SUARA INDONESIA

Bupati Hamid Dorong ZISWAF Produktif Saat Seminar Pesantren Bondowoso Menuju Kemandirian Ekonomi

Bahrullah - 20 June 2026 | 15:06 - Dibaca 1.05k kali
Advertorial Bupati Hamid Dorong ZISWAF Produktif Saat Seminar Pesantren Bondowoso Menuju Kemandirian Ekonomi
Bupati Bondowoso KH Abd. Hamid Wahid menyampaikan sambutan sekaligus membuka Seminar Sinergi Membangun Ekosistem ZISWAF Produktif Pesantren yang Mandiri dan Berkelanjutan di Pendopo Kabupaten Bondowoso, Sabtu (20/6/2026).

BONDOWOSO – Pemerintah Kabupaten Bondowoso terus memperkuat peran pesantren sebagai pilar pembangunan daerah. Salah satu langkah yang dilakukan adalah mendorong pembiayaan pesantren berbasis komunitas melalui pengelolaan ZISWAF produktif guna menciptakan kemandirian ekonomi pesantren yang berkelanjutan.

Komitmen tersebut disampaikan Bupati Bondowoso KH Abd. Hamid Wahid saat membuka Seminar Sinergi Membangun Ekosistem ZISWAF Produktif Pesantren yang Mandiri dan Berkelanjutan di Pendopo Kabupaten Bondowoso, Sabtu (20/6/2026). Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi Pemerintah Kabupaten Bondowoso dengan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jember.

Dalam sambutannya, Bupati Hamid menyampaikan apresiasi kepada Bank Indonesia Jember yang selama ini konsisten membangun sinergi bersama pemerintah daerah dalam penguatan ekonomi syariah dan pemberdayaan pesantren.


"Saya menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jember atas sinergi dan kolaborasi yang terus dibangun bersama Pemerintah Kabupaten Bondowoso dalam mendorong penguatan ekonomi syariah dan pemberdayaan pesantren," ujar Hamid.

Menurutnya, pesantren merupakan institusi strategis yang memiliki kontribusi besar dalam perjalanan bangsa. Tidak hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan keagamaan, pesantren juga menjadi pusat pembentukan karakter, dakwah, pemberdayaan masyarakat, hingga benteng moral dan sosial.

Di Bondowoso, kata Hamid, pesantren telah menjadi bagian dari denyut kehidupan masyarakat. Berbagai aktivitas sosial, ekonomi, dan budaya tumbuh serta berkembang di lingkungan pesantren sehingga masa depan pesantren tidak dapat dipisahkan dari masa depan pembangunan daerah.

Namun demikian, Hamid mengakui pesantren saat ini menghadapi berbagai tantangan baru. Mulai dari kebutuhan peningkatan mutu pendidikan, pembangunan sarana dan prasarana, penguatan kompetensi santri, hingga tuntutan digitalisasi tata kelola yang semakin tidak terelakkan.

Selain itu, perubahan ekonomi global dan dinamika sosial juga menuntut pesantren mampu beradaptasi tanpa kehilangan identitas serta nilai-nilai keislamannya. Karena itu, menurutnya diperlukan sistem pembiayaan yang kuat agar pesantren dapat terus berkembang.

"Pembiayaan bukan sekadar persoalan uang, melainkan instrumen strategis untuk membangun masa depan pesantren. Pesantren membutuhkan sistem pembiayaan yang berkelanjutan dan mandiri," tegasnya.

Hamid menjelaskan selama ini sebagian besar pesantren masih mengandalkan iuran santri, donasi masyarakat, dan bantuan pemerintah. Model tersebut dinilai tetap penting, namun belum cukup untuk menciptakan kemandirian ekonomi pesantren secara jangka panjang.

Karena itu, Pemkab Bondowoso mendorong lahirnya paradigma baru berupa pembiayaan pesantren berbasis komunitas. Konsep tersebut menempatkan masyarakat sebagai bagian utama dalam pembangunan ekonomi pesantren karena pada hakikatnya pesantren tumbuh dari masyarakat, berkembang bersama masyarakat, dan memberikan manfaat kembali kepada masyarakat.

Menurut Hamid, keterlibatan berbagai pihak mulai dari alumni, jamaah, pelaku usaha, pemerintah, perbankan syariah, lembaga zakat, akademisi, hingga komunitas sosial akan memperkuat fondasi ekonomi pesantren.

Dalam kesempatan itu, Hamid juga menyoroti pentingnya pengelolaan ZISWAF produktif sebagai instrumen ekonomi Islam yang memiliki potensi besar untuk mendorong pembangunan ekonomi umat.

"Tantangan kita hari ini bukan hanya bagaimana menghimpun ZISWAF, tetapi bagaimana mengelolanya secara produktif. Kita harus menggeser orientasi dari pola konsumtif menuju pola produktif," katanya.

Ia menjelaskan wakaf produktif dapat dikembangkan menjadi lahan pertanian, pusat perdagangan, rumah produksi maupun unit usaha pesantren. Sementara zakat, infak, dan sedekah dapat diarahkan untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat dan penguatan kapasitas santri.

Jika seluruh instrumen tersebut dikelola secara profesional dan produktif, lanjut Hamid, akan tercipta siklus ekonomi yang memberikan manfaat jangka panjang bagi pesantren maupun masyarakat sekitar.

Selain ZISWAF, Hamid menilai alumni pesantren merupakan aset besar yang masih belum dimanfaatkan secara optimal. Alumni yang tersebar di berbagai daerah dan profesi dapat menjadi sumber dukungan finansial, jejaring usaha, transfer pengetahuan, hingga akses kemitraan strategis bagi pesantren.

Tidak hanya itu, pesantren juga didorong untuk mengembangkan unit-unit usaha produktif di berbagai sektor seperti pertanian, peternakan, perdagangan, industri kreatif, ekonomi digital, hingga pengembangan produk halal.

"Pesantren perlu didorong menjadi pusat kewirausahaan sosial yang mampu menciptakan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat," ungkapnya.

Di era digital, Hamid menegaskan transformasi teknologi juga harus menjadi bagian dari strategi penguatan pembiayaan pesantren. Pemanfaatan QRIS, sistem pembayaran digital, platform donasi digital, dan sistem informasi keuangan diyakini mampu meningkatkan transparansi serta akuntabilitas pengelolaan keuangan pesantren.

"Semakin transparan pengelolaan keuangan pesantren, semakin tinggi tingkat kepercayaan masyarakat. Semakin tinggi kepercayaan masyarakat, semakin besar pula partisipasi yang akan diberikan kepada pesantren," jelasnya.

Pemerintah Kabupaten Bondowoso, lanjut Hamid, memandang penguatan pesantren bukan hanya agenda keagamaan, melainkan bagian penting dari agenda pembangunan daerah. Karena itu, pemerintah daerah berkomitmen memperkuat kolaborasi dengan Bank Indonesia, lembaga keuangan syariah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan lembaga amil zakat.

Menurutnya, keberhasilan membangun pesantren yang mandiri tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja, melainkan membutuhkan sinergi dan kolaborasi seluruh elemen masyarakat.

Hamid optimistis pesantren-pesantren di Bondowoso akan semakin kuat apabila mampu membangun kemandirian ekonomi berbasis komunitas. Ia meyakini pesantren yang mandiri akan melahirkan santri yang mandiri, masyarakat yang berdaya, dan pada akhirnya menjadi fondasi bagi terwujudnya Bondowoso yang maju, religius, sejahtera, serta berdaya saing.

"Mari kita jadikan ZISWAF produktif sebagai instrumen pemberdayaan. Mari kita jadikan pesantren sebagai pusat pertumbuhan ekonomi umat dan membangun ekosistem kolaborasi yang mampu menghubungkan pesantren, masyarakat, dunia usaha, dan pemerintah dalam satu tujuan besar, yaitu mewujudkan pesantren yang mandiri dan berkelanjutan," pungkasnya.


» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA

Pewarta : Bahrullah
Editor : Satria Galih Saputra

Share:

Komentar & Reaksi

Berita Terbaru Lainnya

Featured SIN TV