SUARA INDONESIA

Menteri PPPA dan Bupati Banjarnegara Kompak Suarakan Pesantren Ramah Anak

Iwan Setiawan - 10 May 2026 | 21:05 - Dibaca 227 kali
Pendidikan Menteri PPPA dan Bupati Banjarnegara Kompak Suarakan Pesantren Ramah Anak
Menteri PPPA dan Bupati Banjarnegara kompak suarakan pesantren ramah anak. (Foto: Iwan/Suara Indonesia)

SUARA INDONESIA BANJARNEGARA - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Choiri Fauzi mengajak seluruh pengasuh pondok pesantren untuk bersama-sama menciptakan lingkungan pesantren yang aman, ramah anak, bebas dari kekerasan, serta menjunjung tinggi nilai pendidikan dan kasih sayang.

Ajakan tersebut disampaikan saat membuka Halaqah Interaktif Pengasuh Pesantren Putri se-Jawa Tengah dan Pelatihan Musyrifah se-Karesidenan Banyumas di Pendapa Dipayudha Adigraha, Minggu (10/5/2026).

Menurut Arifah, santri menghabiskan waktu selama 24 jam di lingkungan pesantren sehingga pengasuh memiliki tanggung jawab besar memastikan para santri tumbuh dalam suasana yang sehat, aman, dan penuh perhatian.

Ia menegaskan, terdapat empat aspek penting dalam perlindungan santri, yakni keamanan fisik, perlindungan kehormatan dan martabat, kenyamanan emosional dari perundungan atau bullying, serta terciptanya lingkungan belajar yang nyaman dan mendukung perkembangan santri.

“Santri harus terlindungi secara fisik, terjaga kehormatannya, bebas dari tekanan psikis akibat bullying, dan mendapatkan ruang belajar yang nyaman agar dapat tumbuh menjadi generasi unggul,” ujarnya.

Kegiatan yang diprakarsai Rabithah Ma’ahid Islamiyah PWNU Jawa Tengah itu diikuti sekitar 350 peserta, terdiri dari 250 pengasuh pesantren putri se-Jawa Tengah dan 100 musyrifah dari wilayah Karesidenan Banyumas.

 Forum tersebut mengusung tema “Dari Pesantren untuk Pesantren: Membangun Sistem Perlindungan Santri Berbasis Nilai Pesantren di Jawa Tengah.”

Ketua RMI PWNU Jawa Tengah, Ahmad Fadlullah Turmudzi mengatakan, halaqah ini menjadi langkah nyata memperkuat sistem perlindungan santri dari lingkungan internal pesantren.

Menurutnya, pengasuh pesantren putri memiliki peran strategis sebagai penjaga marwah pesantren sekaligus penyusun sistem pendidikan yang berlandaskan kasih sayang dan keadilan.

Sementara itu, Bupati Banjarnegara Amalia Desiana menyampaikan apresiasi atas dipilihnya Banjarnegara sebagai tuan rumah kegiatan tersebut.

"Pesantren memiliki kontribusi besar dalam membentuk karakter generasi bangsa, sehingga menciptakan lingkungan pesantren yang aman dan ramah anak menjadi investasi penting bagi masa depan," ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan berbagai materi, mulai dari implementasi Peraturan Menteri Agama Nomor 73 Tahun 2022 tentang Pesantren Ramah Anak, pemahaman Undang-Undang Perlindungan Anak, pencegahan kekerasan seksual, hingga pelatihan konseling dasar dan deteksi dini persoalan psikologis santri.

Forum juga menghadirkan narasumber dari kalangan pengasuh pesantren, advokat perlindungan anak, serta akademisi psikologi guna memperkuat kapasitas musyrifah dalam mendampingi santri secara profesional.

Di akhir kegiatan, para peserta merumuskan rekomendasi kebijakan sekaligus mendeklarasikan komitmen bersama pembentukan Satuan Tugas Perlindungan Santri di masing-masing pesantren sebagai langkah nyata mewujudkan pesantren ramah anak dan perempuan di Jawa Tengah.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin, jajaran pengurus NU Jawa Tengah, serta sejumlah tokoh perempuan dari berbagai kabupaten. (*)

» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA

Pewarta : Iwan Setiawan
Editor : Alfiana Putri

Share:

Komentar & Reaksi

Berita Terbaru Lainnya

Featured SIN TV