SUARA INDONESIA, MOJOKERTO - Suasana berbeda terasa saat memasuki Pasar Keramat di Dusun Pong Boto, Warugunung, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.
Pasar ini unik karena hanya buka setiap Minggu Wage dan Minggu Kliwon, dua hari dalam penanggalan Jawa yang sarat makna budaya.
Sejak pagi, mulai dari pukul 06.00 WIB ratusan pengunjung memadati pasar yang dikelilingi rumpun bambu, menciptakan nuansa tradisional yang kuat.
Keunikan utamanya, transaksi di pasar ini tidak menggunakan rupiah, melainkan koin bambu yang ditukar sebelum masuk area pasar.
Pengunjung dapat membeli berbagai makanan dan kerajinan khas Jawa, seperti sego gandul, lodeh, opor ayam, telur bacem, tempe, hingga sayur tradisional yang disajikan dalam wadah gerabah dan daun pisang.
Suasana kian hidup dengan deretan lapak bambu, aroma masakan tempo dulu, dan keramahan para pedagang berpakaian batik.
Selain kuliner, pasar ini juga menampilkan karya seni lokal seperti topeng kayu bermakna filosofis, pertunjukan musik, hingga proses pembuatan makanan tradisional.
Anak-anak menikmati mainan kayu, sementara orang tua bernostalgia dengan jajanan lawas seperti onde-onde, klepon, dan tiwul.
Rintis Mulyasari, pengunjung asal Sidoarjo, mengaku datang khusus bersama keluarganya untuk menikmati suasana pasar tempo dulu yang kini semakin langka dijumpai.
Ia menuturkan, keberadaan Pasar Keramat menjadi cara menarik untuk mengenalkan budaya Jawa kepada anak-anaknya secara langsung, bukan hanya lewat cerita.
“Sekarang jarang ada tempat seperti ini. Anak-anak jadi tahu bagaimana suasana pasar tradisional zaman dulu, belajar menghargai budaya sendiri, dan mengenal nilai gotong royong lewat interaksi dengan pedagang,” ujar Rintis saat ditemui, Minggu 5 Oktober 2025.
Masih menurut Rintis, pengalaman berkeliling di antara lapak bambu, mendengar alunan gamelan, dan mencicipi kuliner khas seperti lodeh serta tiwul memberi kesan tersendiri.
“Rasanya seperti kembali ke masa kecil di kampung,” tambahnya dengan senyum.
Dengan atmosfer bambu yang teduh, aroma masakan tradisional yang menggoda, dan sistem transaksi menggunakan koin bambu yang unik, Pasar Keramat tidak sekadar tempat berbelanja, tetapi juga ruang edukasi budaya yang hidup.
Setiap sudutnya menghadirkan kehangatan, nostalgia, dan kebanggaan akan warisan budaya Jawa yang tetap lestari di tengah arus modernisasi. (*)
» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA
| Pewarta | : Amrizal Zulkarnain |
| Editor | : Mahrus Sholih |
Komentar & Reaksi