SUARA INDONESIA

SMAN 1 Tanggul Bergejolak, Guru Bikin Petisi Desak Kepala Sekolah Dicopot

Fathur Rozi - 30 November 2025 | 18:11 - Dibaca 1.18k kali
Pendidikan SMAN 1 Tanggul Bergejolak, Guru Bikin Petisi Desak Kepala Sekolah Dicopot
SMAN 1 Tanggul di Kabupaten Jember, Jawa Timur. (Foto: Istimewa)

SUARA INDONESIA, JEMBER - Ketegangan internal memuncak di SMA Negeri 1 Tanggul, Kabupaten Jember, Jawa Timur. Puluhan guru dan karyawan menggalang petisi yang mendesak pencopotan Kepala Sekolah Martha Mila Sugesti.

Petisi yang disusun pada 27 November 2025 itu memuat berbagai tuduhan atas gaya kepemimpinan yang dianggap menciptakan iklim kerja tidak sehat. Berdasarkan informasi yang diterima Suara Indonesia, sebanyak 54 guru dan karyawan telah menandatangani petisi tersebut sebagai bentuk protes resmi.

Dalam petisi itu, para guru menyebut kepala sekolah diduga kerap melakukan intimidasi dengan menggunakan bahasa bernada ancaman dan ucapan kasar. Mereka juga mengaku sering mendapat tekanan psikologis tanpa alasan jelas, termasuk ancaman mutasi yang dinilai tidak berdasar.

Selain itu, beban kerja disebut sering dibagikan tanpa mempertimbangkan tugas pokok dan fungsi maupun jabatan. Pelaksanaannya bahkan dinilai tidak memedulikan aspek kemanusiaan.

Petisi tersebut juga memuat dugaan lebih serius, yakni keterlibatan guru dan karyawan dalam urusan pribadi kepala sekolah, termasuk perintah untuk membersihkan rumah pribadinya.

Para guru juga menuding adanya praktik kolusi, korupsi, dan nepotisme dalam proses penerimaan karyawan. Salah satunya melalui dugaan pemalsuan tanda tangan yang diberlakukan surut demi kepentingan keluarga kepala sekolah.

Mereka turut mengeluhkan perlakuan tidak menyenangkan, seperti dimarahi di depan umum tanpa penjelasan maupun bukti yang terang. Selain itu, beberapa program sekolah disebut tidak dijalankan sesuai dokumen perencanaan yang telah disusun.

Salah seorang guru di sekolah setempat menegaskan, hampir semua guru dan karyawan sepakat meminta Martha dicopot dari jabatannya. Dari seluruh guru yang ada, hanya satu yang tidak menandatangani petisi pencopotan karena sedang sakit. Sementara itu, sebagian besar karyawan juga mendukung tuntutan tersebut.

Kekompakan guru dan karyawan, ujarnya, muncul karena gaya kepemimpinan kepala sekolah selama ini dianggap menimbulkan keresahan dan mengganggu kenyamanan kerja.

“Semua guru sudah tanda tangan dan sepakat meminta Kacabdin Wilayah Jember serta Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur mengambil tindakan tegas,” ujarnya, Sabtu (29/11/2025).

Menurut dia, banyak kebijakan sekolah dibuat tanpa komunikasi dan kerap berubah-ubah sehingga menyulitkan proses pembelajaran. Ia mengatakan, pola kepemimpinan semacam ini membuat guru kesulitan bekerja dan mengganggu kenyamanan seluruh tenaga pendidik.

“Bu Martha ini memang dikenal sosok kontroversial. Saat menjadi kepala di SMAN 1 Situbondo, beliau juga pernah didemo pada 2024 lalu karena siswa tidak puas dengan kepemimpinannya,” ungkapnya.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala SMA Negeri 1 Tanggul Martha Mila Sugesti membantah tudingan dalam petisi tersebut. Ia beralasan, semua kebijakan yang ia keluarkan sudah melalui musyawarah dengan semua stakeholder. Ia juga mengaku belum mengetahui atau menerima petisi itu.

“Saat ini SMA Negeri 1 Tanggul sering meraih prestasi, baik di tingkat provinsi maupun nasional. Tudingan dalam petisi tersebut merupakan fitnah untuk menjatuhkan nama sekolah. Tidak benar dan tidak berdasar,” elaknya.

Terkait tuduhan sebagai pemimpin arogan, Martha juga membantah. Ia mengaku hanya ingin menerapkan disiplin di lingkungan sekolah, baik kepada siswa maupun guru. Ia menduga, tudingan sikap arogan muncul karena dirinya memberikan peringatan kepada guru yang datang terlambat.

“Jika siswa yang datang terlambat saja mendapat teguran, masak guru tidak. Apakah menegur guru yang terlambat termasuk sikap arogan? Saya juga tidak pernah mengancam. Saya hanya mengajak ayo bekerja sesuai tugas dan fungsi, laksanakan dengan baik,” ujarnya.

Meski demikian, mengenai isu praktik nepotisme, Martha tidak menepis seluruh kabar itu. Ia mengakui ada salah satu kerabatnya yang diterima sebagai karyawan ketika ia menjabat kepala sekolah. Namun, mantan Kepala SMAN 1 Situbondo ini beralasan, penerimaan itu bukan karena hubungan kekeluargaan, melainkan karena kompetensi.

“Saat itu sekolah butuh tiga satpam. Pelamarnya ada tiga atau empat orang. Dari tiga orang yang kami terima itu, salah satunya memang saudara. Dia punya sertifikat, sedangkan dua lainnya tidak punya. Jadi murni karena kompetensi,” dalihnya.

Lebih lanjut, Martha mengaku akan melakukan evaluasi internal secara menyeluruh dengan melibatkan tim manajemen, wakil kepala sekolah, dan tim pengembang untuk mendalami isu ini, apakah benar berasal dari aspirasi murni atau ada kepentingan tertentu.

Sementara itu, terkait tuntutan pencopotan, Martha memasrahkan hal itu kepada atasannya. “Saya bekerja kepada negara, tunduk dan patuh pada pimpinan. Saya percaya pimpinan akan bijak dan mengambil keputusan terbaik,” pungkasnya. (*)

» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA

Pewarta : Fathur Rozi
Editor : Mahrus Sholih

Share:

Komentar & Reaksi

Berita Terbaru Lainnya

Featured SIN TV