SUARA INDONESIA, JEMBER- Kampanyekan 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (16HAKTP), Achmad Supandi, pelukis asal Jember membuat gambar ilustrasi seorang perempuan tangguh melalui coretan pensilnya.
Perempuan dalam lukisan itu, ia gambarkan dengan kedua tangan yang terangkat seolah menunjukkan otot lengannya, yang memiliki arti bahwa perempuan sangatlah berdaya.
"Contohnya perempuan lebih kuat saat ditinggal oleh pasangannya ketimbang laki-laki. Meski itu tidak secara global," terangnya seusai melukis dalam acara Kampanye 16HAKTP di Universitas Jember, Kecamatan Sumbersari, Jember, Jawa Timur.
Selain itu, kedua tangan perempuan dalam gambar tersebut, memegang sebuah benda, yang pertama Bunga Mawar yang berada di tangan kanan. Sedangkan tangan kirinya memegang Buku.
Dirinya mengatakan, bahwa bunga yang berada di tangan kanan sang perempuan memiliki makna sebagai sumber kasih sayang. Sedangkan buku yang berada di tangan kiri artinya adalah pengetahuan.
"Artinya, buku tersebut menggambarkan bahwa seorang perempuan harus memiliki bekal pengetahuan yang cukup. Karena selama ini yang dihadapi perempuan, konotasinya adalah terbelakang. Dan itu yang perlu dihilangkan," ucapnya.
Ia juga menggambarkan wanita tersebut bersinar, seolah iya adalah matahari. Menurutnya, wanita memang seperti sang surya yang senantiasa memberikan rasa semangat.
Tak lupa, Pandi juga menggambar sebuah daun Kalpataru dengan maksud bahwa daun tersebut merupakan simbol kehidupan. Selain itu, baju yang dikenakan perempuan dalam gambarnya bertuliskan Stop Violence. "Artinya hentikan kekerasan," terangnya.
Baginya, dalam dunia seni, perempuan telah banyak memberikan inspirasi, seperti halnya yang dilakukan oleh para pelukis- pelukis Eropa, dan hal itu bukan bermaksud untuk melakukan eksploitasi, tapi hanya sebagai inspirasi seni.
"Seperti halnya lukisan Monalisa karya Leonardo dan Vinci. Dimana lukisan tersebut menggambarkan seorang perempuan cantik dengan senyumnya yang misterius," pungkasnya. (*)
» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA
| Pewarta | : Fathur Rozi |
| Editor | : Mahrus Sholih |
Komentar & Reaksi