SUARA INDONESIA, SURABAYA – Kerja sama Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dengan Confucius Institute Central China Normal University (CCNU) memasuki fase baru. Bukan lagi sekadar program bahasa, kemitraan yang telah berjalan 15 tahun ini mulai diarahkan menjadi mesin pencetak sumber daya manusia (SDM) berdaya saing global, terutama dalam penguasaan bahasa Mandarin.
Penegasan itu mengemuka dalam rapat bersama di Gedung Rektorat CCNU, Tiongkok, Jumat (17/4/2026). Forum tersebut tidak hanya menjadi ajang evaluasi, tetapi juga titik balik pergeseran strategi dari pendekatan seremonial ke penguatan dampak nyata bagi kebutuhan pasar kerja.
Rektor Unesa, Nurhasan (Cak Hasan), menegaskan bahwa Confucius Institute kini telah melampaui fungsi awal sebagai pusat pembelajaran bahasa. Dalam setahun terakhir, lembaga ini berkembang menjadi simpul kolaborasi akademik, pertukaran budaya, hingga penyelenggara sertifikasi internasional seperti HSK.
“Ini bukan lagi soal belajar bahasa semata. Kita sedang membangun ekosistem kolaborasi global yang memberi dampak langsung, khususnya bagi masyarakat Jawa Timur,” ujarnya.
Data aktivitas menunjukkan tren peningkatan. Program pembelajaran bahasa Mandarin meluas ke berbagai institusi, festival budaya makin rutin digelar, dan sertifikasi internasional semakin diminati. Indikasinya jelas: kebutuhan tenaga kerja dengan kompetensi Mandarin terus meningkat.
Namun, Unesa tidak berhenti di situ. Ke depan, kampus ini mendorong perluasan kerja sama lintas bidang, memanfaatkan keunggulan akademik CCNU di berbagai sektor.
“Kolaborasi harus lebih konkret. Tidak hanya bahasa, tapi juga bidang strategis lain yang bisa meningkatkan daya saing lulusan,” tegas Cak Hasan.
Dari pihak CCNU, Wakil Rektor Wu Tong menyebut tahun 2026 sebagai tonggak penting. Lima fokus utama disiapkan: penguatan pengajaran bahasa, pertukaran budaya, penyelenggaraan HSK, pelatihan guru, serta ekspansi kemitraan.
Salah satu langkah paling signifikan adalah rencana membuka mata kuliah bahasa Mandarin umum lintas disiplin. Artinya, mahasiswa non-bahasa pun akan didorong memiliki kompetensi dasar Mandarin.
Selain itu, pusat pelatihan guru bahasa Mandarin akan dibangun di Jawa Timur dengan basis di Unesa dan dukungan sertifikasi dari Kementerian Pendidikan Indonesia.
“Ini langkah strategis. Tidak hanya meningkatkan kemampuan bahasa, tetapi juga memperkuat pemahaman lintas budaya dan kesiapan kerja lulusan,” ujar Wu Tong.
Direktur Confucius Institute dari pihak Tiongkok, Zhu Li, menambahkan bahwa penguatan infrastruktur juga menjadi prioritas. Tahun ini, pihaknya mengusulkan pembangunan kantor baru serta renovasi ruang kegiatan untuk menunjang aktivitas pembelajaran dan budaya.
Optimalisasi fasilitas kampus juga menjadi strategi agar Confucius Institute tidak berdiri terpisah, melainkan terintegrasi penuh dengan ekosistem akademik.
“Dengan integrasi ini, fasilitas seperti laboratorium bahasa bisa dimanfaatkan bersama, lebih efisien dan berdampak luas,” jelasnya.
Tak hanya itu, isu kesejahteraan tenaga pengajar juga menjadi sorotan. Peningkatan fasilitas akomodasi dan kenyamanan kerja bagi guru, terutama relawan, dinilai krusial untuk menjaga kualitas pengajaran.
Di level struktural, kedua pihak juga membahas kemungkinan reposisi organisasi Confucius Institute agar berada langsung di bawah koordinasi rektor. Langkah ini dinilai penting untuk mempercepat pengambilan keputusan strategis.
Kerja sama Unesa–CCNU kini berada di persimpangan penting. Dengan kebutuhan tenaga kerja berbahasa Mandarin yang terus meningkat, program ini berpotensi menjadi salah satu pilar penguatan SDM Indonesia di kancah global.
Jika sebelumnya Confucius Institute dikenal sebagai pusat bahasa, kini arahnya jelas: menjadi jembatan strategis menuju pasar kerja internasional. (*)
» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA
| Pewarta | : Dona Pramudya |
| Editor | : Mahrus Sholih |
Komentar & Reaksi