SUARA INDONESIA - Cuaca ekstrem kembali menunjukkan taringnya di Afrika Timur. Sedikitnya 23 orang dinyatakan tewas di Nairobi setelah hujan deras semalaman memicu banjir bandang yang melumpuhkan ibu kota Kenya tersebut.
Pihak kepolisian melaporkan bahwa sebagian besar korban tewas akibat terseret arus sungai yang meluap, sementara beberapa lainnya kehilangan nyawa karena tersengat listrik dari infrastruktur yang terendam.
Hingga saat ini, operasi penyelamatan masih terus berlangsung untuk mengevakuasi puluhan warga yang terjebak di tengah kepungan air.
Kerusakan Infrastruktur dan Mobilitas yang Lumpuh
Militer Kenya telah dikerahkan ke titik-titik krusial untuk membantu warga yang terjebak di dalam kendaraan mereka. Kerusakan properti dilaporkan terjadi secara luas, mulai dari kawasan industri Grogan hingga distrik kelas atas Westlands.
Jalan-jalan utama seperti Mombasa Road dan Uhuru Highway kini berubah menjadi sungai yang mematikan, menyebabkan kemacetan total dan kendaraan yang mogok di mana-mana.
Dampak banjir ini bahkan merambah ke sektor penerbangan, di mana sejumlah jadwal penerbangan menuju Bandara Nairobi terpaksa dibatalkan atau dialihkan ke kota pantai Mombasa.
Peringatan Cuaca dan Ancaman Banjir Susulan
Departemen Meteorologi Kenya telah mengeluarkan peringatan bahwa intensitas hujan diperkirakan tetap tinggi hingga 9 Maret mendatang. Level air sungai diprediksi akan terus merangkak naik, menempatkan wilayah Central Highlands dan Danau Victoria dalam status siaga satu.
Tragedi ini menjadi pengingat pahit atas bencana serupa tahun lalu yang merenggut ratusan nyawa di Kenya dan Tanzania.
Pemerintah mengimbau warga untuk menjauhi saluran drainase dan area rendah guna menghindari bertambahnya korban jiwa di tengah ketidakpastian iklim ini.
» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA
| Pewarta | : Aditya (Konten Writer) |
| Editor | : Alfiana Putri |
Komentar & Reaksi