SUARA INDONESIA

300 Seniman Lintas Generasi Komitmen Lestarikan Kesenian Adiluhung

Tim - 29 August 2022 | 20:08
Pemerintahan 300 Seniman Lintas Generasi Komitmen Lestarikan Kesenian Adiluhung

PONOROGO - Sebanyak 300 orang seniman lintas generasi di Kabupaten Ponorogo berkomitmen menjadi bagian dari ekosistem jejaring kota kreatif Indonesia dengan sub sektor unggulan seni pertunjukan.

Salah satu buktinya kemeriahan malam Spektakuler Tutup Grebeg Suro di monumen bantarangin, Desa Sumoroto, Kecamatan Kauman, Sabtu (27/8/2022).

Ragam seni pertunjukan dimainkan dan dipadukan indah oleh 300 seniman lintas generasi.

Acara itu pula dibuka dengan tabuhan Reog dan tabuhan Lesung, secara bergantian Tari Kalo, Tari Nyiru, Tari Bapang, Tari Tampah Bubrah dan Tari Thole mampu memukau pengunjung.

Untuk menyambut kedatangan Kang Bupati Sugiri Sancoko pertunjukan pun diracik tidak kalah indahnya saat sepuluh pembawa obor 8 pemainan

Dadhak Merak, penari Jathil, Tari Bedoyo, Tari Sasanjung mengiringi kedatangannya.

Kemudian secara bergantian tampil memukau dengan wirasa, wirama, dan wiraga yang dipadukan dengan sempurna.

Puncaknya, suguhan Drama Tari Musikal bantarangin bumi Reog Pertiwi yang memadukan penampilan Grup Reog Singo Sumowicitro, dagelan, lagu Ambyar dan lagu Nasional mampu membius penonton.

Pada malam itu, di Bumi tempat Reog Ponorogo dilahirkan.

Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko menancapkan tongkat warok sebagai tanda komitmen melestarikan dan memperkenalkan kesenian adiluhung yang diwariskan leluhur kepada masyarakat dunia.

Komitmen inilah, menurut Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko yang harus dipegang dan ditradisikan sampai kapanpun.

Menurut Sugiri, tidak hanya sebagai balas budi kepada leluhur, namun diharapkan bisa menjadi pengungkit ekonomi.

Dia menjelaskan, bantarangin adalah kota tua, disinilah kita yakini bersama sama Reog Ponorogo dilahirkan.

" Di bumi inilah cerita indah tentang Ponorogo dimulai. Oleh karenanya maka sebagai anak muda yang diberi amanah oleh leluhur," imbuhnya.

Dia mengatakan, semua wajib melestarikan, tidak hanya nguri-nguri tapi bagaimana Reog Ponorogo yang dicintai bersama harus diproyeksikan untuk membuat Ponorogo menjadi moncer dikalangan Internasional.

“Kita dorong agar UNESCO mau mengakui dengan jujur bahwa ICH harus turun untuk Reog Ponorogo. Ini penting karena yang pertama, kami ingin balas budi ke leluhur yang telah menciptakan Reog. Kedua untuk memoncerkan Ponorogo agar pertumbuhan ekonomi luar biasa,”pungkasnya. (afs/adv).***

Pewarta : Tim
Editor : Lutfi Hidayat

Share:

Komentar & Reaksi

Berita Terbaru Lainnya

Featured SIN TV