SUARA INDONESIA

Putaran Ekonomi Ratusan Miliar, Surabaya Printing Expo 2026 Unjuk Gigi dengan Teknologi AI

Dona Pramudya - 08 July 2026 | 13:07 - Dibaca 44 kali
Ekbis Putaran Ekonomi Ratusan Miliar, Surabaya Printing Expo 2026 Unjuk Gigi dengan Teknologi AI
Pameran Surabaya Printing Expo (SPE) 2026 ke-19 dibuka di Grand City Convex, Surabaya, pada Rabu, 8 Juli 2026 (Istimewa)

SUARA INDONESIA, SURABAYA - Pameran Surabaya Printing Expo (SPE) 2026 ke-19 dibuka di Grand City Convex, Surabaya, pada Rabu (8/7/2026). Ajang bergengsi skala nasional ini menjadi panggung unjuk gigi bagi teknologi cetak digital terkini yang terintegrasi dengan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk mendorong daya saing industri kreatif dan percetakan di Indonesia.

CEO Krista Exhibitions, Daud Salim, mengungkapkan, pameran tahun ini diikuti oleh 150 peserta dan didominasi oleh mesin-mesin pintar yang mampu mencetak berbagai produk, mulai dari promosi, periklanan, tekstil, garmen, hingga cetak label dan kemasan. SPE 2026 ditargetkan memicu perputaran ekonomi yang kuat karena dikenal sebagai pameran dengan volume transaksi penjualan mesin yang sangat tinggi.

"Hampir semua vendor pasti akan terjadi transaksi penjualan karena momen 4 hari ini mereka memberikan promosi, harga yang baik, serta kesempatan pembayaran yang dapat dicicil. Perputaran ekonominya cukup besar, bisa ratusan miliar. Sebagai gambaran, salah satu peserta besar seperti Gading Murni pada pameran sebelumnya bahkan bisa menjual hingga lebih dari 100 unit mesin, di mana harga per unitnya bervariasi mulai dari Rp100 juta hingga Rp500 juta," kata Daud ditemui usai acara pembukaan SPE 2026 di Grand City Convex.

Meski perputaran uangnya fantastis, Daud menilai 95 persen mesin cetak yang digunakan di dalam negeri saat ini masih mengandalkan impor, terutama dari China dan Jepang untuk komponen vital seperti kepala tinta.

Di sisi lain, bahan pendukung seperti tinta sudah 90 persen menggunakan produk lokal, disusul oleh pemenuhan lokal untuk kebutuhan kertas dan vinyl.

Potensi besar industri ini didukung penuh oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kadis Kominfo) Jawa Timur, Sherlita Ratna Dewi Agustin, memaparkan industri percetakan memiliki posisi unik di Jawa Timur dengan nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) mencapai Rp 27,64 triliun pada tahun 2025.

Ia membeberkan, sektor percetakan mencatatkan pertumbuhan kumulatif sebesar 11,42 persen dalam tiga tahun terakhir dan berkontribusi sekitar 4,94 hingga 4,98 persen terhadap sektor industri pengolahan di Jawa Timur. 

"Pertumbuhan ini didukung oleh penetrasi internet di Jawa Timur yang telah mencapai 83,41 persen, sehingga mempermudah operasional teknologi seperti cetak jarak jauh," terangnya.

Namun, Sherlita mengingatkan pelaku industri mengenai tantangan baru yang datang bersamaan dengan adopsi teknologi pintar. 

"Penguatan kompetensi SDM menjadi sangat penting. Selain itu, penggunaan AI membawa tantangan tersendiri terkait hak cipta desain serta perlindungan data pribadi, khususnya untuk percetakan dokumen sensitif seperti sertifikat atau ijazah," ungkapnya.

Di tengah ketatnya persaingan pasar di mana para pelaku usaha dituntut memberikan harga termurah dengan kualitas terbaik, Ketua Umum Persatuan Perusahaan Grafika Indonesia (PPGI), Ahmad Mughira Nurhani, mengingatkan para pengusaha untuk jeli memilih alat produksi.

Ia menekankan, SPE 2026 harus dimanfaatkan oleh para pengusaha untuk membandingkan efisiensi mesin-mesin yang dipamerkan. 

"Mengingat biaya bahan baku seperti kertas dan kain mencakup hingga 70 persen dari total komponen harga jual, efisiensi penggunaan material menjadi kunci utama dalam mencetak keuntungan," pungkas Ahmad. (*)

» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA

Pewarta : Dona Pramudya
Editor : Alfiana Putri

Share:

Komentar & Reaksi

Berita Terbaru Lainnya

Featured SIN TV