SUARA INDONESIA, TTU - Keluarga Yohanes Naiheli (30), warga Desa Fatuoin, Kecamatan Insana, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), mempertanyakan penyebab luka berat yang dialami korban setelah peristiwa yang terjadi di Ekavalo, Desa Oinbit, pada Januari 2026 lalu.
Pihak Keluarga menilai kondisi korban dan kerusakan sepeda motor yang digunakan Yohanes tidak menunjukkan ciri-ciri umum kecelakaan lalu lintas.
Lusia Bimanu yang adalah istri korban, mengungkapkan sejumlah kejanggalan dimana Saat memberikan keterangan, Lusia didampingi kedua mertuanya serta suaminya yang masih menjalani pemulihan, serta ibu kandungnya.
Menurut Lusia, Yohanes mengalami cedera yang sangat serius. Selain harus menjalani operasi di bagian kepala, korban juga mengalami patah tulang pada bagian tangan kiri.
"yang patah itu di tangan sebelah kiri, mulai dari pergelangan tangan, lengan, bahu sampai tulang bagian belakang lengan, bagian kepala juga ada luka yang harus dioperasi," ungkapnya.
Lusia mengaku merasa heran ketika pertama kali melihat kondisi suaminya di dalam klinik setelah peristiwa tersebut, Ia menilai sejumlah luka yang dialami korban tidak masuk akal jika dikaitkan dengan kecelakaan tunggal.
"Pagi hari, tanggal 14 Januari saya langsung ikut suami ke Klinik Kiupukan setelah mendapat informasi bahwa dia ditemukan warga di bawah Jembatan Kuning Besnaen. Saat melihat kondisinya, hidung, mulut dan matanya bengkak. Warnanya merah dan biru semua," bebernya.
Menurutnya, kondisi tersebut menimbulkan tanda tanya besar bagi keluarga. Sebab, pakaian yang dikenakan korban saat ditemukan tidak menunjukkan bekas gesekan yang lazim terjadi pada korban kecelakaan lalu lintas.
"Kalau dibilang suami saya kecelakaan, bagi kami sangat janggal. Karena pakaian yang dia pakai tidak ada lecet sama sekali. Baju dan celananya tidak ada robekan atau bekas gesekan karena celaka," ujarnya.
Lusia menjelaskan bahwa, luka yang terlihat hanya berada pada bagian tertentu, yakni kepala, wajah, dan tangan kiri. "Yang kelihatan luka itu hanya di dahi, mata bengkak, bibir robek, kepala luka dan tangan kiri yang patah sehingga tidak bisa digerakkan," tuturnya
Meski demikian, pihak Kepolisian masih terus mengintensifkan penyelidikan kasus dugaan penganiayaan brutal terhadap korban.
Penyidik masih terus melakukan pemeriksaan saksi guna mengungkap fakta, termasuk mengidentifikasi aktor intelektual maupun para pelaku yang terlibat dalam peristiwa tersebut.
Hal tersebut disampaikan oleh Kapolres TTU AKBP Eliana Papote melalui Kasi Humas AKP Anselmus Pera, pada Kamis (18/6/2026).
Ia mengatakan, penyidik sudah melakukan pemeriksaan terhadap dua orang saksi termasuk saksi korban. Namun berdasarkan kondisi awal saat korban ditemukan, peristiwa tersebut juga masih memiliki kemungkinan berkaitan dengan kecelakaan lalu lintas.
Oleh karena itu, Satlantas Polres TTU bersama fungsi terkait saat ini masih melakukan penyelidikan dan pendalaman guna memastikan kronologi serta penyebab sebenarnya dari kejadian tersebut.
"Saat ini belum dapat disimpulkan apakah peristiwa tersebut merupakan tindak pidana penganiayaan, kecelakaan lalu lintas, atau kemungkinan lainnya," ujar AKP Anselmus Pera.
"Semua keterangan, termasuk keterangan korban, saksi, hasil pemeriksaan medis, dan temuan di lokasi kejadian masih dalam proses verifikasi oleh penyidik," pungkasnya. (*)
» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA
| Pewarta | : Rolandus Tahoni |
| Editor | : Alfiana Putri |
Komentar & Reaksi