SUARA INDONESIA, SURABAYA — Industri hiburan di Surabaya memasuki babak baru dengan pendekatan yang lebih berani dan imersif. Marvell City Mall bertransformasi drastis menjadi pusat adrenalin setelah resmi membuka Pandora Box Nightmare Festival (PBNF) 2025, wahana hiburan bertema rumah sakit angker yang diberi nama Astamaya.
Festival ini bukan hanya suguhan hiburan musiman. Di balik jeritan pengunjung dan lorong gelap bertabur tokoh menyeramkan, terdapat strategi serius dari pelaku industri hiburan dalam membidik segmen pasar paling berpengaruh saat ini: Generasi Z.
“Gen Z tidak cukup puas hanya dengan scrolling video horor di TikTok. Mereka ingin terlibat langsung, menjadi bagian dari narasi, dan tentu: kontenable,” kata Sylviatanti, Marketing Manager Marvell City Mall, Jumat (25/7).
Menurutnya, konsep experiential entertainment seperti PBNF terbukti mampu menarik minat generasi muda urban yang haus tantangan dan gemar mengunggah pengalaman personal mereka ke media sosial.
Wahana Horor, Konten Digital, dan Ekonomi Kreatif
Salah satu wahana paling ramai adalah Dunia Astral, ruang interaktif yang membawa pengunjung menyusuri lorong rumah sakit untuk mencari ‘jasad mereka sendiri’ sebelum tengah malam. Di dalamnya, mereka harus menghadapi karakter horor lokal seperti Suster Sarah, wewe gombel, hingga tuyul, semua ditampilkan dengan detail menyerupai efek spesial film layar lebar.
“Ini seperti masuk ke film horor, tapi jadi tokoh utamanya,” ujar Aprilia (21), salah satu pengunjung yang mengaku hampir pingsan saat bertatap muka dengan ‘hantu’.
Fenomena seperti ini bukan kebetulan. Festival semacam PBNF memperlihatkan bagaimana pelaku industri mampu menggabungkan budaya lokal, teknologi efek visual, hingga pola konsumsi digital dalam satu format hiburan. Apalagi, tiket dibanderol terjangkau, mulai dari Rp50.000, dan tersedia lewat platform digital seperti Tiket.com dan QRIS YUKK.
Lebih dari Horor: Taktik Reposisi Mall dan Urban Space
Tidak hanya menampilkan Dunia Astral, PBNF 2025 juga menghadirkan wahana seperti Enigma Box (escape room), Predator Land (arena airsoft gun), Gypsy Lounge, Game Station, hingga permainan logika KotaKatik berhadiah uang tunai.
Menurut pengamat ekonomi kreatif, festival ini mencerminkan perubahan fungsi mal sebagai ruang publik modern. “Mall bukan lagi sekadar tempat belanja. Ia berevolusi menjadi panggung kreativitas lintas disiplin. Ini peluang besar untuk menghidupkan kembali foot traffic dan menciptakan nilai tambah dari sisi hiburan,” ujar Arista M. Ramadhani, analis industri hiburan digital.
Misi Horor yang Serius: ICU in Hell Part 2
Pandora Box bukan pemain baru. Setelah sukses di Bekasi, tahun ini mereka membawa tema lanjutan berjudul “I See You Too (ICU in Hell Part 2)” ke Surabaya. Dengan target ribuan pengunjung selama lebih dari satu bulan, PBNF tak sekadar menjual ketakutan, tapi juga menjadi arena baru pertarungan brand dalam menaklukkan psikologi pasar muda.
“Kami tidak menjual ketakutan, kami menjual pengalaman. Dan pengalaman itu sekarang bernilai ekonomi,” tutup Sylviatanti.
Festival ini dijadwalkan berlangsung hingga 31 Agustus 2025 dan sudah menjadi magnet wisata lokal sekaligus ajang adu kreativitas konten digital para pengunjung. (*)
» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA
| Pewarta | : Dona Pramudya |
| Editor | : Mahrus Sholih |
Komentar & Reaksi