SINJAI-Banjir pribadi yang terus berulang di sejumlah wilayah Kabupaten Sinjai dalam beberapa tahun terakhir mulai memunculkan berbagai sorotan dari masyarakat.
Kondisi tersebut bahkan melahirkan anggapan bahwa Sinjai kini layak disebut sebagai “kabupaten ramah banjir” akibat masih lemahnya pengelolaan lingkungan dan penanganan drainase di sejumlah kawasan.
Di bawah kepemimpinan Bupati Sinjai Hj. Ratnawati Arif bersama Wakil Bupati Andi Mahyanto Mazda, berbagai program pembangunan terus berjalan.
Namun, sebagian masyarakat menilai perhatian terhadap pelestarian lingkungan, normalisasi sungai, dan perbaikan saluran drainase masih perlu ditingkatkan.
Saat curah hujan tinggi, sejumlah titik rawan banjir kembali tergenang dan mengganggu aktivitas warga.
Bahkan, kawasan Rumah Jabatan Bupati Sinjai serta sejumlah ruas jalan protokol serta terdampak menampung udara.
Selain faktor cuaca ekstrem, minimnya kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan, penyempitan daerah resapan air, serta buruknya sistem drainase disebut menjadi penyebab utama banjir yang terus berulang.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas kebijakan pemerintah daerah dalam pencegahan bencana hidrometeorologi tersebut.
Sejumlah warga berharap pemerintah daerah lebih serius memperkuat program mitigasi bencana, melakukan rehabilitasi kawasan resapan air, serta meningkatkan edukasi masyarakat terkait pentingnya menjaga lingkungan.
“Tanpa langkah konkret dan berkelanjutan, banjir berpotensi menjadi masalah tahunan yang terus membayangi Kabupaten Sinjai,” ujar Sainal, warga Jalan Cokroaminoto, Kamis (4/6/2026).
Menurut Sainal, saat Kabupaten Sinjai dipimpin Pejabat (Pj) Bupati TR Fahsul Falah, berbagai upaya penanganan banjir dilakukan secara intensif, termasuk pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Tanggap Darurat yang dinilai memberikan dampak signifikan.
"Pemerintah harus memiliki solusi. Saat dipimpin Pak TR Fahsul Falah selama kurang lebih setahun, Sinjai relatif terbebas dari banjir karena berbagai langkah cepat yang dilakukan pada masa tanggap darurat,” katanya.
Hal senada disampaikan Cacang, warga Jalan Wolter Monginsidi.
Ia membandingkan kondisi saat ini dengan masa kepemimpinan Pj Bupati TR Fahsul Falah yang dinilainya berhasil melakukan normalisasi kanal dan drainase di sejumlah titik rawan banjir.
Menurutnya, kawasan Jalan Tondong dan sekitarnya yang sebelumnya sering tergenang saat hujan deras, sempat terbebas dari banjir setelah dilakukan normalisasi saluran air.
“Sebenarnya kalau pemerintah sekarang mau mengadopsi sistem yang pernah diterapkan Pak TR Fahsul Falah, kemungkinan besar Sinjai bisa terbebas dari banjir yang selama ini menjadi langganan,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Persandian Kabupaten Sinjai yang dikonfirmasi terkait adanya penilaian masyarakat yang melabeli Sinjai sebagai “kabupaten ramah banjir” belum memberikan tanggapan.
Masyarakat berharap pemerintah tidak hanya fokus pada pembangunan fisik, tetapi juga memberikan perhatian lebih terhadap keingintahuan lingkungan.
Sebab, keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari besarnya infrastruktur yang dibangun, melainkan juga dari kemampuan daerah melindungi warganya dari ancaman bencana yang terus berulang.
Diketahui, banjir kembali melanda Kabupaten Sinjai pada Kamis (4/6/2026) setelah hujan dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah tersebut sejak Rabu malam (3/6/2026).
Wilayah yang terdampak paling parah berada di Kecamatan Sinjai Utara, khususnya kawasan perkotaan.
Sejumlah ruas jalan yang terendam antara lain Jalan Persatuan Raya, Jalan Tondong, Jalan Abdul Latif, Jalan Gunung Lompobattang, Bulu Kunyi, Jalan Pramuka, dan Jalan Bulu Lohe.
Selain merendam rumah warga dan sejumlah kafe, banjir juga menggenangi beberapa kantor pemerintahan.
Kawasan Rumah Jabatan Bupati Sinjai pun terpantau dikepung banjir.
Sementara di Kecamatan Sinjai Timur, beberapa kapal penongkol milik nelayan di Desa Panaikang dan Desa Tongke-Tongke dilaporkan hanyut di Sungai Baringeng akibat tingginya debit udara dan derasnya arus sungai.
Laporan tersebut disampaikan Kepala Desa Panaikang, Bahtiar, melalui grup WhatsApp Info Bencana Sinjai.
» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA
| Pewarta | : Irman |
| Editor | : Alfiana Putri |
Komentar & Reaksi