SUARA INDONESIA, GRESIK –Petrokimia Gresik terus memperkuat konsep Green Port pada Terminal Untuk Pelabuhan Sendiri (TUKS). Penerapan konsep pelabuhan hijau ini membuat perusahaan lebih menghemat biaya distribusi logistik pupuk bersubsidi ke berbagai daerah di Indonesia bahkan ke mancanegara.
Penerapan konsep Green Port di Pelabuhan Petrokimia Gresik ini menjadikan proses distribusi lebih efektif, efisien, dan ramah lingkungan. Sehingga semakin mengoptimalkan Cost Reduction Program yang telah dijalankan perusahaan, serta menghemat proses bongkar muat sebesar Rp37 miliar dalam setahun, dan biaya konsumsi energi di pelabuhan sebesar Rp1,6 miliar.
Direktur Utama Petrokimia Gresik Dwi Satriyo Annurogo menjelaskan, optimalisasi penerapan Green Port berdampak pada kelancaran distribusi pupuk bersubsidi. Mengingat tanggung jawab penyaluran pupuk bersubsidi yang diamanahkan kepada Petrokimia Gresik tidak hanya di Pulau Jawa, tetapi juga antarpulau yang membutuhkan transportasi laut.
"Selain itu, aktivitas di Pelabuhan Petrokimia Gresik tidak hanya sebatas antarpulau, tapi juga antarnegara. Mengingat sebagian besar bahan baku masih diperoleh dari negara lain. Karena itu Green Port sudah menjadi kebutuhan bagi Petrokimia Gresik sebagai salah satu instrumen untuk mendukung swasembada pangan nasional," kata Dwi Satriyo.
Keberhasilan penerapan Green Port, lanjut Dwi Satyo, juga menjadikan Pelabuhan Petrokimia Gresik meraih sejumlah penghargaan bergengsi ari stakeholder.
“Tahun 2022 Pelabuhan Petrokimia Gresik mendapat penghargaan Green Port Terbaik Se-Indonesia. Kemudian di tahun 2023, menjadi pelabuhan pertama di Indonesia yang mendapatkan Green Port Award System (GPAS) dari APEC Port Service Network (APSN),” terang dia.
Menurutnya, penerapan Green Port juga mendukung perolehan Proper Emas yang merupakan penghargaan tertinggi dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) selama empat tahun berturut-turut.
"Pencapaian ini menjadi bukti jika transformasi menuju pelabuhan ramah lingkungan dapat berjalan seiring dengan peningkatan efisiensi dan produktivitas," tandasnya.
Adapun konsep Green Port dijalankan Petrokimia Gresik dengan mengembangkan ekosistem digital yang komprehensif. Beberapa sistem digital yang diterapkan di Pelabuhan Petrokimia Gresik yaitu Petroport yang memiliki fungsi pengawasan, pencatatan, pelaporan dan penentu rekomendasi keputusan secara digital.
Kemudian di Pelabuhan Petrokimia Gresik juga diaplikasikan Petrostar (aplikasi kepegawaian), POIN atau Port Income untuk mencatat pendapatan pelabuhan, E-Posh untuk mendukung manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), AI CCTV yang mengawasi personil terhadap penggunaan Alat Pelindung Diri (APD), serta Promize yang memiliki fungsi monitoring dan pengendalian project jasa pihak ketiga.
Pelabuhan Petrokimia Gresik dalam konsep Green Port juga menjalankan program dekarbonisasi. Diantaranya penggunaan kendaraan listrik untuk operasional, penggunaan solarcell, penggantian bahan bakar batubara menjadi natural gas, dan lainnya.
Petrokimia Gresik juga banyak melakukan pengelolaan lingkungan di sekitar pelabuhan. Seperti membangun fasilitas pengolahan sampah yang mampu mengolah sampah plastik menjadi paving block, limbah organik menjadi kompos untuk mengurangi pencemaran lingkungan, konservasi mangrove, dan masih banyak lagi.
Konsep Green Port juga diimplementasikan melalui peningkatan kualitas kebersihan daratan dan perairan kolam daerah lingkungan kerja dengan cara menurunkan pencemaran limbah cair, sampah domestik dan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). Sedangkan, kualitas udara dijaga dengan mengurangi kebisingan, emisi gas karbon dan emisi gas rumah kaca.
“Dengan demikian Penerapan Green Port juga mampu melindungi lingkungan sekitar perusahaan agar tidak tercemar oleh proses kepelabuhanan, sehingga dapat meningkatkan pemberdayaan masyarakat sekitar perusahaan melalui pemanfaatan sumber daya alam,” tutup Dwi Satriyo. (*)
» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA
| Pewarta | : Rifki Ahmad |
| Editor | : Mahrus Sholih |
Komentar & Reaksi