SUARA INDONESIA, SURABAYA – Rendahnya tingkat keberhasilan pengendalian gula darah pada pasien diabetes menjadi salah satu penyebab tingginya kasus komplikasi jantung dan ginjal di Indonesia.
Kondisi ini mendorong kalangan medis memperkuat upaya deteksi dini dan edukasi untuk menekan risiko penyakit yang dapat berujung pada kecacatan hingga kematian tersebut.
Pakar Endokrinologi Siloam Hospitals Surabaya, dr. Soebagijo Adi Soelistijo, Sp.PD-KEMD, mengungkapkan bahwa saat ini hanya sekitar 30 persen pasien diabetes yang menjalani pengobatan berhasil mencapai target kendali gula darah yang baik.
Sementara 70 persen lainnya masih berada dalam kondisi yang belum terkontrol secara optimal.
"Artinya, 70 persen sisanya masih buruk. Hal inilah yang menyebabkan angka komplikasi kardiorenal atau komplikasi pada jantung dan ginjal di Indonesia sangat tinggi," ujar dr. Soebagijo, Sabtu (20/6/2026).
Menurutnya, masalah utama bukan hanya pada pengobatan, tetapi keterlambatan diagnosis juga menjadi soal. Banyak pasien baru mengetahui kondisi diabetesnya setelah mengalami gangguan pada organ vital. Padahal, pemeriksaan rutin dapat membantu mendeteksi risiko komplikasi lebih awal sebelum kerusakan organ menjadi permanen.
Ia menjelaskan, pasien diabetes idealnya menjalani pemeriksaan HbA1c dan skrining fungsi ginjal setiap tiga bulan sekali. Namun dalam praktiknya, keterbatasan regulasi pembiayaan kesehatan membuat sebagian pemeriksaan tersebut baru dapat diakses melalui fasilitas BPJS setiap enam bulan sekali.
"Gula darah yang tidak terkontrol akan merusak pembuluh darah kecil maupun besar. Organ yang paling rentan terdampak adalah ginjal dan jantung karena kerusakan terjadi secara perlahan tanpa gejala yang jelas pada tahap awal," ungkap dr. Soebagijo.
Untuk memperkuat penanganan diabetes dan komplikasinya, Daewoong Pharmaceutical Indonesia menjajaki kerja sama strategis dengan Siloam Hospitals Surabaya.
Kolaborasi tersebut tidak hanya berfokus pada penyediaan terapi farmasi, tetapi juga pengembangan teknologi kesehatan serta edukasi masyarakat mengenai bahaya komplikasi diabetes.
Direktur Siloam Hospitals Surabaya, dr. Maria Magdalena Padmidewi, mengatakan kerja sama tersebut berpotensi memperluas akses terhadap inovasi kesehatan bagi pasien.
"Di Korea Selatan, Daewoong memiliki berbagai teknologi kesehatan, termasuk teknologi ring jantung dan Negative Pressure Wound Therapy (NPWT) yang dapat membantu mempercepat penyembuhan luka pada pasien diabetes," katanya.
Sementara itu, Medical Affairs Daewoong Pharmaceutical Indonesia, dr. Haritsah, menegaskan bahwa edukasi masyarakat menjadi salah satu fokus utama perusahaan.
Menurutnya, peningkatan kesadaran mengenai pentingnya deteksi dini dan pengelolaan diabetes harus dilakukan secara masif agar angka komplikasi kardiorenal dapat ditekan. (*)
» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA
| Pewarta | : Dona Pramudya |
| Editor | : Alfiana Putri |
Komentar & Reaksi