SUARA INDONESIA

Tingkatkan Kapasitas, Wabup Folres Timur Lepas Puluhan Petani ke NTT untuk Studi Banding

Martinus Paru Liwu - 08 June 2026 | 17:06 - Dibaca 162 kali
News Tingkatkan Kapasitas, Wabup Folres Timur Lepas Puluhan Petani ke NTT untuk Studi Banding
Sebanyak 90 petani Flores Timur dilepas menuju Kabupaten TTS untuk belajar pertanian. (Foto:Marten/Suara Indonesia.co.id)

SUARA INDONESIA, FLORES TIMUR- Pemerintah Kabupaten Flores Timur mengirim 90 petani untuk belajar praktik pertanian di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur. Para peserta dilepas Wakil Bupati Ignas Boli Uran pada Senin (8/6/2026).

Dalam pelepasan itu, Ignas menegaskan kegiatan tersebut bukan perjalanan wisata, melainkan sarana belajar untuk meningkatkan kualitas pertanian di Flores Timur.

Ignas meminta para petani tidak terpengaruh oleh berbagai komentar negatif yang muncul terkait pelaksanaan studi banding tersebut.

“Saudara-saudara jangan pedulikan komentar orang. Ada yang bilang ini hanya menghabiskan anggaran. Justru studi banding ini adalah cara kita menyiapkan masa depan pertanian Flores Timur,” tegasnya.

Menurut Ignas, studi banding merupakan bagian dari upaya pemerintah meningkatkan kapasitas petani melalui pembelajaran langsung di lapangan. Karena itu, para petani berhak memperoleh kesempatan belajar sebagaimana aparatur pemerintah yang selama ini mengikuti berbagai pelatihan dan bimbingan teknis.

“Kalau pejabat bisa ikut pelatihan dengan anggaran negara, kenapa petani tidak? Mereka justru lebih membutuhkan ilmu praktis untuk mengelola lahan. Jadi jangan salah paham, ini bukan wisata,” ujarnya.

Sebanyak 90 peserta mengikuti kegiatan tersebut. Dari jumlah itu, 80 orang merupakan petani yang difasilitasi Pemerintah Kabupaten Flores Timur, sedangkan 10 peserta lainnya berasal dari Yayasan Karitas.

Ignas menjelaskan pembiayaan kegiatan berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Flores Timur serta dukungan sejumlah lembaga mitra, antara lain Bappenas, BPR, Yayasan Plan di Soe, Keuskupan Larantuka, Yayasan Gema Indonesia Sejahtera, dan Yayasan Krisna.

“Ini adalah bentuk kolaborasi. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Semua pihak yang peduli terhadap kepentingan petani kita libatkan untuk mendukung kegiatan ini,” katanya.

Ia menilai pola pembiayaan alternatif penting dilakukan agar program pemberdayaan petani tidak sepenuhnya bergantung pada APBD.

“Kalau kita membangun rumah, uang tidak boleh dicuri. Begitu juga dengan program ini, kita cari sumber dari luar yang peduli terhadap kepentingan petani,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Ignas mengingatkan peserta agar memanfaatkan studi banding untuk belajar dan membawa pulang pengetahuan baru yang bisa diterapkan di daerah masing-masing.

“Saudara-saudara pergi ke Soe bukan untuk berwisata. Pergilah dengan tujuan utama untuk belajar. Pulang nanti harus membawa ilmu baru untuk diterapkan di tanah sendiri,” pesannya.

Ignas juga menyoroti masih banyaknya lahan tidur di Flores Timur yang belum dimanfaatkan secara optimal. Ia berharap para petani dapat mempelajari praktik-praktik pertanian yang berhasil diterapkan di daerah lain dan menerapkannya di wilayah masing-masing.

“Tujuan utama adalah merubah pola pikir. Jangan biarkan lahan kosong. Belajar dari daerah lain yang mungkin secara ekonomi lebih miskin, tetapi praktik pertaniannya lebih maju. Kita harus rendah hati untuk belajar dari mereka,” katanya.

Pemerintah Kabupaten Flores Timur berharap studi banding tersebut memberikan dampak nyata terhadap peningkatan produktivitas pertanian.

Melalui pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama kegiatan, para petani diharapkan mampu mengelola lahan secara lebih efektif, meningkatkan hasil produksi, serta memperkuat ketahanan pangan daerah. (*)

» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA

Pewarta : Martinus Paru Liwu
Editor : Alfiana Putri

Share:

Komentar & Reaksi

Berita Terbaru Lainnya

Featured SIN TV