SUARA INDONESIA BANJARNEGARA-Desa Klampok, kecamatan Purwareja Klampok, Kabupaten Banjarnegara Jawa Tengah bersiap menjadi pusat perhatian dengan digelarnya Festival Kupat Landan dan Tahu Kiringan, sebuah perayaan budaya yang mengangkat kekayaan kuliner khas Dusun Purwasari.
Dusun Purwasari, yang dahulu lebih dikenal dengan sebutan Dusun Kiringan, merupakan sentra perajin tahu yang sudah eksis sejak puluhan tahun lalu.
Setidaknya terdapat 16 perajin tahu di dusun ini yang masih aktif memproduksi tahu secara tradisional maupun diolah secara modern.
Menariknya, sebagian besar dari mereka telah menekuni usaha ini lebih dari 40 tahun, menjadikan tahu Kiringan sebagai simbol ketekunan dan warisan keluarga.
Tak hanya tahu, Dusun Purwasari juga dikenal sebagai penghasil kupat atau ketupat khas yang memiliki cita rasa unik. Terdapat lima perajin kupat yang masih setia menjaga tradisi pembuatan ketupat dengan bahan utama daun kelapa muda atau janur kuning.
Keunikan kupat landan terletak pada proses pembuatannya yang berbeda dari ketupat pada umumnya, yakni direbus menggunakan air hasil saringan abu pelepah kelapa untuk menghasilkan cita rasa khas, serta dimasak dengan kayu bakar yang menambah aroma tradisionalnya.
Kepala Desa Klampok, Agus Supriyono mengatakan, untuk memperkenalkan produk UMKM tahu dan kupat landan, festival ini akan menghadirkan momen istimewa pada 2 Mei 2026, di mana para pengunjung diajak menikmati hidangan secara serentak.
Sebelumnya makanan tersebut akan diarak sejauh kurang lebih 500 meter menuju lokasi acara yang dikemas dalam nuansa budaya sehingga menghadirkan perpaduan antara tradisi, kebersamaan, dan kearifan lokal.
"Selain menampilkan keunikan kupat landan dan tahu Kiringan, festival ini juga akan mengangkat kembali Tari Aplang, tarian tradisional khas Kabupaten Banjarnegara bagian barat, khususnya di desa kami," katanya, Minggu (26/4/2026).
Tarian ini dahulu kerap ditampilkan dalam berbagai kegiatan masyarakat, namun kini keberadaannya kian jarang dijumpai.
Di tengah derasnya arus teknologi dan budaya digital, Tari Aplang perlahan mulai ditinggalkan.
"Generasi muda saat lebih akrab dengan hiburan modern membuat kesenian tradisional, seperti tari Aplang mulai ditinggalkan," katanya lagi.
"Untuk mengingatkan kembali jika tarian ini pernah melegenda maka pengunjung yang hadir akan diajak menari Aplang secara kolosal," imbuhnya.
Anggota Komisi A DPRD Jawa Tengah, Zaki Mubarok, menilai festival ini sebagai langkah positif dalam melestarikan budaya sekaligus mengangkat potensi UMKM lokal.
“Festival Kupat Landan dan Tahu Kiringan ini menjadi upaya penting dalam menjaga budaya sekaligus mendorong ekonomi masyarakat. Kami mengapresiasi dihidupkannya kembali Tari Aplang dan berharap kegiatan seperti ini terus berlanjut,” ujarnya.(*)
» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA
| Pewarta | : Iwan Setiawan |
| Editor | : Alfiana Putri |
Komentar & Reaksi