SUARA INDONESIA

Alih Fungsi Lahan Picu Sedimentasi, Waduk Mrica Banjarnegara Hadapi Ancaman Risiko Jebol

Iwan Setiawan - 22 July 2026 | 09:07 - Dibaca 51 kali
Peristiwa Alih Fungsi Lahan Picu Sedimentasi, Waduk Mrica Banjarnegara Hadapi Ancaman Risiko Jebol
Kondisi Waduk Mrica di Kabupaten Banjarnegara yang mengalami sedimentasi sehingga kapasitas tampung air terus berkurang. (Foto: Dok BPBD Banjarnegara untuk Suara Indonesia)

SUARA INDONESIA BANJARNEGARA – Sedimentasi yang terus menggerus kapasitas tampung Waduk Mrica menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Banjarnegara.

Kondisi tersebut dinilai meningkatkan risiko apabila terjadi situasi darurat, sehingga BPBD Banjarnegara memperkuat mitigasi bencana melalui pembentukan Kecamatan Tangguh Bencana (Kencana) di wilayah hilir bendungan.

Hal itu disampaikan Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Banjarnegara, Junaedi, saat kegiatan Penguatan Kapasitas Kawasan untuk Pencegahan dan Kesiapsiagaan Terhadap Bencana di Aula Kantor Kecamatan Purwareja Klampok, Selasa (21/7/2026).

Junaedi mengatakan, kapasitas tampung Waduk Mrica saat ini diperkirakan hanya tersisa sekitar 8 persen akibat sedimentasi yang terus meningkat. Karena itu, masyarakat di wilayah hilir perlu memahami langkah-langkah mitigasi apabila sewaktu-waktu terjadi kondisi darurat.

Menurutnya, jika terjadi skenario terburuk berupa jebolnya bendungan, dampaknya berpotensi menjangkau empat kabupaten, yakni Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, dan Cilacap.

"Permukiman yang berada di sepanjang aliran Sungai Serayu, terutama dalam radius sekitar satu kilometer, menjadi kawasan yang berisiko terdampak banjir," katanya.

"Mitigasi bencana dilakukan sebagai upaya menghadapi berbagai potensi risiko, termasuk apabila terjadi bencana akibat pengaruh megathrust. Di wilayah Purwareja Klampok hingga Susukan yang merupakan daerah hilir, terdapat potensi risiko besar apabila terjadi jebolnya tanggul Waduk Mrica," kata Junaedi.

Junaedi menjelaskan, meningkatnya sedimentasi tidak lepas dari alih fungsi lahan di kawasan hulu. Pembukaan lahan, termasuk untuk pertanian kentang dan salak, menyebabkan erosi semakin tinggi. Material tanah kemudian terbawa aliran Sungai Merawu, Serayu, dan Tulis hingga mengendap di Waduk Mrica.

"Akibatnya, waduk yang diresmikan pada 1989 tersebut mengalami penyusutan kapasitas tampung lebih cepat dari perkiraan. Kondisi itu menjadi salah satu alasan pemerintah terus mendorong upaya penyelamatan waduk," ujarnya.

Sebagai langkah penanganan, Pemerintah Kabupaten Banjarnegara telah mengusulkan kepada pemerintah pusat agar dilakukan penyedotan sedimentasi menggunakan pipa berukuran besar.

"Teknologi tersebut diharapkan mampu mengurangi endapan tanah di dasar waduk sehingga kapasitas tampung air dapat kembali meningkat dan fungsi Waduk Mrica tetap terjaga," imbuhnya.

Selain penanganan sedimentasi, BPBD Banjarnegara menilai peningkatan kesiapsiagaan masyarakat melalui program Kecamatan Tangguh Bencana menjadi langkah penting untuk meminimalkan risiko apabila terjadi bencana di masa mendatang. (*)

» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA

Pewarta : Iwan Setiawan
Editor : Alfiana Putri

Share:

Komentar & Reaksi

Berita Terbaru Lainnya

Featured SIN TV