SUARA INDONESIA, SURABAYA – Pameran internasional EastFood (IIFEX) 2026 dan ALL Pack Surabaya 2026 diproyeksikan menjadi salah satu pengungkit aktivitas ekonomi di Jawa Timur dengan mempertemukan pelaku industri, UMKM, penyedia teknologi, hingga calon pembeli dalam satu ekosistem bisnis.
Kegiatan yang digelar 1-4 Juli 2026 di Grand City Convex Surabaya ini, dinilai mampu memperkuat sektor makanan dan minuman yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian provinsi tersebut.
CEO Krista Exhibitions Group, Daud Salim, mengatakan penyelenggaraan tahun ini menghadirkan 180 peserta pameran, termasuk sekitar 30-40 UMKM binaan dari Jawa Timur dan sejumlah daerah lain di Indonesia.
Menurutnya, meningkatnya kebutuhan industri terhadap teknologi pengolahan dan pengemasan menjadi alasan utama dipisahkannya pameran ALL Pack Surabaya sebagai agenda mandiri.
"Tahun ini pameran packaging kita pisah karena ALL Pack lebih mengutamakan teknologi pengolahan makanan-minuman dan teknologi pengemasan," ujar Daud, Senin (15/6/2026).
"Sekitar 60 persen material pengemasan yang ditampilkan berbahan dasar plastik, disusul kertas, jasa pengemasan, hingga komponen mesin pengolahan," lanjutnya.
Selain menjadi ajang promosi produk, pameran tersebut juga diharapkan membuka peluang investasi dan kerja sama bisnis baru.
Bersama Asosiasi Culinary Professional (ACP) Surabaya, penyelenggara menghadirkan kompetisi memasak dalam delapan kategori, termasuk kreasi kuliner Nusantara dan pizza bercita rasa lokal yang akan dinilai oleh juri profesional dari Italia.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur menilai momentum ini sejalan dengan penguatan sektor riil.
Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri Disperindag Jawa Timur, Yudi Ariyanto, menyebut industri pengolahan, khususnya makanan, minuman, dan tembakau menjadi kontributor terbesar terhadap struktur Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Timur.
"Struktur utama PDRB Jawa Timur disokong oleh industri pengolahan sebesar 31,45 persen. Pada 2025, PDRB industri makanan dan minuman mencapai Rp451 triliun, meningkat signifikan dibanding 2021 yang sebesar Rp290 triliun dengan rata-rata pertumbuhan 11,6 persen per tahun," ungkap Yudi.
Ia menambahkan, ekonomi Jawa Timur pada kuartal terbaru 2026 tumbuh 5,96 persen atau lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,61 persen.
Menurutnya, kuatnya sektor makanan dan minuman tidak hanya menopang nilai tambah ekonomi daerah, tetapi juga menjadi penyerap tenaga kerja terbesar sehingga pameran berskala internasional seperti EastFood berpotensi memperluas pasar dan memperkuat daya saing industri.
Sementara itu, Kepala Bidang Pemasaran Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Timur, Haryo Bimo Bramantyo, mengatakan sekitar 99 persen dari 4,586 juta pelaku usaha di Jawa Timur masih didominasi usaha mikro.
Karena itu, akses terhadap pasar, jejaring bisnis, dan pembeli potensial melalui pameran dinilai penting untuk mendorong transformasi UMKM agar mampu naik kelas dan berkontribusi lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. (*)
» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA
| Pewarta | : Dona Pramudya |
| Editor | : Alfiana Putri |
Komentar & Reaksi