SUARA INDONESIA

Semangat Jenni, Srikandi Penjinak Api dari Pemalang: Pantang Pulang Sebelum Padam

Ragil Surono - 21 October 2025 | 23:10 - Dibaca 852 kali
Features Semangat Jenni, Srikandi Penjinak Api dari Pemalang: Pantang Pulang Sebelum Padam
Jenni Liliana, saat bertugas memadamkan api pada peristiwa kebakaran rumah di Desa/Kecamatan Belik, Pemalang, Jawa Tengah. (Foto:Ragil/Suara Indonesia)

SUARA INDONESIA, PEMALANG - Saat sebagian besar perempuan seusianya memilih berkarier di balik meja kantor, gadis muda di Kota Pemalang ini justru menantang bahaya di tengah kobaran api.

Dia adalah Jenni Liliana (19), srikandi pemadam kebakaran yang menjadi garda terdepan Dinas Pemadam Kebakaran Kota Pemalang, pos Kecamatan Belik, wilayah selatan kabupaten. Selain Jenni, ada dua perempuan muda lainnya, Triana Sari (22) dan Arita Andamari (20), yang juga menjadi srikandi penjinak api.

Di rumahnya di kawasan Kemangkon, Purbalingga, Jenni tampak seperti gadis biasa. Ia membantu ibunya memasak dan membersihkan rumah, dengan rambut terurai dan senyum yang hangat.

Namun, penampilan itu seketika berubah saat ia mengenakan seragam biru pemadam kebakaran, lengkap dengan helm dan sepatu lapangan. Dari gadis rumahan, ia menjelma menjadi penakluk api yang tak gentar panas dan asap.

“Saya bergabung di Damkar Kota Pemalang belum sampai satu tahun, lewat jalur CPNS,” tutur Jenni, Selasa (21/10), mengenang awal perjalanannya sebagai petugas pemadam.

Anak kedua dari pasangan Harry Mukti Wibowo dan Admiati itu tidak pernah menyangka dirinya akan menempuh jalan profesi berisiko tinggi ini.

Sebelumnya, ia sempat menempuh studi di jurusan Pendidikan Matematika Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Namun, ketika pengumuman penerimaan CPNS 2024 keluar, Jenni memilih jalur baru: menjadi petugas damkar.

“Saya keluar saat semester empat karena diterima di formasi Damkar CPNS tahun lalu,” ujarnya sambil tersenyum.

Menjadi satu-satunya perempuan di tengah tim lapangan tentu bukan hal mudah. Panas, asap, dan risiko cedera selalu mengintai. Namun bagi Jenni, semua itu sebanding dengan rasa bangga saat berhasil membantu sesama. 

“Bangga bisa menjadi bagian dari pelayan masyarakat, berinteraksi langsung untuk membantu dan menyelamatkan nyawa,” katanya.

Ia menambahkan, semboyan yang dipegangnya sederhana namun dalam maknanya. Khoirunnas anfauhum linnas, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya.

“Lewat damkar, saya menemukan ruang untuk bermanfaat. Saya juga mendapat banyak pengalaman baru dan teman-teman yang saling mendukung,” ujarnya.

Meski penuh risiko, Jenni tak pernah menyesal. Setiap panggilan darurat menjadi tantangan baru, dan setiap api yang berhasil dipadamkan menjadi kepuasan tersendiri.

“Dukanya saya kemas sebagai tantangan. Risiko tinggi itu selalu ada, tapi semua terbayar saat penanganan berjalan lancar dan berhasil,” katanya dengan mata berbinar.

Kini, hampir setahun berseragam biru, Jenni semakin mantap menekuni profesinya. Bagi dia, menjadi pemadam kebakaran bukan sekadar pekerjaan, tapi panggilan jiwa.

“Kalau disuruh pilih profesi lain, saya tetap pilih damkar. Karena setiap hari kita bertemu orang berbeda, dan ada rasa bahagia tersendiri kalau bisa menolong mereka,” tutupnya dengan senyum penuh keyakinan. (*)

» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA

Pewarta : Ragil Surono
Editor : Mahrus Sholih

Share:

Komentar & Reaksi

Berita Terbaru Lainnya

Featured SIN TV