SUARA INDONESIA

Poliwangi Kenalkan Pembelajaran Sains Berbasis Augmented Reality untuk Siswa Berkebutuhan Khusus

Muhammad Nurul Yaqin - 08 September 2022 | 20:09 - Dibaca 1.71k kali
Pendidikan Poliwangi Kenalkan Pembelajaran Sains Berbasis Augmented Reality untuk Siswa Berkebutuhan Khusus
Dosen Poliwangi kenalkan pembelajaran sains berbasis augmented reality untuk siswa berkebutuhan khusus di SMP Negeri 1 Giri. (Istimewa).

BANYUWANGI - Politeknik Negeri Banyuwangi (Poliwangi) mengenalkan aplikasi android berbasis augmented reality dan beberapa paket modul cetak kepada siswa berkebutuhan khusus.

Sasaran kali ini di SMP Negeri 1 Giri. Sekolah tersebut merupakan salah satu satuan pendidikan lanjut tingkat pertama yang ditunjuk untuk menyelenggarakan pendidikan inklusif. Saat ini SMPN 1 Giri memiliki 24 rombongan belajar dengan 12 siswa inklusif di dalamnya. 

Dosen terbaik Poliwangi yang terdiri dari Arum Andary Ratri, Ruth Ema Febrita, dan Indira Nuansa Ratri, melalui program pengabdian memberikan kesempatan pada siswa berkebutuhan khusus.

Selama tiga hari mereka melakukan uji coba pembelajaran menggunakan modul yang telah disusun dan terintegrasi dengan aplikasi android berbasis augmented reality.

"Augmented reality adalah teknologi yang menggabungkan secara real-time antara digital konten yang dibuat oleh komputer dengan dunia nyata. Augmented reality memperbolehkan pengguna melihat objek maya 2D atau 3D yang diproyeksikan terhadap dunia nyata," kata salah satu Dosen Poliwangi, Indira, Kamis (8/9/2022).

Indira menyampaikan, berdasarkan keterangan Wakil Kepala Bagian Kurikulum dan Koordinator Guru Anak Berkebutuhan Khusus (GBK) di sana, jenis kelainan siswa inklusif yang saat ini ada di SMPN 1 Giri antara lain tuna rungu, tuna daksa, autis, dan lamban belajar.

Dalam pengembangan media pembelajaran sains berbasis augmented reality ini, siswa berkebutuhan khusus diberi kesempatan untuk mengikuti pembelajaran di kelas secara mandiri, bersama dengan siswa lainnya tanpa didampingi oleh shadow. 

"Total ada 102 peserta yang terbagi menjadi 3 kelas, didalamnya sudah ada siswa berkebutuhan khusus dan tidak. Mereka merupakan siswa-siswi kelas 9 SMP Negeri 1 Giri," kata Indira.

Indira menjelaskan, shadow pada umumnya merupakan seorang ahli penanganan anak berkebutuhan khusus, yang bertugas mendampingi seorang siswa inklusif dalam menerima pembelajaran dengan lebih maksimal dan disesuaikan dengan cara belajar siswa inklusif.

"Sebagai solusi atas penjelasan berulang yang harus dilakukan oleh seorang guru, maka dapat dibuat suatu media pembelajaran. Sehingga dapat dipelajari kembali oleh masing-masing siswa inklusif, yang nantinya dapat disesuaikan dengan jenis kebutuhan khusus siswa," urainya.

Di SMPN 1 Giri, lanjut Indira, mayoritas siswa berkebutuhan khusus termasuk dalam kategori slow learner (lamban belajar). Media pembelajaran yang dibuat harus semenarik mungkin, sehingga siswa slow learner dapat tertarik untuk belajar, dan mudah dipahami secara penjelasan. 

"Oleh karena itu, dalam kegiatan pengabdian ini diusulkan sebuah media pembelajaran berbasis augmented reality. Sehingga harapannya bisa diterapkan di sekolah tersebut dan bermanfaat untuk siswa berkebutuhan khusus," pungkasnya.

» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA

Pewarta : Muhammad Nurul Yaqin
Editor : Bahrullah

Share:

Komentar & Reaksi

Berita Terbaru Lainnya

Featured SIN TV