itu masih terasa kental: syukur yang mendalam bercampur kerinduan yang tak terkira.

Ia tak lupa mengenang pesan ibunya yang semasa hidup sering bertanya, “Kapan giliran kita berangkat haji?”

“Setiap kali kami melangkah di Tanah Suci, kami selalu membawa nama dan doa mereka. Kami merasa sedang menyelesaikan apa yang mereka impikan bertahun-tahun lamanya. Semoga haji kami ini menjadi haji yang mabrur, dan menjadi hadiah terindah untuk ayah dan ibu di sisi-Nya,” tutupnya.

Kisah Dona dan Doni menjadi pengingat indah amanah tidak pernah berakhir meski pemiliknya telah tiada.

Dengan ikhtiar, kesabaran, dan keyakinan, langkah yang sempat terhenti akhirnya dapat dilanjutkan dengan membuktikan bahwa jalan menuju Baitullah senantiasa terbuka bagi mereka yang memegang teguh janji dan harapan. (*)

» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA

Pewarta : Anggun Fitria
Editor : Alfiana Putri

Share:

Komentar & Reaksi

Berita Terbaru Lainnya

Featured SIN TV