SUARA INDONESIA

Film 'Jangan Buang Ibu', Surat Cinta Tentang Rumah, Keluarga, dan Waktu yang Tak Bisa Diulang

Jefri Hadi - 19 June 2026 | 16:06 - Dibaca 128 kali
News Film 'Jangan Buang Ibu', Surat Cinta Tentang Rumah, Keluarga, dan Waktu yang Tak Bisa Diulang
Film 'Jangan Buang Ibu' produksi Leo Pictures. (Foto: Istimewa)

SUARA INDONESIA, SURABAYA - Cerita dinamis kehidupan yang bergerak semakin cepat, banyak orang tanpa sadar melupakan hal-hal yang sesungguhnya paling berharga dalam hidup.

Kesibukan pekerjaan, tuntutan karier, dan rutinitas sehari-hari sering kali membuat keluarga bergeser dari daftar prioritas. Padahal, waktu bersama orang-orang tercinta adalah sesuatu yang tidak pernah bisa diputar kembali.

Pesan itulah yang diangkat dalam film "Jangan Buang Ibu", karya sutradara Hadrah Daeng Ratu yang diproduseri Agung Saputra.

Film drama keluarga yang akan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia pada 26 Juni 2026 ini hadir sebagai refleksi tentang arti keluarga, pengorbanan seorang ibu, serta pentingnya menjaga hubungan dengan orang-orang yang paling dekat dalam hidup.

Film ini dibintangi Nirina Zubir, Refal Hady, Amanda Manopo, Saputra Kori, Basmalah Gralind, Erika Carlina, Dwi Sasono, Saskia Chadwick, Fadly Faisal, Farrell Rafisqy, Jared Ali, dan Humaira Jahra.

Produksi film ini juga mendapat dukungan Luna Maya dan Yasmin Napper sebagai produser eksekutif bersama Nur Iman Syafe’i dan Evi Surahmawati.

Diproduseri oleh Agung Saputra dan disutradarai Hadrah Daeng Ratu, "Jangan Buang Ibu" tidak sekadar menghadirkan drama keluarga yang menguras emosi.

Film ini menjadi semacam tamparan bagi banyak orang tentang realitas yang perlahan muncul di tengah masyarakat modern, ketika seorang anak tak lagi mampu atau tak lagi memiliki ruang untuk merawat ibunya sendiri hingga harus menitipkannya di panti jompo.

Padahal, pada masa tumbuh kembang anak-anaknya, seorang ibu selalu menyisihkan waktu, tenaga, bahkan kebahagiaannya demi memastikan buah hatinya mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

"Jangan Buang Ibu" adalah sebuah kisah yang akan mengajak kita kembali memahami arti cinta, pengorbanan, dan kehadiran seorang ibu dalam hidup kita.

"Semoga kita juga bisa berefleksi untuk terus memuliakan seorang ibu yang telah melahirkan kita," ujar Agung Saputra, produser sekaligus CEO Leo Pictures, Jumat (19/6/2026).

Pesan itulah yang menjadi ruh utama film ini melalui sosok Ristiana yang diperankan Nirina Zubir.

Ia adalah seorang ibu yang harus menghadapi kenyataan pahit setelah ditinggal suaminya, Ridho, yang diperankan Dwi Sasono. Kehilangan pasangan hidup bukan satu-satunya cobaan yang harus ditanggung.

Ristiana juga dihadapkan pada kenyataan bahwa sang suami meninggalkan utang dalam jumlah besar yang harus diselesaikan.

Dalam kondisi serba terbatas, Ristiana berjuang membesarkan ketiga anaknya: Tama yang diperankan Refal Hady, Dewi yang dimainkan Amanda Manopo, dan Tria yang diperankan Saputra Kori.

Sementara itu, karakter Tama dan Dewi pada masa kecil diperankan Jared Ali dan Humaira Jahra. Dengan kesederhanaan dan kerja keras, Ristiana berusaha memastikan anak-anaknya tumbuh dengan baik.

Ia menjadi gambaran banyak ibu di Indonesia yang diam-diam memikul beban kehidupan tanpa pernah mengurangi kasih sayang kepada keluarga. Namun, perjalanan waktu menghadirkan tantangan yang lebih rumit.

Keputusan yang diambil Ristiana demi keluarganya justru memunculkan dilema di hati anak-anaknya. Hubungan yang dulu hangat perlahan berubah, jarak emosional mulai tumbuh, sementara kerinduan terus mengendap dalam hati seorang ibu yang hanya ingin melihat anak-anaknya tetap dekat.

Keluarga yang dahulu utuh harus menghadapi perubahan zaman dan pilihan hidup masing-masing. Konflik yang muncul bukan semata-mata karena kebencian, melainkan karena kesalahpahaman, ego, dan komunikasi yang perlahan memudar.

Dari titik itulah, film ini mengajukan pertanyaan yang menyentuh hati "Mampukah Tama, Dewi, dan Tria membalas cinta serta pengorbanan ibunya sebelum semuanya terlambat?".

Bagi Nirina, cerita tersebut terasa sangat relevan dengan realitas kehidupan saat ini. Banyak anak tumbuh dengan keyakinan bahwa orang tua akan selalu ada.

Akibatnya, perhatian kepada ayah dan ibu sering kali ditunda karena kesibukan dan berbagai urusan yang dianggap lebih penting.

"Padahal kita tidak pernah tahu kapan waktu perpisahan itu datang. Bisa jadi orang tua lebih dahulu pergi, atau justru kita yang lebih dulu meninggalkan mereka," ujarnya.

Pengalaman memerankan Ristiana pun menjadi perjalanan emosional tersendiri bagi Nirina. Awalnya, ia mengira film ini akan menjadi pesan bagi anak-anaknya. Namun setelah mendalami karakter tersebut, ia justru merasa sedang menulis surat cinta untuk ibunya sendiri.

"Saya awalnya berpikir film ini adalah surat cinta untuk anak-anak saya. Tetapi setelah menjalaninya, ternyata justru menjadi surat cinta saya untuk ibu saya," katanya.

Transformasi Nirina menjadi salah satu daya tarik film ini. Penonton akan mengikuti perjalanan hidup Ristiana sejak usia 40 tahun, 50 tahun, hingga memasuki usia 60 tahun.

Melalui proses tata rias khusus, perubahan fisik dan emosional karakter tersebut ditampilkan secara bertahap, memperlihatkan bagaimana waktu meninggalkan jejak pada seorang ibu yang sepanjang hidupnya mengabdikan diri bagi keluarga.

Kedekatan emosional itulah yang membuat "Jangan Buang Ibu" mendapat sambutan hangat dalam rangkaian Gala Premiere Keliling Indonesia di 20 kota sejak 30 Mei hingga 23 Juni 2026.

Animo penonton pun tersedot dari berbagai daerah, tiket pemutaran habis terjual dan banyak penonton keluar dari studio dengan mata berkaca-kaca.

Kisah keluarga Ristiana ternyata menjadi cermin yang memantulkan pengalaman hidup banyak orang.

Menurut Nirina, kekuatan film ini terletak pada kesederhanaan ceritanya. Hampir semua orang pernah merasakan kerinduan kepada orang tua, pernah menjauh karena kesibukan, atau pernah menyesali waktu yang tidak digunakan untuk berkumpul bersama keluarga.

Pada akhirnya, "Jangan Buang Ibu" bukan sekadar film drama keluarga. Ia adalah pengingat bahwa rumah bukan hanya bangunan tempat tinggal, melainkan ruang tempat kasih sayang tumbuh dan kenangan disimpan.

Film ini juga mengingatkan bahwa seorang ibu sering kali menjadi tiang yang menjaga rumah tetap berdiri, bahkan ketika dirinya sendiri sedang rapuh.

Menutup pesannya, Nirina memberikan semangat kepada para perempuan dan ibu di seluruh Indonesia untuk tetap tegar menjalani kehidupan.

"Hadapi kehidupan dengan senyuman. Tetap kuat dan terus melangkah. Tuhan tidak akan memberikan cobaan yang melebihi kemampuan manusia untuk menghadapinya. Kita kuat, dan kita bisa melewatinya," ucapnya.

Kalimat sederhana itu menjadi penutup yang merangkum ruh film "Jangan Buang Ibu", bahwa seorang ibu adalah rumah pertama bagi setiap anak.

Terlebih dari pesan moralnya, bahwa keluarga merupakan tempat terbaik untuk kembali ketika dunia terasa begitu berat. Dan bahwa kasih sayang adalah warisan paling berharga yang harus terus dijaga, dirawat, dan diteruskan sepanjang waktu. (*)

» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA

Pewarta : Jefri Hadi
Editor : Alfiana Putri

Share:

Komentar & Reaksi

Berita Terbaru Lainnya

Featured SIN TV