SUARA INDONESIA, SURABAYA - Perjalanan menapaki hobby, karir dan profesi sosok Andika Putra Pratama dulu tak jauh dari gitar, panggung, dan ruang rekaman. Bersama HYDE Band, ia sempat merekam beberapa lagu, mengejar cita-cita menjadi musisi profesional. Musik baginya adalah ruang ekspresi sekaligus pelarian dari kerasnya realitas, Sabtu (20/9/2025).
Namun, perjalanan hidup menuntunnya ke jalan lain. Dunia hukum, yang awalnya sekadar ajakan sahabat, justru memberinya kepuasan batin yang lebih dalam.
“Dulu musik adalah passion saya. Tapi ketika membela hak-hak hukum seseorang, ada rasa lega yang tidak pernah saya temukan sebelumnya. Saya sekarang sadar, passion saya ada di sini, di dunia hukum,” ujar Andika.
Belajar dari Yusril dan Hotman
Dalam menapaki jalur baru ini, Andika menjadikan dua figur nasional sebagai penopang langkah. Dari Prof. Yusril Ihza Mahendra, ia belajar kebijaksanaan dalam berpikir hukum. “Pandangan hukum beliau kompleks tapi tepat sasaran. Beliau cerdas sekaligus bijak, dan itu menginspirasi saya,” tuturnya.
Sedangkan dari Hotman Paris Hutapea, ia menyerap keberanian untuk menembus batas. “Hotman pernah bilang, kalau mau jadi pengacara handal, jangan berkutat dengan perkara yang itu-itu saja. Carilah pengalaman seluas mungkin, maka klien besar akan datang sendiri. Itu kalimat yang selalu saya pegang,” kata Andika.
Kata-kata itu terbukti saat ia menangani perkara waris warga Indonesia di Malaysia. Olehnya, berhadapan dengan sistem hukum common law, Andika merasakan langsung betapa pentingnya keluar dari zona nyaman. “Kalau saya tidak berani, mungkin saya tidak akan pernah belajar hal baru itu,” ujarnya.
Bagi Andika, advokat bukan sekadar membela yang kuat, tetapi justru memperjuangkan mereka yang kerap terpinggirkan. Ia masih mengingat momen penuh haru ketika keluarga kliennya datang ke rumah sambil membawa hasil panen sawah sebagai tanda terima kasih.
“Saat itu saya yakin, inilah jalan saya. Kebahagiaan mereka adalah kebahagiaan saya,” kenangnya.
Ia pun menghadirkan layanan konsultasi hukum gratis lewat media sosial, khususnya Facebook. Baginya, hukum bukan milik segelintir orang.
“Stigma bahwa hukum itu mahal muncul karena akses yang sulit. Saya ingin masyarakat kecil merasakan bahwa hukum berlaku bagi semua. Equality before the law: semua sama di mata hukum,” ujarnya.
Membela yang Terpinggirkan
Andika juga pernah menangani kasus korupsi yang mengubah cara pandangnya.
“Awalnya saya enggan membela, karena berpikir mereka (pelaku korupsi,red) memakan uang rakyat. Tapi setelah saya teliti, ternyata ada motif sosial dan tekanan sistem. Dari situlah saya belajar, bahkan orang yang dianggap paling jahat pun tetap punya hak hukum,” ujarnya tegas.
Baginya, keadilan bukan berarti sama rata, melainkan memastikan setiap orang, apapun latar belakangnya, mendapatkan hak hukum yang semestinya.
“Dengan hukum, saya bisa membantu masyarakat luas, bukan hanya untuk diri saya sendiri,” katanya.Meski meninggalkan panggung musik, Andika tidak menyesal. Dunia hukum memberinya ruang untuk bermanfaat bagi lebih banyak orang.
Kini, kesehariannya adalah menjaga keseimbangan: serius di ruang sidang, sederhana bersama hobinya, dan sosok ayah yang hangat saat bersama keluarga.
Ia pun memegang teguh adagium hukum Latin, Fiat Justitia Ruat Caelum: tegakkan hukum walau langit runtuh. “Hukum harus tetap berada di jalurnya. Itu prinsip saya sebagai advokat,” ujarnya.
“Saya tidak menyesal meninggalkan dunia musik. Karena lewat hukum, saya bisa lebih bermanfaat untuk orang banyak,” tutupnya. (*)
» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA
| Pewarta | : Jefri Hadi |
| Editor | : Mahrus Sholih |
Komentar & Reaksi