SUARA INDONESIA

Buya Hamka: Hukum saat Khatib Lupa Rukun Khutbah Jum'at dan Hal-hal yang Berkaitan Dengannya

Wilda Natasya - 15 October 2021 | 08:10
Entertaiment Buya Hamka: Hukum saat Khatib Lupa Rukun Khutbah Jum'at dan Hal-hal yang Berkaitan Dengannya

JEMBER-Salah satu syarat sah dalam salat Jum'at adalaha khutbah jum'at. Tidak sahnya khutbah dapat menyebabkan tidak sahnya shalat jumat.

Buya Yahya mengatakan dalam kanal YouTube Al-Bahjaj TV bahwa jika seseorang ingin menjadi khattib perlu memerhatikan rukun-rukun khutbah jum'at.

"Kalau bada mau jadi khatib, anda harus waspada, kalau di Indonesia berarti harus ngerti khutbah menurut imam Syafi'i harus terpenuhi rukun yang lima," ujarnya.

Dikutip dari buku Fiqih Islamiyah rukun dua khutbah Jum'at adalah sebagai berikut:

1. Mengucapkan puji-pujian kepada Allah SWT. (Membaca hamdalah).

2. Membaca shalawat atas Rasulullah SAW. (Ada sebagian ulama yang tidak mewajibkan shalawat dalam khutbah Jum'at tetapi menganggapnya sunah)

3. Mengucap syahadat, hal ini didasari pada hadis berikut:

"Tiap-tiap khutbah yang tidak ada syahadatnya adalah seperti tangan yang terpotong," HR Ahmad dan Abu Dawud.

4. Berwasiat (bernasihat) dengan takwa, dan mengajarkan apa-apa yang perlu bagi jamaah pendengar, sesuai dengan keadaan tempat khutbah dilaksanakan, baik urusan agama, maupun urusan kehidupan.

5. Membaca ayat Al-Qur'an pada salah satu dari kedua khutbah, sebagaimana yang dijelaskan Rasulullah dalam sebuah hadis.

"Dari Jabir bin Samurah. Ia berkata, 'Rasulullah SAW. Khutbah sambil berdiri. Beliau duduk di antara keduanya, lalu Beliau membacakan beberapa ayat Qur'an, memperingatkan, dan mempertakuti manusia," HR Muslim.

6. Berdo'a untuk mukminin dan mukminat pada khutbah yang kedua. (Sebagian ulama berpendapat bahwa do'a dalam khutbah Jum'at tidak wajib). 

Lalu bagaimana jika ada khatib yang melupakan rukun khutbah dalam khutbahnya.

Buya Hamka menjawab bahwa tidak terpenuhinya rukun khutbah menjadikanya tidak sah, dan menyebabkan salat jum'at juga tidak sah karena hal tersebut termasuk rukun dalam salat jum'at.

Namun bagi jamaah yang berada pada situasi ini hendaklan menjadi makmum yang bijak, dan khutbah tetap sah mengikuti imam  madzhab yang lain. Tetapi kemudian saat selesai salat, beritahulah sang khatib dengam cara yang baik dan tidak mempermalukan khatib tersebut.

"bisikan kalau anda pengen negur, agar jum'at yang akan datang dia tidak melakukan hal serupa," jelasnya.

Syarat dua khutbah, adalah sebagai berikut:

1. Kedua khutbah dimulai sesudah tergelincir matahari.

2. Hendaklah khatib berdiri saat berkhutbah jika masih mampu.

3. Hendaklah khatib duduk diantara dua khutbah.

4. Hendaklah khutbah dilakukan dengan suara yang keras, sehingga terdengar oleh para jamaah, sekurang-kurangnya sampai pada bilangan jumlah jamaah yang menjadikan sahnya salat Jum'at.

5. Hendaklah berturut-berturut, baik dalam perkara rukun, jarak antar khutbah maupun jarak antar kedua khutbah dengan salat.

6. Khattib suci dari hadas dan najis.

7.  Menutup aurat.

Lalu sebagai jama'ah hendaklah saat khattib berkhutbah diperintahkan tenang saat mendengarkannya. Hal ini didasarkan pada firman Allah dalam QS Al-'Araf ayat 204.

"Dan apabila dibacakan Al-Qur'an, maka dengarkanlan dengan baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat," QS Al-'Araf: 204.

Menurut beberapa ahli tafsir ayat ini diturunkan berkaitan dengan perkara khutbah.

Selanjutnya bahasa yang digunakan dalam berkhutbah hendaklah bahasa setemlat, sehingga dapat dipahami oleh jamaah yang mendengarkannya. Hal ini juga ditegaskan dalam ayat Al-Qur'an.

"kami tidak mengutus seorang rasul pun melainkan dengan bahasa kaumnya, sulaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka," QS Ibrahim: 4.

Adapun sunah-sunah yang bersangkutan dengan khutbah Jum'at adalah sebagai berikut:

1. Hendaklah khutbah dilakukan di atas mimbar atau di tempat yang tinggi.

2. Khutbah hendaknya dilakukan dengan bahasa yang mudah dipahami, tidak terlalu panjang maupun terlalu pendek.

3. Hendaklah khatib tetap menghadap orang banyak, tidak berputar-putar.

4. Membaca QS Al-Ikhlas saat duduk di antara dua khutbah.

5. Menertibkan tiga rukun, yakni dimulai dengan membaca hamdalah atau puji-pujian kepada Allah SWT, kemudian shalawat atas Nabi SAW, lalu berwasiat pada ketakwaan, selain ketiga hal tersebut tidak dianjurkan.

6. Pendengar hendaklah diam serta memperhatikan khutbah. Banyak para ulama yang mengharamkan berbicara atau bercakap-cakap saat mendengarkan khutbah. 

7. Hendaklah khatib memberi salam.

8. Khatib hendaklah duduk di atas mimbar sesudah memberi salam dan sesudah duduk itulah axan dikumandangkan. (Fiqih Islamiyah)

Itulah kiranya hal-hal yang perlu diperhatikan mengenai khutbah Jum'at. (Ree/Wil)

Pewarta : Wilda Natasya
Editor : Imam Hairon

Share:

Komentar & Reaksi

Berita Terbaru Lainnya

Featured SIN TV